read & write

heart – the novel

April 20, 2006

mes amies…
my third novel IS OUT NOW.

1 – Masa Kecil

Basket
Sore di Jakarta. Langit mendung tapi tidak ada tetesan air yang turun dalam bentuk hujan. Dua orang anak kecil berumur 10 tahun berlari-lari berebut bola. Mereka sama-sama berambut pendek. Yang sedang memegang bola, seorang anak perempuan tomboy bernama Rachel. Yang berusaha merebut, seorang anak laki-laki bernama Farel.

“Huuu, mana… katanya jagoan. Main basket kok kalah terus sih dari gue?”
“Gua sengaja ngalah kok.”
Rachel menjulurkan lidah. Hooop! Bola yang diarahkan Rachel masuk ke dalam ring yang dipaku pada pohon besar.
“Yay!!! Masuk lagi!” Rachel mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi. “Jadi berapa skornya? 18 – 0, ya?”
Farel lalu mengambil bola basket. Ia memantulkannya ke tanah. Cemberut.
“Lo belum tau sih siapa nama panjang gua. Farel Jordan!”
“Hahaha…, ngaku-ngaku sodaranya Michael Jordan lagi. Kalah sih kalah aja. Emang susah ya ngaku?” Rachel menjulurkan lidah.
Farel terus mendribel bola sambil mencari posisi untuk memasukkannya pada ring. Sial, lagi-lagi Rachel secepat kilat merebut. Farel berusaha menutupi kekesalan. Bola kembali masuk dalam ring.

“Gimana Farel Jordan? Masih mau main?”
“Udah gua bilang, gua sengaja ngalah tadi. Tapi, ya udah, deh, sekarang gua mau main serius.”
Rachel tertawa. Ia melemparkan bola pada Farel.

Farel mengatur napas. Harus masuk! Harus masuk! Ujarnya dalam hati. Masa sih kalah sama Rachel. Perempuan tomboy itu seperti tidak kehabisan energi. Ia menghalang-halangi pandangan Farel dengan menyilangkan tangan di udara.
Farel berusaha mengecoh, tapi sayang, usaha itu sia-sia. Rachel seperti cenayang. Bisa membaca pikiran Farel. Bola kembali dikuasai Rachel.

“Huh!”

Farel berpikir keras. Ia tidak boleh membiarkan Rachel memasukkan bola. Diam-diam, Farel merenggut pinggang Rachel dari belakang. Rachel jatuh. Bola menggelinding ke tanah, Farel dengan cepat mengambil.

“Farel curaaang!” protes Rachel.
“Hahaha…”

Langit semakin gelap. Rintik air pelan-pelan menembus tanah.

Farel mendribel bola pelan-pelan. “Udahan, ah! Gerimis, nih.”
“Tuh, kan…, udah curang sekarang malah ngajak udahan.”
“Males main basket kalo ujan gini. Ntar dimarahin Mama. Baju kotor.”
“Bilang aja lu capek!”
“Lagian kalo main basket lagi ujan gini kan bisa bikin sakit. Gua sih justru kasian sama lo, ntar sakit…, gua deh yang disalahin.”
Rachel tertawa. “Mana pernah sih gue sakit? Elu tuh yang dikit-dikit nggak masuk kelas gara-gara sakit.”

Rintik hujan lama-lama berubah menjadi besar. Suara petir menyambar membuat Rachel berlari menjauhi Farel yang sedang menembakkan bola ke dalam ring. Masuk.

“Yay!”

Sepi.
Farel membalikkan tubuh. Rachel tidak ada di belakangnya. Ia malah berlindung di bawah pohon. Farel meraih bola lalu berlari menghampiri Rachel.

“Liat nggak tadi bolanya masuk?”
“Nggak!”
“Tuh, kan…, yang curang itu siapa coba. Giliran gua main serius dan bola masuk, lo nggak liat.”
“Hahaha.”
“Eh! Malah ketawa lagi.”
“Udah, deh, lu nggak bakalan menang dari gue.”
“Enak aja!”

Ukiran di Pohon
Hujan makin deras. Baju mereka basah. Farel menggigil kedinginan.

“Brrggghhh…, hujan gede banget, sih.”
“…”
“Gimana pulang coba? Nggak bawa payung.”
“…”
“Rachel?”
“…”
“Rachel?” Farel mencari-cari sahabatnya. “Rachel? Lo di mana?” Ia mengelilingi pohon, tapi Rachel tidak ada.

-Tuk-

“Aduh!” Sebuah batu kecil mendarat di kepala Farel. Farel otomatis mendongak.
“Nyari-nyari gue, yaaa?” Rachel tertawa. Dengan santai ia duduk di cabang pohon.
“Ih! Ngapain sih manjat-manjat. Liat tuh baju lo udah kotor gitu!”
“Ntar dimarahin Mama,” ujar Rachel nyinyir.
“Kesambar petir baru tau rasa lo.” Farel melemparkan bola ke arah Rachel.

Dengan muka komik Rachel tertawa sambil menepis bola. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku celana. Benda logam itu mengilat. Farel dapat melihatnya. Sebuah pisau lipat.

“Ya, ampuuun…, bawa-bawa pisau lipat dari tadi? Dasar preman!”
“Bodo!” Rachel memahat sesuatu di pohon itu tanpa memedulikan Farel yang mulai terlihat pegal mendongak ke langit.
“Ngapain, sih?”
“Bawel!”
“Ih! Judes banget sih jadi orang.” Farel mengusap wajahnya yang basah.
“Gue lagi nulis, tau!”
“Nulis apa, sih?”
“Baca aja sendiri.”

Farel diam.
Sial! Gua kan nggak bisa manjat pohon.

“Oi!”

-Tuk-

“Awww!”
“Bengong aja lu!”
“Aduh! Jangan lemparin gua terus, dong! Sakit, tau.”
“Mau baca, nggak?” Rachel memamerkan senyum komik lagi. Seperti menantang.
“Alaaah! Lo pasti nulis yang ngeledek-ledek gua gitu, ya…”
Kaki kecil Rachel bergerak bergantian dengan cepat. Ia tertawa keras-keras.
“Heh! Ketawa sendiri. Kayak orang gila!”
“Hahaha…”
“Rachel! Turun, dong! Udah, dehhh…”
“Gue tau! Gue tau! Lu pasti takut manjat, kan? Lu pasti nggak bisa manjat pohon, kan?”
“Sembarangan lo!”
“Ya udah…, m-a-n-j-a-t, dooong!” Rachel menantang Farel sekali lagi.

Ketipu!
Farel melipat kedua tangannya dengan kesal. Bola basket ia injak dengan kaki kiri agar tidak bergerak bebas.

“Farel nggak bisa manjaaattt!!!”
“Sssh! Berisik!”
“Hahaha.”
“Jadi, dari tadi lo pikir gua nggak bisa manjat?”
“Farel nggak bisa manjaaattt… Farel nggak bisa manjaaattt…” Kaki Rachel bergerak riang.

“Huh! Emang gua nggak bisa manjat, sih. Tapi kan males banget diketawain terus sama Rachel.” Farel tertunduk dalam.

“Wahhh…, harus berapa abad yaaa gue nunggu lu di atas sini.”
“Bawel!”
“Mau baca apa yang gue tulis, nggak?”
“Apa, sih! Ngomong aja, deh. Susah amat.”
“Makanya…, manjat, dong!”

-Tuk-

“ARRRGGGHHH!!!”

Lama-lama Farel merasa tertantang juga. Perempuan tomboy itu membuat hatinya panas. Farel menendang bola perlahan. Ia memutuskan untuk memanjat.

Farel menatap batang pohon besar di hadapannya. Tidak ada celah untuk kaki sama sekali. Bagaimana bisa naik?
Tapi, mendengar derai tawa jahil yang keluar dari mulut mungil Rachel, membuat Farel berusaha keras. Baru naik sedikit, Farel jatuh. Dahan pohon itu licin karena air hujan.

-Buk!-

“FAREL!”

Farel jatuh terlentang. Derai tawa Rachel yang riang berubah. Ia cemas.

“FAREL!”

Laki-laki kecil itu masih terlentang. Tidak bergerak. Kaku di atas tanah sambil dibasahi aliran hujan.

“Aduuuh!” Rachel segera turun dari pohon.

Muka komik itu berganti dengan muka yang cemas. Rachel segera menghampiri Farel. Ia mengibaskan tangannya. Farel tidak bereaksi. Rachel mendekatkan tangan untuk merasakan hembusan napas Farel. Sama sekali tidak terasa. Napas Farel seperti berhenti. Rachel makin cemas.

“Aduuuh…, apa gue harus ngasih pernapasan buatan, ya?”

Mata kecil itu memandangi wajah Farel dengan gelisah. Setelah berpikir tiga menit, Rachel memutuskan untuk memberi Farel pernapasan buatan. Ia membungkuk. Bibirnya mendekat. Kekhawatiran semakin tergambar jelas di mata Rachel yang bening.
Ketika jarak semakin dekat, jantungnya berdegup kencang. Tiba-tiba mata Farel terbuka. Rachel kaget.

“Boo!”
“Hah?”
“Ketipuuu…, hahaha!”
“Sial!”
“Hahahaha!”
“Jahat, tau, nggak.”
“Jahat, tau, nggak.” Farel dengan jahil menjulurkan lidah.
“Awas, ya!”
“Mau ngapain lo? Suka yaaa sama gua?” Farel terkekeh.
“Bhuuu! Enak aja.”
“Hahaha…, ngaku aja, deh! Ngapain deket-deket gitu tadi.”
“Sial lu! Kirain pingsan beneran.” Rachel tertawa. “Gue kan mau ngasih napas buatan.” Beberapa kali tinju Rachel mendarat di lengan Farel.
“Aduududududuh…”

Farel berlari di tengah hujan. Rachel berusaha mengejar. Derai tawa kembali mengisi mereka. Dua anak kecil itu berlari-lari di bawah langit mendung yang riang menurunkan air.

You Might Also Like

1 Comment

  • Reply Afifatul Nur A March 8, 2014 at 8:33 pm

    kpan heart series masa kecil farel,rachel di muncul kan d tv lagii ..

  • Leave a Reply