writing

Sepatu Andalan Titi

May 22, 2009
Bagi Titi, cowok itu ibarat sepatu.

Setiap perempuan membutuhkan sepatu. Lebih tepat lagi, sebuah sepatu andalan yang bisa dipakai kapan saja saat dibutuhkan. Seperti sepatu yang sudah ada tiga tahun ada di bagasi mobil Titi. Warnanya hitam. Haknya hanya tiga senti. Harganya juga tidak mahal. Sepatu itu tidak berlabelkan Manolo Blahnik, sepatu yang diciptakan oleh seorang Spanyol yang sangat digila-gilai oleh Carrie Bradshaw dan jutaan wanita lain di belahan dunia ini.

Sepatu itu, Titi beli saat berlibur ke Bandung bersama teman-teman kuliah. Iseng-iseng dia mencobanya ketika berbelanja baju di sebuah factory outlet di jalan Riau. Eh! Ternyata, sepatu itu nyaman sekali. Bagi Titi yang memang penggila sepatu, harga sepatu yang dia coba itu juga tidak mahal. Tanpa pikir panjang, Titi membelinya. Dan sampai sekarang, sepatu itu menjadi sepatu yang sangat diandalkan Titi.

Dulu, saat sepatu Jimmy Choo oleh-oleh dari Tante Sarah secara tidak sengaja tersangkut besi penutup gorong jalan sampai haknya patah, sepatu hitam murah itu yang bisa ‘menyelamatkan dia agar tidak tampil ‘pincang’ di acara ulang tahun Marina. Sejak peristiwa itu lah, Titi sangat sayang pada sepatu murah berwarna hitam. Maka, ia menyimpannya di bagasi. Sebagai cadangan bila sepatu yang ia pakai bermasalah.

“You are my lucky shoes.” Gumam Titi setiap kali dia melakukan ritual membersihkan sepatu hitam itu.

Titi si penggila sepatu mungkin sadar kalau Zaki juga sangat tergila-gila pada Titi. Sudah dua tahun terakhir ini, Zaki ‘digantung’ tanpa kepastian.

Satu tahun yang lalu.
“Saya sayang banget sama kamu, Ti…” Ujar Zaki dengan tulus.
“Aku juga sayang sama kamu. Tapi…”
“Tapi?”
“Tapi, aku pengen kita tetep seperti ini. Ngga usah jadian.”
“Hm?”
“Aku ngga siap terikat.”
“…”
“Kayak gini aja. Kita bisa jalan kapan aja. Kamu bisa nelpon aku kapan aja.”
Zaki menghembuskan napas panjang. Sedikit kecewa dengan pernyataan Titi. “Tapi…”
“Percaya deh sama aku, kita mendingan kayak gini. No commitment. Aku belum siap terikat dan aku ngga bisa kalo kamu pengen lebih dari itu.” Potong Titi dengan santai.

Zaki memang tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti apa kata Titi. Ia sudah terlanjur sayang dengan perempuan penggila sepatu itu. Titi memang menarik. Berwajah oval, kulit yang sangat terawat dan potongan rambut ala Cleopatra membuat Zaki seperti Marcus Anthonius alias Mark Antony yang sangat tergila-gila pada perempuan jelita dari Egypt.

Sementara bagi Titi, Zaki hanya laki-laki yang ia simpan di ‘bangku cadangan’ Zaki bisa dikatakan bernasib seperti sepatu hitam andalannya. Disimpan di bagasi dan hanya dipakai pada saat-saat tertentu.

“Kamu tuh jahat banget deh Ti sama Zaki.” Komentar Marina saat mereka berdua sedang duduk santai di kantin jurusan.
“Jahat?” Titi langsung meletakan botol minuman dingin yang sedang ia nikmati.
“Iya lah, cowok baek kayak dia kamu jadiin cadangan gitu.”
Titi hanya tertawa.
“Lho, kok malah ketawa sih Ti? Aku serius nih.”
“Marina…, kamu inget kan sepatu hitam yang aku beli di Bandung?”
“Iya, sepatu yang selalu ada di bagasi mobil kamu.”

Titi tersenyum.

“Hubungannya sama Zaki?”
“Sepatu itu, meski murah dan ngga berlabel Manolo Blahnik atau Kate Spade, adalah sepatu ternyaman buat aku. Nah, Zaki itu ngga jauh beda deh.”
“Ha?”
“Aku nyaman sama dia. Dia baik dan pengertian banget. Tapi ngga salah kan kalo aku suka juga sama yang lain?”

Marina mengangkat bahu.

“Perumpamaannya sih kayak aku suka sama sepatu-sepatu Jimmy Choo yang bagus-bagus itu. Ngga salah kan? Toch aku tetep nyimpen sepatu factory outlet Bandung itu.”
Marina menggelengkan kepala. “Titi…, Titi… Cowok kok disamain kayak sepatu sih?”
“Ferry lagi ngedeketin aku, Rin! Masa sih cowok keren di kampus kita ini aku lewatin aja? Sayang kan?” Mata Titi mengerling jahil.
“Aduuuh Titi! Masa sih kamu ngga tau gimana reputasi Ferry ke cewek-cewek?”
“Tapi kan dia keren, Rin. Udah lama banget aku suka sama dia tapi baru kali ini dia ngajak aku nge-date.”
“Ti…, Ferry itu suka mainin cewek! Udah deh. Stay away from him otherwise you will be his next victim!”
“Ferry tuh udah berubah, Rin. Dia sendiri yang ngaku sama aku.”
“Ah! Aku ngga percaya.” Tutur Marina dengan wajah yang sedikit judes. “Itu sih akal-akalan dia aja biar bisa jadian sama kamu.”
“Bener kok Rin. Dia beda banget sama yang orang-orang bilang.”
“Trus Zaki? Apa kabarnya tuh?”

Titi tidak menjawab pertanyaan Marina.

“Dua minggu yang lalu, aku masih liat dia nganterin kamu pulang abis kuliah.”
“…”
“Ti? Kok diem aja?”
“Iya, aku memang nelpon dia. Minta tolong jemput. Kan mobilku lagi masuk bengkel Rin. Mana hujan lagi.”
“Kenapa ngga telepon Ferry?”
“Mmmm…”
“Ferry lagi jalan sama cewek lain ya?” Marina tersenyum lebar.
“Ferry lagi latihan sepak bola. Jadi ngga bisa jemput aku.”
“Jadiii…, kalo Ferry ngga available, Zaki selalu jadi tempat pelarian nih?”

Titi menjawab pertanyaan Marina dengan senyum kecut.

Kasus Ferry sebenarnya bukan yang pertama. Dulu, Titi sangat tergila-gila dengan Reno, anak Teknik Industri. Jalan beberapa kali. Begitu menemukan hal yang membuatnya tidak sreg, Titi kembali menelepon Zaki. Belum lagi saat Titi didekati Bambang yang ternyata super posesif, Zaki adalah tempat Titi ‘kembali’.

Padahal untuk urusan tampang dan penampilan, Zaki termasuk oke alias bisa menyamai gaya dandanan Titi. Urusan akademis pun, IPK Zaki tidak pernah lebih kecil dari 2.5.
Tapi Titi seperti tidak melihat semua kebaikan Zaki. Semua orang selalu lebih dari Zaki. Tapi bila Titi dikecewakan oleh mereka, Titi selalu berpaling pada Zaki dan Zaki, memiliki tingkat kesabaran yang luar biasa, selalu menerima Titi dengan senang hati.

“Udah ah Rin, jangan ngomongin Zaki. Mendingan temenin aku yuk ke mall. Nine West lagi diskon lho… Aku pengen deh liat-liat koleksi sepatunya. Lumayan kan beli sepatu bagus trus dapet diskon?”
“Ya ampun Ti… bukannya minggu kemaren kamu baru beli sepatu di Zara?”
“Iya sih, tapi kan aku pengen liat-liat lagi. Siapa tau ada yang cocok.”
“Dasar ratu sepatu!” Marina tertawa.
Titi bangkit dari tempat duduk. “Rin, aku parkir mobil di ujung jalan Bangka. Tadi dateng kesiangan. Jadi aja, harus parkir di tempat berbatu gitu.”
“Yah gak apa-apa. Jalan agak jauh kan sekalian olah raga.”

Tempat parkir di kampus Titi dan Marina memang luas. Tapi, namanya juga Jakarta, tidak sedikit mahasiswa yang membawa mobil ke kampus. Titi yang biasanya datang lebih awal demi mendapatkan tempat parkir yang nyaman beraspal tebal, kali ini terpaksa memarkir mobil agak jauh dari kampus, di atas jalan yang berbatu.

Belum sampai mobil…

“ADUH!”
“Titi!”

Titi meringis kesakitan dengan posisi terduduk. Ia jatuh terantuk batu.

“Ti? Kamu ngga apa-apa?”
Titi menepukan kedua telapak tangan lalu berdiri. “Aku ngga apa-apa sih Rin. Tapi liat nih, sepatu yang aku pakai… haknya patah.”
Marina mengarahkan mata pada sepatu Titi. “Ya ampuuun…”
“Padahal sepatu ini baru sebulan aku beli, Rin…” Ujar Titi dengan raut muka yang sedih.
“Ya ampuuun…”
“Tapi biar deh, kan aku punya sepatu cadangan yang dari factory outlet Bandung itu.” Muka Titi sedikit cerah.

Dengan sedikit pincang, Titi berjalan menuju mobil. Ia membuka bagasi dan meraih sepatu hitam yang selalu setia menjadi andalannya bila hal-hal seperti ini terjadi.

“See? Sepatu ini…, ngga percuma aku beli. Nyaman dan selalu pas dengan model baju apapun. Jadi ngga pusing.”

Sepuluh menit kemudian, mobil Titi sudah melaju menuju sebuah mall di bilangan Senayan. Sampai di sana, Titi langsung mengajak Marina ke tempat incarannya.

“Aduh Ti, tapi aku laper berat nih. Makan bentar deh di food court. Yah?” Marina dengan muka memelas.
“Tapi kan Rin, tujuan utama kita kan ke…”
“Tujuan utama kamu kali… huhuhu… yah Ti? Please? Daripada aku jatuh pingsan pas kamu milih-milih sepatu gimana? Ribet kan?”
“Bentar aja kok, Rin…”
“Hey! I know you well… sebentar dalam kamus kamu nyari sepatu itu artinya dua jam.”
“Hehehe…, iya deh.”
“Tenang aja, toko sepatu itu kan ngga akan jalan kemana-mana kok.”

Marina dan Titi langsung menuju lantai atas dengan menggunakan escalator. Food court sore itu masih tetap ramai. Marina lalu memesan makanan sementara Titi hanya memesan minuman sambil melamun dengan sepatu-sepatu berkeliaran dalam pikirannya.

Tiba-tiba Titi melihat sosok seseorang yang sangat dikenalnya. Zaki. Ia berjalan menuju arah tempat duduk Titi dan Marina. Yang mengejutkan, ada seorang perempuan cantik melingkarkan tangannya di lengan Zaki.

“Rin! Rin!” Titi sengaja menginjak Marina yang sedang tekun menikmati ayam plus kentang goreng.
“Aduh! Apaan sih Ti?”
“Liat, siapa yang lagi jalan nyamperin kita.” Kali ini Titi berbisik karena Zaki dan perempuan cantik itu dalam dua detik sudah ada di hadapannya.
“Hallo Titi… Marina…” Zaki tersenyum lebar.
“Hallo Zaki!” Sapa Marina. Sementara Titi membalas senyum Zaki. Canggung.
“Abis shopping?”
“Belum sih, Titi nih pengen nyari sepatu. Tapi aku paksa ke sini dulu karena aku kelaparan berat.”
“Ooo… eh ya! Kenalin ini Alin… uhmmm, pacar saya.” Zaki tersenyum malu pada perempuan yang ada di sampingnya.
“Alin.” Perempuan cantik itu menyalami Titi dan Marina.
“Ya udah deh Ti, Rin… kita jalan-jalan lagi ya?”

Zaki lalu menjauh dari Titi dan Marina. Titi sempat memutar kepalanya beberapa derajat memerhatikan pasangan itu.

“Hah? Zaki? Pacaran?”
“Lho? Emangnya kenapa?”
“Kok tega sih dia pacaran? Bukannya dia suka sama aku?” Ujar Titi sedih.
“Dia udah minta kamu jadi pacarnya kan, Ti?” Marina lalu mereguk air mineral yang ada di meja.

Tiba-tiba perasaan menyesal mengambang dengan cepat dalam pikiran Titi. Iya, sekarang ia baru sadar bahwa ia sangat kehilangan Zaki. Orang yang selalu mendengarkan keluh kesahnya meski sudah lewat tengah malam. Zaki, orang yang selalu available setiap kali Titi membutuhkannya. Zaki, orang yang selalu membuat perasaannya nyaman.

Sekarang, Titi kehilangan Zaki.

Tanpa sadar, Titi menekan kakinya keras-keras ke lantai. Menyadari bahwa betapa bodoh dirinya selama ini telah menyimpan Zaki di ‘bangku cadangan’. Air mata mulai menggenang. Perasaan sedih yang tiba-tiba datang.

-TAK-

Hak sepatu andalan Titi patah.


dimuat di majalah spice tahun 2006

*Icon made by Freepik from www.flaticon.com

You Might Also Like

7 Comments

  • Reply wiwin May 22, 2009 at 9:42 pm

    ceritanya baguuuus teh Nit ;), novel terbarukah? :) sukses selalu yaa…

  • Reply okke May 23, 2009 at 1:36 am

    hehe…
    baru mau gw bilang, ini pernah dimuat di bonus kumcernya Spice kan?

    taunya ada tulisannya di bawahnya.

  • Reply Precious Lesson « wodeXistenze!..the sequel May 23, 2009 at 5:46 am

    […] Baca ini. […]

  • Reply bocahcilik May 25, 2009 at 1:18 am

    bukan jalan ceritanya si yang bikin saya terkesan, tapi cara penuturannya itu yang enak dibaca.

    ^_^

  • Reply ayuumi May 25, 2009 at 10:32 am

    wewwwww
    kita ga pernah sadara sampe kita kehilangan yah?
    uhmmm
    tehh boleh aku copy ga tuk ditaro di blog-ku beserta nge-linknya ?

  • Reply Ash! May 25, 2009 at 5:00 pm

    Aahh pantes pas baca dari atas, berasa kek pernah baca. Aku ingetnya malah Chocoluv :)

  • Reply Eline May 28, 2009 at 5:45 pm

    hih..pengen baca lagi cerita2 kaya testpack n kok putusin gw ituh.
    bagus selalu teh ^_^ *commet pertama salam kenal teh*

  • Leave a Reply