getaway

dakar – senegal

September 2, 2005
artikel untuk traveler’s tale SPICE! Magazine September 2005

Semua orang mungkin familiar dengan nama Dakar karena rally Paris – Dakar yang berlangsung rutin setiap tahun. Saya sering membayangkan, seperti apakah kota dimana rally akbar Paris – Dakar tersebut berakhir.

Tahun lalu, saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Dakar. Dari Jakarta, kita dapat menggunakan pesawat Air France yang akan transit di Singapore yang selanjutnya akan tiba di Paris. Di sana, ada beberapa pilihan pesawat untuk menuju ke Dakar. Diantaranya Air France, Tap Air Portugal dan Royal Air Maroc

Pulau Goree Tempat yang ada di urutan pertama dalam list saya, untuk dikunjungi adalah Pulau Goree. Dari hotel, saya menggunakan taksi untuk menuju pelabuhan kecil yang tidak jauh dari Stasiun Kereta Api. Untuk mencapai Pulau Goree, kita harus menggunakan ferry. Harga tiketnya CFA 5000 round trip. Hanya ada tiga kali trip menuju Pulau Goree, saya memilih yang pertama agar tidak panas begitu sampai.

Tiga puluh menit kemudian, saya menginjakkan kaki di Pulau Goree. Karena kemampuan bahasa Prancis saya masih standard, maka saya memutuskan untuk mengelilingi Pulau Goree dengan seorang guide yang dapat berbahasa Inggris dan dilengkapi dengan surat izin resmi dari pemerintah setempat.

Pulau Goree ditemukan oleh para pelaut Portugis. Pada awalnya pulau tersebut bernama Palma. Tahun 1588, orang-orang Belanda datang ke pulau Palma ini dan menamakannya Goede Reed (Good Harbour). Karena orang-orang lokal tidak bisa melafalkannya dengan benar, mereka hingga kini menyebutnya Goree.

Pada saat itu, Pulau Goree adalah tempat transit bagi orang-orang kulit hitam yang berasal dari seluruh Afrika Barat sebagai budak. Mereka lalu dikirimkan ke Amerika dan Eropa. Diperkirakan ada 20 juta orang Afrika yang pernah ada di pulau tersebut. La Maison des Eclaves yang indah, pada ratusan tahun yang lalu merupakan tempat dimana orang-orang Afrika itu di masukkan dalam sel berdasarkan gender. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana dalam satu sel sempit itu, dimana ventilasi minim plus toilet di tempat yang sama, puluhan orang dikumpulkan. Leher, tangan dan kaki mereka pun di rantai.

La Maison des Eclaves sekarang telah menjadi museum. Bangunan yang didirikan pada tahun 1786 itu telah direnovasi pada tahun 1990 dengan tidak merubah sedikitpun dari bentuk bangunan dan warna aslinya. Pulau Goree ini berada di bawah perlindungan Unesco PBB, sehingga apa yang kita lihat sekarang di Pulau Goree adalah persis seperti keadaan beberapa abad yang lalu. Warna merah menandakan bahwa gedung tersebut adalah milik Portugis, sementara untuk Belanda adalah kuning.

Kini, Pulau Goree menjadi tempat tujuan wisata. Di pulau yang didiami oleh 1200 penduduk, terbagi atas 800 orang muslim dan 400 orang kristen, they’re living in harmony. Terdapat juga hotel bed and breakfast bila kamu ingin menikmati keindahan Pulau Goree lebih lama. Jangan kuatir bila kamu ingin mengecek e-mail karena di pulau yang kecil itu sudah ada saluran internet!

Le Lacrose
Jangan pernah melewatkan sebuah danau bernama Le Lacrose bila berkunjung ke Senegal. Berjarak tempuh 1.5 jam dari Dakar dengan menggunakan taksi yang dapat kita charter dengan seharga CFA 30000 (round trip).
Banyak turis yang mengunjungi Le Lacrose karena warna air danau yang kemerahan yang dapat kita lihat dengan jelas pada siang hari.
Kita dapat menyebrangi Le Lacrose dengan menyewa sebuah perahu (CFA 5000) untuk melihat komoditi terbesar yang dihasilkan Le Lacrose, yaitu garam (sebagai informasi tambahan, Le Lacrose adalah penghasil garam terbesar untuk wilayah Afrika Barat).
Selain perahu, pilihan transportasi lain adalah mobil safari yang dapat kita sewa untuk mengitari Le Lacrose ini. Atau bila ingin mencoba hal lain, ada banyak unta yang bisa ditunggangi. Seru kan?

Dalam Kota
Kalau kita sudah mengunjungi Pulau Goree dan Le lacrosse, sekarang saatnya untuk berjalan-jalan menikmati kota Dakar. Gunakan sepatu yang paling nyaman karena akan ada banyak tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi

1. The Presidential Palace
Bangunan indah yang terletak di jantung kota ini menjadi tempat kediaman Presiden sejak 25 September 1960 yang juga menjadi simbol penyerahan pemerintahan dari Prancis, dengan sebagian menghadap laut. Yang menarik dari istana presiden ini adalah “Gardes Rouges de La Presidence” yaitu dua orang penjaga istana yang selalu berpakaian warna merah. Bila hari biasa mereka menggunakan pakaian lengan pendek dan membawa senapan, kalau weekend, mereka memakai baju lengan panjang dan menggunakan jubah. Kamu bisa berfoto dengan mereka. They’re nice by the way, just ask them politely.

2. The Independence Square
Di taman yang terletak di tengah pusat kota Dakar, beberapa meter dari istana presiden, kamu bisa bersantai sejenak sambil memperhatikan kesibukan penduduk setempat. The Independence Square ini dikelilingi oleh beberapa bank besar, travel agencies dan airlines.

3. Al Madi
Kalau kamu penggemar berat sea food, maka ini tempat yang pas buat kamu. Al Madi. Mulai dari lobster sampai bulu babi, semua ada. Apalagi harganya yang cukup murah membuat kamu kenyang makan disini.

Al Madi memang tempat berkumpul favorit keluarga. Soalnya, selain makan sea food, kita bisa juga berenang, hanya bersantai di pantai atau cuci mata.

4. Phares des Mamelles
Phares des Mamelles adalah point tertinggi Dakar. Dari sini, kamu bisa menikmati pemandangan kota Dakar dengan nyaman.

5. Soumbedioune
Sebelum pulang, jangan lupa mampir ke Soumbedioune. Sebuah tempat untuk membeli souvenir sebagai kenangan perjalanan dari Senegal. Letaknya persis di sebelah pasar ikan. Psst, harus pinter-pinter nawar ya disini.

6. La Cathedrale du Souvenir Africain
Meski mayoritas penduduk Senegal adalah muslim, mereka hidup damai dengan pemeluk katolik dan protestan. Di tengah kota tidak jauh dari istana presiden, berdiri sebuah katedral. So, buat kamu yang nasrani… ngga ada istilah bolos ke gereja dong saat datang ke Dakar.

7. La Grande Mosquee
Untuk kamu yang beragama Islam, jangan lupa untuk menyempatkan diri datang ke masjid agung di Dakar. Dari istana presiden, kita bisa berjalan kaki atau membayar CFA 500 untuk taksi. Masjid agung ini di bangun oleh arsitek Prancis dan semua bahan bangunannya berasal dari Morocco.

Packing List Tips
1. Jangan membawa terlalu banyak barang. Bawa secukupnya aja. Segala yang kamu butuhkan bisa di beli di Dakar.
2. Gunakan baju yang berjenis cotton karena Dakar relatif cukup panas.
3. Pakai sepatu datar, sejenis keds. Yang membuat kamu nyaman berjalan jauh.
4. Sun glasses! Ini dia barang yang wajib kamu bawa.
5. Sebuah digicam dengan memory yang tinggi. Di jamin deh, akan ada ratusan foto yang akan kamu ambil disini.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply