getaway

evakuasi ke paris

June 3, 2005

artikel untuk MY STORY SPICE! Magazine Juni 2005

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya ‘terjebak’ dalam sebuah perang di negeri orang. November 2004, terjadi perang di Cote d’Ivoire. Negara yang terdapat di Afrika Barat ini sejak lama memang belum lepas dari perang saudara.

Setelah menikah pada tahun lalu, saya mengikuti suami yang sedang menjalani masa ekspatriat di Afrika. Kami tinggal di Afrika Barat tepatnya di kota Abidjan, Cote d’Ivoire. Selain penduduk asli, di Cote d’Ivoire banyak terdapat orang-orang berkebangsaan Prancis, Lebanon dan Vietnam. Populasi orang Prancis memang sangat banyak mengingat Cote d’Ivoire adalah bekas koloni Prancis yang sangat ‘menghasilkan’. Banyak warga negara Prancis yang meneruskan bisnis di sana. Karena masih terdapat perang saudara, maka pemerintah Prancis menempatkan tentara untuk melindungi warga negaranya di Cote d’Ivoire.

Perang saudara yang berlangsung saat itu, merambat pada sikap antipati terhadap warga negara Prancis. Warga asing lainnya ikut panik. Kami yang jelas-jelas tidak berkulit putih-pun akhirnya meninggalkan apartemen.
Kami saat itu ‘mengungsi’ untuk tinggal bersama salah seorang rekan kantor suami yang berkebangsaan Prancis. Bahan makanan dan minuman sangat terbatas. Pada malam hari listrik tidak dinyalakan. Suara tembakan sangat jelas terdengar setiap saat. Semua itu sangat membuat kami cemas. Setelah dua malam berlalu, kami dievakuasi ke pelabuhan dan tinggal di kapal milik perusahaan.
Rekan kantor yang berkebangsaan Italia dan suami saya, ikut membantu kedutaan besar Denmark dan kedubes negara lain untuk mengatur evakuasi. Penerbangan saat itu tidak aktif. Sama sekali tidak ada penerbangan komersial sehingga untuk evakuasi harus menggunakan pesawat charteran. Airport sempat dirusak oleh pasukan pemberontak hingga akhirnya dikuasai tentara Prancis. Sekitar 5000 orang berkebangsaan Perancis kembali pulang ke negara asal, demikian juga dengan warga asing lainnya. Suami dan saya sempat kebingungan dengan keadaan ini karena KBRI tidak berada di Cote d’Ivoire melainkan di Senegal.

Jadilah kami dievakuasi ke Paris! Pemerintah Prancis memberikan kami kemudahan untuk mengunjungi Paris tanpa visa. Kami hanya membawa sebuah duffel bag yang berisi dua potong pakaian dan surat-surat penting saja. Baju yang melekat di badan tergolong tipis sementara cuaca di Paris saat itu sudah memasuki musim dingin!
Kami tiba di Paris pada pukul 2 dini hari. Ternyata kami mendapat ‘service’ yang luar biasa dari pemerintah Prancis. Begitu tiba, kami dipersilahkan untuk memilih baju hangat dan syal yang sudah dipersiapkan. Anggota Palang Merah setempat memberi kami makanan dan minuman hangat. Perusahaan tempat suami saya bekerja pun demikian. Country manager menyempatkan diri untuk memastikan keadaan kami baik-baik saja. Benar-benar salut pada mereka!
Kami menginap di hotel tidak jauh dari airport Charles De Gaulle. Keesokan harinya, kami mengelilingi Paris! Mengunjungi Eiffel, Museum Louvre dan berjalan kaki di rue de Rivoli. Hmmm, benar-benar menyenangkan!
Sebelum pergi ke Cote d’Ivoire, kami sudah berniat untuk mengunjungi Paris selama beberapa hari. Tetapi karena tidak sempat mengurus visa, rasanya harus puas menikmati masa transit yang panjang di airport dan sudah hopeless bisa keliling Paris. Justru berkat evakuasi ini lah kami bisa berkeliling Paris! Yes, really… It was a blessing in disguise!
-Ninit Yunita (26), blogger & penulis.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply