guest & press

Not My Cup of Coffee

June 15, 2006

Kalau tak suka minum teh, tak perlu memaksa orang lain untuk minum kopi. Inilah makna mendalam yang hendak disampaikan oleh Ninit Yunita, seorang penulis/blogger.

Setiap orang pasti pernah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidupnya. Kalau diingat-ingat lagi, saya harus mengalami patah hati beberapa kali sebelum menikah dengan suami saya yang sekarang. Saya tidak pernah mendapat nilai A pada sebuah mata kuliah meski sudah mengulang sebanyak dua kali. Kalau dibuat daftar, pasti merupakan daftar yang panjang. Kalau diceritakan mungkin bisa menandingi pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Jadi singkatnya, rasio sedih berbanding senang jauh lebih besar sedih.

Mungkin manusiawi bila kita sedikit mengeluh jika baru saja mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Asal porsinya wajar. Tapi jujur saja, saya cukup terganggu bila seseorang mengeluh dengan porsi yang keterlaluan. Coba bayangkan, bila kita harus mendengar keluhan seseorang sepanjang musim hujan berlangsung. Tentu sangat membosankan.

Seorang teman yang saya kenal sering curhat selama dua abad kepada saya. Ia sering mengeluh karena saat sedang menikmati menjadi seorang wanita karir, ia memutuskan untuk menikah. Bukan itu saja, karena menikah dengan pria yang berbeda bangsa, ia harus berdomisili di negara dengan empat musim yang tidak seramai Jakarta. Ditambah, tidak lama setelah menikah, ia langsung hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang lucu. Singkat kata, dia tidak menyukai statusnya sebagai ibu rumah tangga yang dianggap tidak berkelas seperti saat dia berkarir dulu.

Awalnya saya masih merasa wajar saja bila dia mengeluh. Saya juga saat itu mengalami hal yang sama dengan yang terjadi padanya, mengikuti suami ke luar Indonesia dan ditempatkan di negara yang sedang berperang pula di Afrika. Negara yang katanya paling maju di belahan barat Afrika meski keadaannya tidak berbeda dari Indonesia pada 20 tahun yang lalu. Tapi saya beruntung. Tidak seperti dia, setelah satu bulan saya justru sangat menikmati. Saya yakin pengalaman ini akan berharga di kemudian hari, dan belum tentu akan terjadi dua kali.

Satu dua bulan, saya masih sabar menanggapi keluhannya bila kami bertemu di yahoo messenger. Tapi lama-lama, saya menyerah. Beberapa kali saran halus saya tidak pernah didengarkan. Saya terpaksa sedikit keras. Teman saya itu tersinggung dan menuduh saya sebagai orang yang tidak memiliki empati. Sampai sekarang, dia selalu berstatus busy bila saya sedang online.

Minggu lalu, saya sedang menunggu suami yang sedang meeting dengan beberapa rekannya di sebuah kedai kopi. Sambil menunggu, saya duduk sendirian membaca buku. Tidak disangka, beberapa menit kemudian, seorang teman sekolah saya di Bandung datang menghampiri. Dari dulu saya mengenal dia sebagai orang yang sangat kecanduan dengan kopi. Tidak ada hari tanpa kopi. Kebiasaan itu rupanya tidak berubah sampai sekarang. Jadi tidak mengherankan juga jika saya bertemu dia di kedai kopi ini.

Karena teman lama, kami banyak menghabiskan waktu mengobrol. Menanyakan kabar teman lama. Kapan sekolah kami akan mengadakan reuni dan membuat janji untuk datang bila ada, sampai akhirnya dia bercerita bahwa ia baru saja diputuskan pacar. Mantan pacarnya adalah seseorang yang sangat saya kenal dari kecil. Saya tersenyum. Jangan-jangan keluhan dia akan berbuntut panjang seperti pengalaman saya dengan teman yang menyesali nasibnya menjadi ibu rumah tangga.

Dugaan saya benar.

Teman saya itu lalu bercerita bahwa mantan pacarnya itu adalah tipe pria mata keranjang dengan label buaya. Kurang perhatian, tidak pernah membelikan dia sebuket bunga dan sangat kaku. Lalu selama empat puluh menit dia menambahkan porsi kejelekan mantan pacar dalam usaha membuat saya satu kubu dengannya, sebal kepada mantan pacarnya itu.

Saya yakin, bukan hanya dia yang mengalami kekecewaan dalam menjalani kisah cinta. Saya pernah. Sahabat saya pernah. Suami saya juga pernah. Dan saya yakin, jutaan perempuan di Jakarta juga pernah mengalami hal yang sama. Tapi, ya sudahlah. Life must go on. Pacar tidak akan kembali dan berubah menjadi The Beast bila kita menjelek-jelekannya.

Sebelum dia berpamitan pergi, dia mengatakan sesuatu. “Tapi biar deh putus sama dia. Setelah dipikir-pikir… he’s not my cup of tea.”

Saya tertawa sambil berkata. “You never ‘drink tea’, anyway.”

>>untuk artikel point of view majalah eve indonesia.

>>comments:
Neng,

Meminjam istilah cup of tea-mu…, kita ini emang layaknya cangkir yang kosong dan terus di-isi oelh segala macam perihal, termasuk curhat-curhat itu, dimana case-file tiap orang punya kapasitas tampung pada your-cup-of-tea itu.

Once your cup is full-for this particular curhaters, then your cup is full!- no more space anymore, you’ve done enough for the fellow/gal. He/she MUST moved on, or otherwise it would ruin your system by keep on over-pouring his/her misery. I experienced that once, and never more..

So.. when your cup is full.. then your cup is full ask him/her to stop pouring, as it spills over and making a real mess :D
———–
Hugs and warm regards for both of you – still in west africa, indeed.
Luigi | Homepage | 07.09.06 – 12:55 am | #

Duh … Ninit, koq lagi-lagi tulisannya nyambung banget yaaa? Beberapa hari ini Qq belajar banyak ttg ini dan menemukan bahwa emang jalan dariNya untuk membuat kita bertemu orang-orang yang ‘tidak tepat’ sebelum akhirnya ketemu the right person. Skrg lagi berusaha utk tidak melakukan curhat yg keterlaluan … hehehehe. Just let him go and move on!
qq | Homepage | 07.09.06 – 5:29 am | #

you are completely right and i share your view that the curhaters are doing themselves a disservice by complaining too long. but did you know that i used to be one of them? maybe i still am but at least i stop myself when i catch myself doing it.
the other note i want to share is that for me, the complainers are not too bad because you can enjoy them at many levels.
first, the level of genuine empathy and soft advice as you put it. when that is exhausted by endless hours of talking in circles, the curhat-receiver either ‘moves on’ or shifts to a different listening mode. this is easy if you haven’t anything better to do anyway. in my case that is true, because my main occcupation is figuring out what makes people tick. once you look at your curhater as an object of of study, she becomes quite interesting. i say ‘she’ because i feel funny curhating with a guy.
maybe it is because i am conscious of my own weaknesses, that i study complainers to figure out whether i am one of them.
oops, at least i catch myself talking too long, which is the first sign of a bore, the category where complainers belong.
ww | 07.09.06 – 6:41 am | #

bener banget teh ninit! membaca ini membaut saya merasa tak sendiri :P dan menyadari abhwa ini adalah hanyabagian dariperjalanan hidup.
asty | Homepage | 07.09.06 – 11:00 am | #

hehe, human..never satisfied with their condition :p cukup didengarkan dan disenyumin aja, mbak..gak usah ikut dipikirin biar gak ikutan capek :p
-chie- | Homepage | 07.09.06 – 2:12 pm | #

Bagusssss Nittt…kadang emang kita suka ngerasa teu enak kitu nya kalo ada yang ngeluh wae teh, didenger wehh bari kita teh udah kesel, atau sebaliknya kita ngeluh terus ga liat kalo temen kita juga dah enek..hihii

thx udah ngingetin
Op | Homepage | 07.09.06 – 2:16 pm | #

setuju teh!!!u cant insist someone to drink ur “tea”

eh..teteh atau tante yah?
kalo beda 11 taun masih teteh apa tante?
nuhun nya..
chanchan | 07.10.06 – 12:16 am | #

hehehhehe… gue juga baru nyadar itu loh (dimana kita kalo’ curhat kebanyakan ngeluhnya ketimbang bersyukurnya). Padahal *ini yang gue belajar* justru dengan semakin banyak menceritakan keluhan, kita tidak akan pernah menambah hal-hal yang baik dalam kehidupan kita. yang ada malah bt dan nggak enjoying life.

hehehehe… idup cuman sekali, kapan lagi kita bisa enjoy kalo’ bukan di kehidupan yang sekarang?

hehehehe… di-busy’in??? mmm… probably she just need some time to be busy, thinking of your words always look at the bright side, cause life is like a coin, there are two sides in everything…

hehehehe… tante tante kaleeeee nih gueeehhh
ime’… | Homepage | 07.10.06 – 12:28 pm | #

Wahaha mentang2 tulisannya panjang, commentnya pada panjang2.

Yang jelas, this is really our-cup of tea-story. Keep up your good work Ninit…
sunardi | Homepage | 07.10.06 – 2:16 pm | #

Ninit, gue link blognya ya? Boleh?
Uwee | Homepage | 07.10.06 – 8:08 pm | #


You Might Also Like

4 Comments

  • Reply Ninit Yunita (@istribawel) (@istribawel) August 19, 2011 at 1:37 pm

    Not My Cup of Coffee http://t.co/gs4SOzy #oldposting

  • Reply Shasha Shakinah (@shashakinah) August 19, 2011 at 1:56 pm

    Great post teh :) RT @istribawel: Not My Cup of Coffee http://t.co/n6hJfii #oldposting

  • Reply Anggie Basuki (@cumcumcum) August 19, 2011 at 2:19 pm

    :’) nuhun teh di ingetin (lagi) RT @istribawel: Not My Cup of Coffee http://t.co/nAnpKzs #oldposting

  • Reply Cila (@riztarizta) August 20, 2011 at 11:04 am

    *cakar dinding* RT @istribawel Not My Cup of Coffee http://t.co/Iml1K7B #oldposting

  • Leave a Reply