guest & press

Buying Experience

March 2, 2005
artikel untuk inspirasi belia harian umum pikiran rakyat

 

BUYING EXPERIENCE 

 

“Jangan lupa beliin gue oleh-oleh yaaa”.

Mungkin sebagian dari kita pernah mengucapkan hal itu kepada keluarga, teman, sahabat atau kenalan lain yang hendak melakukan perjalanan ke suatu negara. Entah berlibur, sekolah atau malah tugas kerja. Waktu kecil, saya juga pernah mengucapkan hal itu saat ayah saya sedang meraih gelar master di negeri Kanguru. Serentetan barang yang diidamkan seperti sweater wool yang hangat dan boneka koala khas Australia tentu saja saya tulis dalam surat.

Mengingat hal itu, saya jadi malu sendiri. Gimana nggak. Ayah ke sana bukan untuk having fun. Daripada menanyakan bagaimana kabar studi, saya malah berpikir meminta oleh-oleh tshirt merah buatan Adelaide. Aduuuh, ‘nggak sopan’ ya?

Sekarang baru terasa. Pergi ke suatu negara lebih menyenangkan membeli sesuatu dalam bentuk lain daripada barang-barang yang memberatkan koper. Lagipula, bayangkan kalau kamu yang pergi sedangkan kamu memiliki teman yang banyak dan keluarga besar. Rasanya “tidak adil” bila hanya sebagian saja yang mendapat oleh-oleh.

Padahal ada loh sesuatu yang bisa kamu beli yang bisa kamu bagikan kepada siapa saja. Pernah nggak terpikir untuk buying experience ketika kamu pergi ke suatu tempat? Praktis, berkesan dan tentu saja tidak akan membuat koper kamu over weight meski kamu membelinya sebanyak mungkin.

Apa sih maksudnya buying experience itu? Kalau kita artikan buying experience itu adalah “membeli pengalaman”. Jadi bukan membeli barang-barang melainkan pergi ke suatu tempat untuk menghasilkan nilai tambah bagi diri kita sendiri. Bila pergi ke Paris, misalnya, jangan hanya sekedar nampang di area menara Eiffel dan museum Louvre untuk berfoto. Tapi coba deh, naik dan rasakan bagaimana berada di ketinggian menara Eiffel. Cari informasi mengenai latar belakang menara Eiffel ini. Sampai di rumah, kamu bisa membuat artikel dan mengirimkannya ke belia ‘kan? Dan kalau kamu terkesan saat membaca novel Da Vinci Code, jangan lewatkan untuk mengikuti tour-nya yang sekarang marak di Paris. Bayangkan serunya setiap adegan yang terjadi dalam Louvre. Buying experience! Jauh lebih seru daripada berbelanja di butik-butik mahal Paris.

Seorang teman ada yang sengaja pergi ke Kota Ouarzazate – saat ia berlibur ke Maroko karena ingin melihat papan penunjuk jalan menuju Kota Tombouctou (Timbuktu). Selama ini ia penasaran banget dengan Kota Timbuktu. Is it real atau hanya ada dalam komik Donal Bebek saja? Ternyata memang benar-benar ada loh. Atau memang kalau ingin pergi jauh, kenapa nggak pergi ke Afrika saja sekalian? Penasaran dengan kota Dakar yang terkenal dengan rally Paris-Dakar? Ternyata Dakar ada di sebuah negara yang bernama Senegal dan titik finish rally Paris-Dakar itu di sebuah tempat di sekeliling danau yang airnya berwarna merah muda, Le Lacrose. Ngga percaya? Pergi deh ke sana.

Tulisan di atas hanya sebagai ilustrasi saja. Lagi pula, untuk membeli pengalaman tidak usah pergi jauh-jauh ke luar negeri kok. Cermati aja apa yang ada di sekeliling kita. Pergi ke suatu tempat yang belum pernah kamu kunjungi sebelumnya and on top of everything else, go there alone! Seru juga kan?

So, gimana? Masih berpikir untuk membeli souvenir untuk teman dan keluarga karena tuntutan jangan-lupa-beliin-gue-oleh-oleh-ya? Menurut saya sih mending buying experience aja. Mesti banyak pengalaman yang kamu beli, nggak perlu bayar EUR 20 untuk setiap 0.5 kg bila koper kamu over weight. Souvenir bisa habis dimakan waktu, sementara pengalaman adalah guru yang terbaik yang akan tetap hidup di hati kamu terlebih bila bisa membaginya dengan yang lain.

Ninit adalah penulis novel “Kok Putusin Gue”, yang pernah tinggal di Afrika Barat

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply