cab-inn

November 19, 2005
Setelah selesai dengan misi membeli coat & gloves, kami kembali ke hotel untuk check in. Saya langsung membayangkan betapa nyamannya berbaring di tempat tidur. Maklum, setelah terbang dari Abidjan menuju Charles De Gaulle dan berlari-lari di airport agar tidak ketinggalan pesawat menuju Copenhagen, kami tidak langsung beristirahat di hotel melainkan langsung ke pedestrian.

Hotel tempat kami menginap adalah Cab Inn. Sesuai namanya, kamar tempat kami tidur benar-benar seperti kabin sebuah kapal. Saya ingat, tahun lalu ketika dievakuasi, saya dan suami tidur di sebuah salah satu kapal milik perusahaan. Letaknya persis sama. Kamar mandinya pun mirip sekali.

Jadi kesimpulan, kamarnya kecil. Ada televisi dengan pilihan channel yang tidak banyak (diantaranya TV2-TV lokal Denmark dan CNN). Tidak ada mini bar.

Yang ada: dua tempat tidur single yang bertingkat dan pemanas air plus dua sachet kopi-teh-gula.

Karena lelah, kami berdua berniat tidur setengah jam. Ketika bangun, saya melihat hari sudah gelap. Langsung saja saya cek jam tangan. Hah! Jam 22.30!!!

Yaaa ampuuun…

Lama sekali saya tertidur!

Saya lalu menonton televisi dan membiarkan suami saya tidur. Setengah jam kemudian saya merasa sepi dan ‘terpaksa’ membangunkan suami.

“A! Bangun A… Kita ketiduran! Sekarang udah jam 22.30!”

Suami saya bangun dan tidak percaya dengan apa yang saya katakan. Ia lalu mengecek jam tangan saya dan…

“Nih! Jam 5 sore! Kamu tadi liat jam-nya kebalik!”

Aduuuh! Hehehe…

Tapi untung juga saya salah melihat jam. Kami lalu bersiap-siap memakai coat dan pergi berjalan kaki menuju tivoli.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply