foods

November 20, 2005
Tiga hari menjelang euro trip, saya sakit perut hebat. Sedang tidur dengan lelap, tiba-tiba saya mengaduh dan bangun kesakitan. Salah saya sih memakan makanan yang sudah kadaluarsa ditambah lagi perut saya memang sensitif. Jadi maklum deh kalau saya termasuk orang Indonesia yang tidak suka makan makanan pedas.
Nah, sebelum ke airport, saya dan suami makan di sebuah restoran Arab tidak jauh dari apartemen kami. Daging sapi-nya memang killer sekali! Super lezat! Tapi… saya tidak sengaja menyicip saus yang saya kira saus tomat biasa. Ternyata saus itu pedasss sekaliii!!!

Saat pesawat take off, sakit perut itu kembali terasa. Saya tidak berantisipasi untuk membawa sahabat dalam duka saya, si minyak kayu putih. Maka sepanjang penerbangan, saya harus menahan rasa sakit di perut dengan menaruh kedua telapak tangan saya di sana. Sakit perut yang ini masih kelas ringan sih, bukan sakit perut melilit seperti sebelumnya. Gara-gara itu seorang pramugara sampai bertanya pada suami saya apakah saya hamil. Hahahaha…

Maka, sampai di Copenhagen saya harus makan yang padat-padat. Kami mampir ke China Box. Saya membeli nasi putih dan sayur ditambah dengan ayam. Sebetulnya ada nasi yang dicampur kacang polong dan sedikit potongan daging kecil (nasi favorit saya!). Tapi biar lebih aman, saya memilih yang putih saja. Sebagai muslim, saya berhati-hati untuk tidak memakan makanan yang mengandung babi.

Denmark, tidak seperti Italy, China atau Indonesia… sepertinya tidak memiliki makanan khas. Itu juga apa yang dikatakan teman saya Maria yang orang Denmark. Menurut Maria, yang terkenal, Denmark adalah penghasil babi terbaik di dunia. Karena babi dari Denmark memiliki daging yang lebih banyak (karena gemuk dibandingkan babi dari negara lain) dan babi Denmark memiliki tubuh yang lebih panjang.

Tidak mengherankan sih. Pagi di hari kedua kami di Copenhagen, kami sarapan di stasiun sentral. Hampir semua yang disajikan mengandung babi. Maka kami cukup memesan segelas teh hangat dengan roti yang berisi keju saja.

Kenapa muslim tidak boleh makan babi? Kenapa muslim harus makan hewan yang disembelih a.k.a halal, suami saya menjelaskan ditinjau dari sudut pandang ilmiah. Yang mana sangat masuk akal.

Malamnya, pulang dari Roskilde, suami mengundang teman-temannya untuk makan malam di restoran China. Hehehehe… Teman suami saya ada tiga orang. Dua orang Indonesia yang sedang di ekspat di Copenhagen dan seorang lagi orang Denmark yang pernah diekspat di Semarang.

Oh ya untung juga saya tidak membeli nasi yang ada kacang polong dan daging kecil-kecil itu. Saat buffet di restoran China itu, ada nama dan kandungannya pada tiap makanan. Ternyata nasi yang tidak plain itu memakai daging babi.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply