read & write

mendadak dangdut

July 18, 2006

“Selamat datang dangdut maniaaaa…”

“Wittttuwiwwww…”
“Dangdut mania se-Kali Deres. Bahagia sekali hari ini kami orgen tunggal Senandung Citayam hadir di sini untuk menghibur anda semuanyaaa…”

Rizal sudah ada di atas panggung. Sementara saya berada di balik panggung, sedang membedaki Petris. Kali ini, saya membedaki dia 5 kali lebih tebal dari biasa. Hal ini membuat Petris lebih terlihat seperti pemain wayang orang daripada penyanyi dangdut.
Iya! Saya masih kesal melihat acara flirtingnya Rizal pada Petris.

“Uhukkk…, uhuuuuk…” Petris terbatuk karena bedak yang saya taburkan over dosis.
“Sekarang balik badan! Ikatan pita baju kamu belum dikencengin.”
Petris berbalik. Saya mengencangkan pita dengan sekuat tenaga karena selain kesal gara-gara Rizal, saya juga kesal karena selama ini Petris sering memperlakukan saya seperti babu.
“ADUUUUOH! Kak! Lo sengaja ya?” Petris kesakitan.
Saya membalikan badan Petris dengan paksa. “Sengaja? Ngga tuh.”
“Uhuhuukk…, uhuuuuk…”

Dari panggung, terdengar Rizal masih bernarasi.

“Saya panggilkan, fenomena alam dangdut terdahsyat saat ini. Tidak lain dan tidak bukan dan tidak salah lagi… IIS MADUMA!”
“IIS! IIS! IIS!”
“Horeee… Iis Maduma…, aku padamuuu…”

Mendengar nama panggung Petris dipanggil, saya langsung mendorongnya. “Tuh, sana manggung!”
“Aduh!”

Petris menoleh dengan ekspresi kesal dengan sikap saya. Saya pura-pura tidak peduli. Salah dia sendiri sering memperlakukan saya seperti babu daripada seorang manajer.
Saya langsung mengalihkan pandangan. Penonton cukup banyak yang menunggu aksi panggung Petris. Sebagian dari mereka malah ada yang membuat spanduk sederhana yang terbuat dari karton manila.

IIS MADUMA! ENGKAU IDOLAKU. ENGKAU INSPIRASIKU.

IIS MADUMA IS THE BEST!

IIS MADUMA… MAJU TERUS PANTANG MUNDUR!

I LOVE IIS MADUMA.

“Selamat sore penonton Kali Deres. Apa kabaaaaaaar?”

Penonton riuh menyambut Petris menyanyi di atas panggung.

“Oke, sebagai lagu pembuka pertemuan kita kali ini, gue mau nyanyi lagu baru yang diciptakan oleh Rizal Saleh Alkatiri. Judulnya… ‘Nasib Pembantu’… ayo yang di pojok sana, ikut gue goyang yaa!”

Rizal mulai menekan tuts organ sambil sesekali kepalanya bergoyang ke kanan dan ke kiri.

Kata orang di atas bumi
Kita semua sama
Kata orang di mata Tuhan
Tidak ada miskin dan kaya
Katanya… aaa…
Katanya

Kalau memang benar begitu
Kenapa nasibku jadi babu
Kerja apapun ku tak malu
Tapi hidup kok ngga maju-maju
Celana… aaa…
Cuma punya satu

Meski banyak padi di sawah
Hatiku selalu resah
Meski tlah ganti pemerintah
Hidupku selalu susah

Oh nasib
Pembantu
Selalu
Di suruh-suruh

Tiga ratus lima puluh tahun lamanya
Bangsa kita dijajah oleh bangsa asing
Tapi kenapa sekarang penjajahan itu
Masih terus berlangsung
Hanya saja bangsa sendiri
Menjajah bangsa sendiri.

Hah?
Ngga salah nih lagu?
Gila, mendengar lagu ini kok saya serasa mendengar soundtrack hidup saya sendiri?

Wait!
Lagu ini kan pasti ciptaan Rizal.
Jangan-jangan dia terinspirasi dari perlakuan Petris terhadap saya!

Ah!

Tidak terasa mata saya berkaca-kaca karena begitu menjiwai lirik lagunya.

Yah, saya…, Yulia Pontoh. Kakak sekaligus manajer Petris yang lebih sering dianggap sebagai babu.

>>>
– Untuk mendengarkan lagu Nasib Pembantu/ Mars Pembantu silahkan klik di sini.
– Homepage Mendadak Dangdut.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply