read & write

Meet Rahmat aka Kakang

November 16, 2005

Antara Gue dan Tata


Nama gue Rahmat Natadiningrat. Gue berumur 32 tahun dan berprofesi sebagai psikolog sekaligus dosen. Menikah dengan seorang wanita cantik dan keren yang bernama Arista Natadiningrat, Tata. 

Kisah yang terjadi antara Ibu dan Bapak Sutoyo di atas adalah cerita klasik yang sering kita dengar. Suami yang kurang perhatian, istri yang tidak bisa menerima dan anak yang nge-drugs. Mungkin apa yang gue dan Tata alami juga merupakan masalah yang terjadi pada pasangan lain. Kami sudah menikah selama 7 tahun dan selama itu lah gue dan Tata melakukan intensifikasi penyerbukan. Berbagai cara sudah kami coba. Mulai dari mengonsumsi toge yang tidak wajar sampai bercinta berdasarkan shio. Namun sampai saat ini kami belum memperoleh anak.

Dalam perjalanan pulang menuju rumah kami di Bekasi, Tata dengan semangat mengatur rencana.

“Kang, ntar malem… The Wheelbarrow ya?”
“Ha? Bukannya udah?”
“Yang kemaren namanya Splitting A Bamboo.”
“Trus yang kamu nyuruh saya jalan kayang itu apa namanya?”
Tata mengerling. “Itu sih…

…iseng aja.”

DZIGH!!!

Cemas

Tata sangat menginginkan anak. Sudah bukan rahasia lagi. Apapun akan dilakukannya untuk itu. Seperti malam ini. Sesudah intensifikasi penyerbukan selesai, ia tertidur dengan posisi sujud. Menurut sahabatnya, posisi tersebut akan memperlancar sperma untuk membuahi sel telur. Gue lalu menyelimuti dan membelai rambutnya.

Gue lalu memikirkan satu hal. Di luar sana ada jutaan pasangan yang susah setengah mati seperti kami untuk mendapatkan anak. Ada yang habis uang untuk terapi, ada yang habis waktu mencoba, ada istri yang memilih tidak berkarir agar dapat berkonsentrasi di rumah. Ada bahkan suami yang memilih tidak naik jabatan karena dia tahu bahwa dengan naik jabatan, bertambahnya kesibukan akan menghilangkan waktu-waktu dia dan istrinya untuk mengusahakan anak.

Tapi tidak jarang kita melihat anak yang membentak orang tuanya. Anak yang manja, anak yang menyakiti orang tuanya. Sekarang gue tahu benar mengapa meski orang tua mencintai semua anak secara total, mereka juga sering kali, sakit hati.

“Mmmh…”
Lamunan gue buyar. Tata bergumam dalam tidurnya.

Mimpi.

Mimpi tentang anak, mungkin. Tujuh tahun terakhir memang telah membuat Tata banyak berubah. Dari penuh pengharapan, tabah dan sekarang cemas. Satu yang gue harapkan adalah agar dia tidak terlalu stress menghadapi semua ini. Gue pernah baca bahwa stress ingin memiliki anak malah akan membuat kita semakin sulit mendapatkannya.

Gue tahu dia cemas.

Tapi gue lebih cemas akan dia.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply