Monthly Archives

July 2005

read & write

separated

July 5, 2005

If love was a fire
Then we have lost the spark
Love never felt so cold
If love was a light
Then we’re lost in the dark
Left with no one to hold

Jakarta sore itu dibasahi dengan gerimis yang turun pelan-pelan. Kadang-kadang wiper taksi bergerak mengusir genangan air di kaca. Disaat yang sama, gua juga berusaha untuk mengusir air mata mengalir. Sakit dengan semua yang terjadi kemarin malam. Dada masih sesak. Pikiran terganggu.

“Tapi kan Ta, you were the one who left him.”

Perkataan Dian dengan suaranya yang lirih itu tiba-tiba muncul seperti malaikat kecil yang muncul diatas kepala gua.

“But he is the one who left me with another woman…” hati kecil gua berusaha menjustifikasi tindakan yang gua ambil sekarang.

Sopir taksi itu mengintip gua dari spion.

“Kenapa, Bu? Kangen anak ya?”
Gua lalu mengambil tissue dari tas, menghapus genangan air mata. “Oh… nggak, Pak. Saya nggak punya anak.”
“Kalau suami? Punya?”
Gua mengangguk.
“Saya juga punya istri… tapi sudah meninggal, Bu.”
“Oh! Maaf, Pak.”
“Saya juga nggak punya anak.”

Gerimis lambat laun berganti dengan hujan yang turun membesar. Udara terasa dingin. Kedua tangan gua bersilang untuk mengurangi rasa beku. Beberapa saat hening setelah percakapan terakhir diungkapkan sopir taksi itu.

Sepi.

“Bapak nggak apa-apa gitu nggak punya anak?”
“Ya pengen, Bu. Tapi yang namanya anak mah sama dengan rezeki. Rezeki itu hanya Allah yang ngatur. Saya dan almarhumah istri hanya menjalani hidup saja. Semua sudah ada yang mengatur. Allah pasti memberi yang terbaik.”
Perkataan sopir taksi itu sangat bijak dan entah kenapa sangat mengena di hati gua. Tidak sulit mencerna perkataan singkat dari hati setulus dia.
“Saya tiap hari Jum’at selalu pergi ke makam istri, Bu. Bersihin makamnya. Berdo’a.” Mata sopir taksi itu mulai sedikit berkaca-kaca. “Puluhan tahun nikah sama istri, saya mah sama sekali belum pernah merasakan kekecewaan. Istri saya penuh pengabdian sekali sama suami.”
“Pak…” gua menempatkan tangan di pundak kiri sopir taksi itu sebagai tanda simpati.

Gua dan dia, diam dalam jangka waktu yang lama. Sepertinya kami masing-masing memikirkan hal yang sama. Pasangan yang kini jauh dari kami.

Taksi menepi di depan terminal F. Sosok Kakang sudah ada disana.

Sebuah taksi berwarna kuning menepi, berhenti tidak jauh dari tempat gue berdiri. Tata turun dari taksi. Sopir taksi membantunya menurunkan koper dari bagasi. Gue segera menghampiri.

“Hey…”

Tata dengan dingin menatap gue. Ia mendorong koper berwarna hitam seakan-akan gue tidak ada disana. Gue menjajarkan langkah karena Tata berusaha meninggalkan gue.

“Please dengerin saya?” gue lalu menggenggam lengan kirinya.
“Mau ngomong apa lagi, Kang?”
“Kamu salah.”
“Iya… saya selalu salah… dan kamu yang selalu benar.”
“Tolong deh, jangan kayak anak kecil.”
Tata mendelik. “MR-OH-SO-INTELLIGENT is here? MR-RIGHT-WHO-ACTS-LIKE-AN-ADULT is talking?”
Gue tidak menghiraukan komentar Tata yang sinis. “Nggak ada seorangpun yang pernah tidur ditempat tidur kita.”
“Yeah, right! Trus ngapain ada suara perempuan malem itu yang ngejawab handphone kamu? Dan sejak kapan nama istri kamu berubah jadi Sinta?”
“Saya bisa ngejelasin. Can we talk?”
“Oh… tiba-tiba kamu butuh bicara sama saya? MR-CAN-WE-TALK-ABOUT-OUR-FEELINGS?”
“Please?”
“Nggak perlu.” Tata mendorong kopernya. Gue menahan. “Saya nggak tertarik untuk mendengar penjelasan kamu.”
“Kamu nggak nyesel?”
“NYESEL? Seharusnya KAMU yang nyesel, tau nggak!” Mata Tata mendelik tajam.
“Neng…”
“Kamu cuma buang-buang waktu. We’re over.”
“ARISTA!”
“Di malam kamu mengirim saya e-mail itu, I was going to say I’m sorry… karena saya sadar bahwa saya begitu jahat pergi dari rumah karena kondisi kamu. Tapi saya pikir semua itu percuma. Justru kamu yang harus minta maaf karena udah bawa perempuan lain.”
“Neng!”
“Tega banget ya kamu.”
“Tega apaan?”
“Masih bisa-bisanya nggak ngaku lagi.”
“Gosh! What do you want me to say?”
“Bilang MAAF. Saying sorry is not as hard as making a pyramid though!”
“But I didn’t do anything WRONG.”
“Jadi kamu nggak mau minta maaf?” alis kanan Tata terangkat.
“I told you… I didn’t do anything wrong.”
“FINE!”
“You don’t believe me, do you?”
Tata menghela nafas. “Saya harus pergi… bisa telat check in.”
“Kamu mau kemana?” gue menahan lengan Tata.
“Pergi.”
“Pergi kemana? Singapur? Atau cuma transit aja di sana? Sampe kapan?”
“Bukan urusan kamu.” Ujar Tata sinis.
“Of course it is my business. You are my wife!”
“You are a cheater!!! I hate you!!!”
“I’m not a cheater. I’m the one who love you!”
“Hmppffh.”
“You don’t remember the day when we fell in love, do you?”

Tata tidak menjawab. Ia terus mendorong koper tanpa menghiraukan gue.

“I love you… with every fibre of my being…”

Tapi semua itu percuma karena disaat gue mengatakan itu, Tata sudah memperlihatkan passport dan tiket pesawat kepada petugas. Beberapa menit gue menunggu di balik kaca, berharap Tata berubah pikiran dan menghampiri gue.

Ternyata gue salah.

She’s really leaving…

She’s leaving me.