guest & press

he says she says

March 29, 2006
HESAYS

Soal kuis:
Diketahui:
A dan B pacaran.
A dan B tinggal di beda kota.
Masalah milik A = sulit mempercayai apakah B masih cinta.

Pertanyaan: Apakah Masalah milik B?

Jawaban: Masalah si B = kesulitan membuktikan bahwa dia masih cinta pada A.

Pernahkah kita berada dalam situasi ini:
– Tiga kali dering telfon tidak diangkat, dia marah.
– Dua hari e-mail tidak dibalas, dia kirim email lagi dengan font MERAH KAPITAL DAN 1000 TANDA SERU!!
– Keinginan menyudahi percakapan telfon interlokal dipandang sebagai cerminan ‘sudah tidak sayang’.
– Kita bertanya apakah di kota dia sedang musim buah Manggis dan dia balik bertanya apakah kita sudah selingkuh dengan orang lain.

Jika jawaban anda “ya”. Ini satu tips untuk anda: Tinggalkan dia. Segera. Kenapa?

Manusia adalah creature of habit. Nyaman dengan apa yang ada, selama semuanya tercukupi. Sedapat mungkin kita tidak akan pindah lingkungan jika memang benar-benar tidak perlu. Seseorang tidak mungkin meninggalkan lingkungannya jika dia tidak yakin bahwa ada peruntungan lebih baik di lingkungan lain. Salah satu konsekuensi dari hal ini adalah: LDR.

Kita kuliah beda kota karena di kota ini, pendidikan lebih baik. Belum ada orang pindah kota untuk kuliah di tempat yang lebih buruk.

Orang berani pindah kerja ke luar negeri karena (mungkin) penghasilan yang lebih baik. Tidak mungkin orang pindah ke negara lain karena “Gue pengen aja sengsara, jek.”

Dalam konteks pernikahan, mungkin pernah kita dengar seorang ayah menolak beasiswa S3 ke Jerman karena tidak ingin jauh dari istri dan anak. Ini dapat dimengerti. Keluarga adalah segalanya dan membina keluarga wajib hukumnya dalam agama. Lain dalam konteks pacaran di mana pacaran itu sendiri tidak ada hukumnya.

In short, dalam konteks pacaran, kita berani bersusah-payah merantau mencari hal yang lebih baik karena kita tahu hal itu worth all the sacrifices. Kita tahu bahwa in the long run, susah-payah ini adalah investasi untuk buah yang lebih baik. Dan yang paling penting adalah: “ada hal lain di dunia ini yang penting bagi gue selain pacar”.

Yang terjadi sering kali adalah kebalikannya. Kita yang sudah merantau jauh, harus selalu membuktikan diri kita bahwa si dia masih di atas segalanya. Si dia masih lebih penting dari semuanya. Bahwa setiap telfon harus diangkat. Setiap e-mail harus dibalas. Dan jika telfon sudah diangkat, standar meningkat menjadi harus diangkat dengan cepat. Sekarang e-mail harus dibalas dalam satu hari. Setiap hari kita menjadi objek penderita betapa si dia haus dicintai namun kurang haus mencintai dan mendukung misi dari rantau kita.

Pasangan yang menekan kita untuk terus membuktikan cinta kita padanya, bukanlah pasangan yang baik karena dia lupa dengan konsep dasar mencintai seseorang.

“You are the most important thing to me, but you’re not the only important thing to me.”

Kita pergi kuliah beda kota untuk membangun masa depan yang lebih baik. Jika sampai masa depan kita baik, kan gunanya untuk si dia juga.

Cinta yang paling murni adalah bersusah-payah pergi jauh dan berusaha lebih keras untuk menjamin masa depan yang lebih baik bagi pasangan kita. BUKAN bersusah-payah setiap saat membuktikan ke mereka bahwa kita masih tetap sayang.

Ini bukan masalah gender. Pria dan wanita sering mengalami hal serupa. Ini masalah apakah pasangan kita sadar bahwa mencintai seseorang bukan berarti harus selalu hadir dalam kehidupannya, namun tetap hadir di hatinya.

LDR is tough dan tidak semua orang cukup dewasa untuk melihat investasi jangka panjang dari sebab mengapa kita harus LDR. Tapi dari hal itu kita dapat pelajaran berharga. Itu adalah ujian dan pertanda, apakah dia memang jodoh yang baik bagi kita.

Atau,

jika semuanya kita balik,

apakah kita yang jodoh terbaik untuk dia.

Think about it.

SHESAYS

Orang sering mendenotasikan suatu tempat yang jauh dengan Timbuktu.

Dimanakah Timbuktu?
Berapa jam perjalanan yang dibutuhkan untuk pergi ke sana?
Ada apa di Timbuktu?

Timbuktu berasal dari kata Tombouctou, yang dalam bahasa Prancis berarti ‘sebuah sumur yang dimiliki seorang wanita yang bernama Bouctou’. Bouctou sendiri berarti pusar. Pada beberapa abad yang lalu, Timbuktu merupakan pusat pertemuan para pedagang yang datang dari belahan utara, timur dan selatan Afrika dengan para pedagang di Afrika barat.

Timbuktu terletak di sebuah negara bernama Mali, Afrika Barat. Tidak jauh dari gurun Sahara. Pada masa dinasti Mandingo Askia (1493-1591), Timbuktu merupakan pusat ekspansi Islam, pusat ilmu pengetahuan dan spiritual. Sampai saat ini, tiga masjid besar dengan teknik pembuatan tradisional masih berdiri di sana.

Lalu, kenapa orang sering mendenotasikan Timbuktu dengan sebuah tempat yang jauh?
Karena saat itu, Timbuktu adalah tempat yang sulit untuk dicapai. Tersebar rumor bahwa Timbuktu adalah tempat yang makmur dan banyak terdapat emas, sehingga banyak kawanan bandit yang siap merampok siapapun yang akan memasuki atau meninggalkan Timbuktu.

Timbuktu is always associated with the most remote place in the world.
Simply because it’s not easy to get there.

And maybe it’s also not easy to have a long distance relationship. Some survive and some die along the way.

Banyak kekhawatiran ketika pasangan harus pergi ke tempat yang berbeda benua. Sehingga kita, kaum perempuan, harus menjalankan a long distance relationship.

He’s the cutest man alive.
Now, he is living a thousand miles away from you.
Is he going to love you the same way?
Is he going to be loyal to you?
DOES he even think about you?

Having problem to communicate with the one you love is one thing for sure. Waktu yang terpaut beberapa jam akan membuat jarak dimana dia tinggal begitu jauh seperti bayangan orang akan Timbuktu.

There will be time when you cry so hard, missing him but you can’t do anything. Masa-masa dimana menangis adalah agenda kita setiap hari lalu berubah membuat kita marah. Ketika sudah beberapa e-mail tidak terjawab dan saat beberapa hari tanpa telepon, bayangan awan hitam di atas kepala kita lalu muncul.

“It doesn’t take 5 hours to reply my e-mails though.”
“Calling me is not as hard as making a pyramid in Egypt.”
“He doesn’t have to build Taj Mahal to tell me that he loves me. All I need is his attention.”

Hundreds years ago when merchants tried to go to Timbuktu, they were afraid to be robbed by bandits.

This what happens to us. We’re thinking somebody may rob his heart.

Lalu apa yang terjadi saat dia membalas e-mail dan mengatakan bahwa banyak tugas kuliah yang harus dikerjakan?
Apa yang akan kamu katakan saat dia menelepon to say how much he loves you?

Mungkin hal yang terbaik dilakukan ketika menjalani a long distance relationship adalah, stop worrying. Pikiran negatif yang ada dikepala kita lah yang selama ini telah merampok kepercayaan kita terhadap pasangan.

Hubungan jarak jauh memang tidak mudah untuk dilakukan. Tapi harus ada keyakinan yang tumbuh dalam diri kita sendiri bahwa pasangan kita pergi sejauh itu untuk membangun masa depan bersama kita, kelak. Hey, he loves you too! Remember?

In a long distance relationship, akan ada dua hal yang mungkin terjadi.
Saat terlalu banyak pikiran negatif yang merampok, maka hubungan jarak jauh akan crash di tengah jalan. There will be more yelling sessions. Pasangan kita akhirnya bosan dengan pertengkaran-pertengkaran yang terjadi. He starts looking for someone new.
And in the end, someone definitely robs his heart.

Tapi…

Ketika kita mampu menjalankan a long distance relationship, I’m sure he will love you further than Timbuktu.
Secara geografis, dia memang jauh tapi hatinya dekat dengan kita. With your support and understanding, you don’t have to worry someone may rob his heart…
because,
he already puts it in the box and you are the only one who have the key.

So, do you have what it takes?

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply