daily living

Selective Ears

May 5, 2005
Kemarin sebuah sms masuk dalam inbox.

“Lu bisa ke Toko You sekarang? Gue on the way there.”

Setelah sebelum-sebelumnya kami bingung menentukan tempat untuk bertemu, jadilah kami

memilih makan siang di sebuah tempat makan favorit Bandung yang letaknya di area Dago.

She’s my husband best friend. Lately, kita sering sms-smsan karena gua

memilih untuk membeli obat perawatan untuk muka dari dia demi memikat suami biar lebih cinta hehehe. Hasilnya emang OK banget. Gua nggak perlu pake bedak lagi. Bye bye blush on and everything because sun block is all I need.

Efek menyenangkan dari obat perawatan muka itu bukan topik entry hari ini sih melainkan

‘memilih’ dalam relationship.

“Gue baca-baca gitu ya kalo berdasarkan penelitian di Amerika, sekarang banyak yang

memilih untuk hamil di umur thirty something mendekati 40. Kenapa? Karena di umur segitu, emosi cenderung stabil. Jadi pembawaan ibu ketika hamil cenderung tenang dan itu berpengaruh ke bayi. Anak gue itu lumayan agak emosional deh, Nit. Kali karena gue pas nikah cuma beberapa bulan kosong dan langsung hamil. Saat itu lagi penyesuaian. Seneng-berantem-nangis-ketawa sama pasangan.”

Gua mengiyakan. Jadi inget masa-masa awal gua menikah. He loves sleeping all day like a polar bear. Sementara gua senengnya melakukan hal-hal lain yang melibatkan aktivitas mata terbuka, seperti jalan-jalan exploring Abidjan. Padahal, emang wajar kalau Adit

memilih tidur seharian. Ia harus ‘membayar’ jatah tidur Senin – Jum’at yang hanya beberapa jam karena bekerja dan menulis sampai pagi. Hehehe, maafkan istri bawel ini ya A.

Saat seseorang belum nikah yang pasti frekuensi berantem bisa lebih sering daripada sesudah. Bahkan hal kecil yang sebenarnya nggak-cukup-penting bisa menjadi perusak suasana karena membuat pasangan adu kuat untuk tidak berkomunikasi atau malah ‘meledak’ menjadi sebuah pertengkaran besar.

Kalau udah gitu, someone has to make an effort untuk berdamai. Sebuah ilustrasi ekstrim, pasangan yang dompetnya berjejal dengan uang dan kartu sakti mungkin akan

memilih untuk membelikan barang-barang mahal seperti parfum keluaran Chanel atau perhiasan yang menyilaukan mata. Sah-sah aja sih kalau memang mampu. Setiap pasangan mempunyai cara sendiri untuk berdamai.
Kebanyakan pasangan yang gua tahu sih lebih senang berdamai dengan kata-kata.

“Maafin ya…”
“Hih!”
Si laki-laki kebingungan untuk berdamai karena sudah 100 kali mengucapkan kata maaf tapi tidak mendapat sambutan menyenangkan. Karena itu ia

memilih untuk berkata, “Kamu cantik deh.”
“Bo’ong!”
“Bener.”

-Jeda-

“Kata-kata kamu tadi nyebelin banget tau!”
“Iya… maafin ya.” Ini kali ke 101 ia mengucapkan kata maaf.
“Kok tega-teganya ngatain saya cerewet?”
“Iyaaa… maaf ya..”
“Emangnya saya ini cerewet apa? Harusnya kamu nyadar dong kalo dibilang cerewet itu nggak enak. Saya kan nggak cerewet. Saya nggak suka banget kamu bilang saya cerewet. Sejak kapan coba saya… bla…bla…bla…”
“Iya… iyaa… maafin ya…” ok, 103, noted.
“Trus kamu nyadar nggak kalo kamu itu udah jarang banget bilang sayang sama saya.”
“Iya… saya sayang sama kamu.”
“Kamu tuh ngomong sayang kalo saya minta aja tau.”
“Hmhmm…”
“Sekali-kali kreatif dikit kek sering-sering bilang sayang sama saya.”
“Ok… I will…”
“Kamu sebenernya sayang nggak sih sama saya? Belum lagi kamu tuh suka ngaret lagi kalo janji mau ngejemput. Trus nggak perhatian lagi kayak dulu. Inget nggak… bla… bla… bla…”

Padahal sih emang iya cerewet ya. Hihihi… Sebetulnya perjalanan panjang minta maaf itu bisa di singkat seperti ini:

“Maafin ya…”
“Iya. Maafin saya juga.”

Singkat, padat dan sampai pada tujuan semula tanpa harus melibatkan efek domino yang nggak seharusnya terjadi. Karena sebuah kata yang tidak berkenan di hati, pertengkaran bisa terjadi selama seminggu dan merambat pada pertengkaran lain yang besar. Yang menyedihkan, hubungan yang terjalin lebih dari setahun itu bisa putus dan berakhir tidak baik.

Ilustrasi ‘cerewet’ diatas memang ekstrim.. mungkin karena saat emosi memuncak kita hadir sebagai makhluk yang sangat

‘pemilih’. Kata-kata indah hanya masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Kata-kata maaf sudah tidak sakti lagi untuk berdamai. Telinga kita tiba-tiba berubah menjadi sangat selektif terhadap apa yang dikatakan pasangan.

Saat kita makan siang, kita bisa

memilih makanan yang paling kita sukai dari menu yang ada. Dari berbagai macam obat perawatan muka yang ada di pasar, kita bisa selektif untuk memilih satu yang paling cocok.

But…

when it comes to nice things he says… do we need selective ears?

Have a nice long weekend! :-) /regards, Ninit


You Might Also Like

2 Comments

  • Reply Fikri Rasyid May 19, 2009 at 8:01 am

    Hihi, tulisannya bagus Mbak *biar terlihat muda, hihi* Ninit. Manusia memang hanya melihat apa yang ingin dia lihat kan y? :)

    Oya, kapan novel barunya keluar? saya kagum dengan Kang Adhit – Teh Ninit – pasangan yang tulisannya keren-keren! :D

  • Reply Rhein January 28, 2010 at 11:47 pm

    saya suka tulisan-tulisan teh ninit… benar-benar menginspirasi. ^_^

  • Leave a Reply