guest & press

Dari Diary Sampai Film

September 2, 2005

artikel untuk Bandung CITImag

 

 

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dunia terus berputar dan waktu terus berjalan. Mereka yang survive dan mereka yang dapat eksis dalam dunia ini adalah mereka yang juga berputar dan berjalan seiring dengan waktu.

Dalam sebuah antrian panjang di depan loket sebuah sinema di Bandung Super Mall, saya teringat perjumpaan dengan seorang teman kurang lebih setahun yang lalu.

Setelah membeli sebuah clutch idaman dan sepasang pump shoes hitam, secara tidak sengaja saya hadir di sebuah acara launching buku seorang penulis baru. Berawal dari rasa penasaran melihat sebuah cafe yang ramai dengan wartawan dan pengunjung yang ingin berfoto dan meminta tanda tangan sang penulis. Saya akhirnya masuk dan menyadari bahwa penulis itu adalah teman senasib sepenanggungan saat kuliah dulu! What a surprise.

Langsung saja saya membeli bukunya yang tinggal tersisa dua eksemplar. Buku yang ditulis teman saya yang cantik itu adalah sebuah novel komedi. Sambil bersabar menunggu antrian tanda tangan selesai, saya membaca beberapa halaman dan komentar salah seorang editor majalah remaja di bagian belakang novel. Baru membaca beberapa halaman saja sudah bisa membuat saya tertawa. Senang dan bangga karena teman satu kampus itu masih eksis di dunia menulis.

Seingat saya, dia pernah bercerita bahwa dia adalah salah satu dari sekian siswa yang rajin mengirim artikel untuk mading sekolah. Setelah lulus kuliah, meski jarang bertemu, saya masih ‘bertemu’ dengannya melalui cerita-cerita pendek yang ia tulis di beberapa majalah. Sampai akhirnya antrian book signing tiba pada saya. You know what? Saya senang ternyata teman saya itu masih ingat pada saya dan ‘menolak’ untuk menandatangani novelnya saat itu sebagai ‘pemaksaan’ secara halus untuk menerima ajakan minum teh setelah acara selesai.
Ia memesan secangkir mint tea dan sepotong brownies untuk saya. Obrolan langsung bergulir tanpa hambatan.

“Gila lo ya… masih aja eksis di dunia menulis.” Komentar saya ketika percakapan terbuka.
“Nyindir lu?” Teman saya menjawab sambil tersenyum lebar.

Jawaban itu membuat saya berpikir. Loh bukankah seharusnya kita akan merasa senang bila seseorang menerima komentar seperti yang saya katakan? Dengan kata lain, itu kan sebuah pujian karena terus terang saya kagum dengan kesetiaan dia dibidang menulis. Apalagi kalau melihat proses dia sebagai penulis. Mungkin awalnya bukan dari mading sekolah melainkan dari menulis sebuah diary. Lalu coba-coba mengirim artikel ke beberapa majalah dan sekarang merilis sebuah novel lagi.
Teman saya lalu tersenyum lega setelah mendengar penjelasan saya. Bukannya apa-apa karena disatu sisi ia merasa tersindir dengan kata eksis. Sampai sekarang ia juga masih eksis menjadi mahasiswa karena masih belum menyelesaikan thesis untuk meraih gelar master. Juga masih eksis menjadi the one who still trying to find a perfect boyfriend. Kami tertawa saat ia menjelaskan bahwa ia baru saja keluar dari rumah sakit jiwa karena putus dengan pasangannya.

Lalu sedikit mengenang masa lalu saat kuliah dan bersambung dengan menanyakan kabar teman yang lain. Salah satu dari teman kami ternyata masih eksis menjadi vokalis salah satu band yang masih sering manggung dari cafe ke cafe. Eksis tapi stagnan karena kegiatan yang tidak berubah dari lima tahun yang lalu. Bukan sesuatu yang salah, meski saya yakin she will much better kalau saja berani memasuki dapur rekaman. Kenapa? karena akan lebih banyak orang yang dapat menikmati suara indahnya.

Setelah menghabiskan secangkir mint tea, saya berpamitan pulang dan bertukar alamat e-mail dengan teman saya yang penulis itu. Setahun berlalu. Beberapa e-mail saling kami kirimkan. Sampai dua minggu kemarin, sebuah e-mail muncul di inbox saya. Dia mengabarkan bahwa novel yang dia tulis (setelah sukses menjadi best seller) dapat dinikmati secara visual dalam sebuah film.

Dari mading sekolah, majalah, novel sampai kini menjadi seorang script writer. Intinya adalah untuk terus meng-aktualisasi diri kita karena banyak orang yang tidak menyadari bahwa dunia terus berputar dan waktu terus berjalan. Mereka yang survive dan mereka yang eksis sekaligus berevolusi dalam dunia ini adalah mereka yang juga berputar dan berjalan seiring dengan waktu. Benar-benar menyenangkan menjadi orang yang eksis dan terlebih lagi dapat berevolusi dibidangnya. Karena meski eksis, kalau hanya stagnan dan tidak berevolusi akan membuat hidup kita menjadi datar sekaligus membosankan.

Setahun yang lalu, saya mengantri untuk mendapatkan tanda tangan. Kini, saya mengantri untuk menonton film yang diangkat dari novelnya.

You Might Also Like

2 Comments

  • Reply Iyya Maliya May 9, 2011 at 3:13 am

    Wow…keren yaaa kisahnya. Semoga terjadi didalam hidupku. Amin

  • Reply niee June 26, 2011 at 9:24 pm

    waahh,, novel dan judul filmnya apa mbak? Jadi pingin baca deh, tapi gak hantu2an kan yak :P

  • Leave a Reply