Monthly Archives

January 2005

daily living

Sekotak Tissue

January 16, 2005
apa hal yang dilakukan ketika suatu saat kamu harus ‘berpisah’ dengan seseorang yang kamu cintai?

apakah menyiapkan sekotak tissue dimalam hari?
dan…
bangun dengan pemandangan berpuluh-puluh tissue kusut dibawah lantai yang sudah berjasa mengeringkan air mata yang semalam mengalir…
karena kangen pada si ‘dia’ dan terhalang ribuan kilometer untuk bisa mencium nafasnya.

pertanyaan yang sama pernah terlontar.

alhamdulillah sampai sekarang, saya belum pernah bangun dengan pemandangan berpuluh tissue mengering di lantai.
kotak tissue yang ada di kamar juga masih tergolong ‘utuh’ untuk dipakai menangis.

dulu, saya pernah mereject habis-habisan ketika suami saya tercinta merancang skenario ‘terburuk’.
kita harus ‘berpisah’. dia di afrika dan saya di indonesia.

sebagai pasangan yang baru menikah… kontan saya berkomentar… ‘duh, mana tahan ;)’
hehehe.

saat masih berada di afrika saja saya masih sering kangen sama si ganteng itu.
bayangkan, lima hari dalam seminggu… si ganteng ini hampir 12 jam atau lebih berada di kantor.
sampai rumah, masih juga menulis. ketika tidur, saya sering mendapati sisi kanan saya kosong dan ketika mengintip ke ruang tengah, si dia sibuk ‘bermain’ dengan laptopnya… meneruskan menulis.
‘susah tidur jika ide ini masih mengganggu dikepala,’ kata si ganteng.

saya ke dapur, menghangatkan lasagna kesukaannya. menemani di ruang tengah sambil memainkan remote menonton CNN atau serial tv gak penting.

saat weekend… bisa dibilang kami adalah pasangan ekspat yang paling kuper.
kita jarang bersosialisasi karena saya mengerti si dia harus ‘membayar’ masa tidur.
sementara saya tahu, teman-teman sekantornya lebih sering main ke pulau atau memancing.
‘ini namanya opportunity cost.’

akhirnya skenario ‘terburuk’ itu harus terjadi juga.
kami harus ‘berpisah’ selama setahun… terpaksa, mendadak, diluar rencana.
kalau dahulu skenario terburuk itu dirancang karena kami harus berusaha mencari jalan keluar agar bisa mencicil rumah mungil sendiri ketika masa ekspatriat itu selesai… maka, saya harus pulang dan kembali bekerja.

tetapi… skenario terburuk ini terjadi karena kerusuhan yang terjadi di negara yang kami tempati.

semua keadaan memastikan bahwa, saya tidak dapat kembali ke Abidjan.
sementara semua barang kesayangan saya, masih tersusun rapi dilemari kamar kami. malah sebagian masih mengisi kardus besar di kamar depan yang belum sempat saya susun.

berat?
bagi saya sih iya. siapa sih yang tidak merasa demikian saat harus terbatas lautan, jauh dari yang tercinta.

tapi yang terpikir… saya sayang dia.
tidak ingin memberati pikirannya karena saya kangen mencium nafas dan melihat hal-hal gila yang dia lakukan hanya untuk membuat saya tertawa.

mungkin harus dicoba juga untuk berpikir ‘terbalik’.
“Whaa… masih harus menunggu setahun untuk bertemu…” dan memandangi kalender dengan sebal karena masih harus belasan bulan bergulir untuk datangnya saat itu…

atau…

“saya senang… karena setelah setahun kedepan, saya bisa seterusnya bersama kamu.”

ah udah ah… saya mau mengambil tissue dari kotak untuk membersihkan layar laptop ini.