writing

Oh Where The Heck Did The Romance Go

October 26, 2005
New Series: The Hidayats.

“Sampe ketemu lagi ya Bu Hidayat…”

Gua mengangguk pada Ibu Bambang, tetangga sebelah. Sabtu pagi ini, seperti hari-hari lainnya, tukang sayur berkeliling kompleks. Gua sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak kembar, seperti dua juta ibu rumah tangga yang lain juga berlangganan pada tukang sayur ini. Dan juga seperti ibu-ibu lain, sesudah menikah dua setengah tahun yang lalu, nama gua berubah menjadi Ibu Hidayat setelah menikah dengan Aldi Hidayat. Mungkin tidak banyak tetangga yang mengetahui kalau nama gua adalah Ratna Marlina.

Seminggu setelah menikah dengan Aa, berdasarkan hasil test pack, gua dinyatakan hamil. Untuk memastikan, gua pergi ke rumah sakit terdekat untuk mengecek kebenaran hasil test pack tersebut. Hasilnya sama, gua positif hamil.

Wow!

Memang sih saat menikah dengan Aa, gua dalam keadaan subur. Jadi memang sangat wajar kalau gua langsung hamil.

Gua lalu menaruh hasil belanjaan ini di meja. Rencananya hari ini gua akan memasak makanan kesukaan Aa. Ayam Cah Jamur. Gemi dan Mini, masih tidur. Aa sendiri ada di ruang tengah sedang menikmati secangkir kopi hangat sambil membaca koran. Karena penggemar berat film Austin Powers, Aa bersikeras menamai anak perempuan kembar kami yang cantik dengan nama Sukmi Sukyu.

Argh!

Gemi dan Mini… someday you will thank me. Gua saat itu mati-matian menolak usul Aa.

Ah! Anyway… Gua lalu mengambil satu mug putih dan membuat satu cangkir kopi, menyusul Aa ke ruang tengah.

“Masak apa ‘Say?”

(Uhhh… sebentar, kayaknya font yang ini kurang cocok deh dengan Aa).


“Masak apa ‘Say?”

(Kalau yang ini bagaimana?

Hmmm… terlalu… girly, mungkin).

“Masak apa ‘Say?”

(Nah, sepertinya yang ini cukup pas untuk mewakili font Aa. Ya udah, gua pakai font ini aja deh).
“Masak Ayam Cah Jamur, A.”


“Ayam Cah Jamur LAGI?”

“Iyaaa… itu kan makanan kesukaan Aa.”

“…”

“Kenapa A?”

“Say, dalam 365 hari di tahun 2004… mungkin hanya dua kali kamu gak masak Ayam Cah Jamur.”

“Masa sih A?”

“Dua hari dimana kamu gak masak Ayam Cah Jamur itu hanya di hari Idul Fitri dan Idul Adha. Selebihnya… kamu selalu masak A-y-a-m C-a-h J-a-m-u-r.”

“Loh apa salahnya A? Jadi Aa pengennya saat Idul Fitri dan Idul Adha makan Ayam Cah Jamur juga?”

“Yah… kan bosen ‘Say… dari awal menikah sampai sekarang kamu selalu masak Ayam Cah Jamur terus.”

Gua kesal.

“Kan masih banyak mungkin menu lain yang bisa kamu buat selain itu…”

“Bhuuu Aa gimana sih… dulu waktu hari pertama saya masakin Ayam Cah Jamur buat makan malem kita, Aa pernah bilang kalau… Wah! Ayam Cah Jamur! aduuuh! ini kan makanan favorit banget! Apalagi Ayam Cah Jamur buatan kamu ini paling enak sedunia. I can have it for the rest of my life

Udah lupa ya A?”

Gua lalu menyingkirkan diri ke dapur. Huhuhu… Akhir-akhir ini memang gua akui, gua sangat sensitif. Gara-gara minggu lalu, gua bertemu Manda, teman kuliah di Institut Teknologi Ganesha, di Pusat Grosir Cililitan.

“Ih… lucu banget yah Rat kita ketemu di sini.”

“Iyaaa… apa kabar sih Man? Udah lama banget ngga ketemu!!! Kabar temen-temen se-geng kita gimana nih?”

“Gue kan abis lulus kuliah langsung dikirim ke Oklahoma Rat… keterima kerja di SLQ. Abis itu ditempatin di Dubai. Nah ini, gue lagi cuti.”

“Oh!”

“Kalo Inka sih lagi nerusin S2, dapet beasiswa di Jerman. Sulis sih bareng sama gue, cuma dia sekarang ditempatin di Aussie.”

“Oh…”

“Yah gitu deh Rat… temen-temen se-geng kita pada jauh… yah sukses juga sih. Duh! elu sih ya pake acara ngga ngeberesin kuliah demi nikah.”

“Ohhh…”

“Ih! Oh Oh terus deh dari tadi. Lu sendiri apa kabar? Ngapain siang-siang ke sini?”

“Belanja. Lo? belanja juga?”

“Ngga sih… setaun kemaren gue iseng ikut-ikutan Sambas beli kios di sini. Tuh yang di lantai I. Rame banget kan? Nah barusan dealing sama yang mau beli. Kiosnya gue jual lagi Rat, lumayan deh profit 100 juta gitu…”

“Oooohhh…”

“Eh lu masih inget kan Sambas yang naksir berat lu itu Rat! Sekarang dia di Brunei… bla… bla… bla…”

Gua semakin pusing mendengarkan cerita Manda. Oh God! Manda… Inka… Sulis… sahabat-sahabat gua saat kuliah semua sukses! Karir yang mapan… pendidikan yang bagus…

Huhuhu semua impian saat gua kuliah dulu. Sementara gua?

Hanya menjadi ibu rumah tangga.
Yup.

Ibu.
Rumah.
Tangga.

Padahal dulu impian gua adalah menjadi wanita karir atau at least harus ada titel S2 yang ada di belakang nama. Nah! ini… titel S1 aja nggak ada. Gua memilih untuk tidak menyelesaikan kuliah (padahal tinggal 1 semester lagi!) karena menikah dengan Aa dan tinggal di Papua. Aa yang sama-sama kuliah di ITG, diterima bekerja di sana. Lalu gua diminta untuk menikah dan ikut ke sana.

Why oh why?

It’s because of love.

Awalnya, gua bangga dengan status gua yang Ibu Rumah Tangga. Tidak seburuk yang gua bayangkan kok. Lagi pula, ternyata tidak mudah menjadi Ibu Rumah Tangga. Apalagi dengan mengurus dua mini-me yang sangat hiper aktif. Pfuuuhhh…

Terkadang, rasa bosan dan sensitif itu melanda. Seperti hari ini. Gua sedih banget dan tiba-tiba jadi kangen masa-masa kuliah dulu. Manda, Inka dan Sulis yang sukses… wah! padahal gua juga yakin bisa sesukses mereka seandainya kuliah gua selesai.

Kalau dulu sih Aa dengan romantisnya memuji masakan gua yang katanya terenak di dunia. Bahkan setiap hari Aa meminta gua untuk memasak Ayam Cah Jamur.

“I can have it for the rest of my life…” katanya dengan romantis.

Sekarang? SEKARANG?

Biar lebih jelas, ilustrasinya seperti ini.
DULU : I can have it for the rest of my life.
SEKARANG: Ayam Cah Jamur
LAGI?

Huhuhu… I can have it for the rest of my life. He said.

Oh, where the heck did the romance go?

Icons made by Freepik from www.flaticon.com is licensed by CC BY 3.0

You Might Also Like

2 Comments

  • Reply Ninit Yunita (@istribawel) (@istribawel) (@istribawel) September 15, 2011 at 11:34 pm

    oh where the heck did the romance go http://t.co/4BzXq14k #oldposting

  • Reply Evi Tjhin (@evi_tjhin) September 16, 2011 at 2:37 am

    http://t.co/P8cMgz4x hahahahahahahahahahaha @istribawel ditunggu posting2 berikutnya about "Where The Heck Did The Romance Go ;)

  • Leave a Reply