thoughts

Enough To Feel It By Heart

October 19, 2014

“Ga ngerti tapi enak banget.”
Itu komentar teman yang menumpang pulang setelah kami berdua selesai lari di GBK beberapa hari yang lalu.

Beberapa teman yang pernah naik mobil saya pasti tahu SOP saya bila ada teman yang menumpang.

“Sori ya! Denger lagunya dari handphone.” Lalu saya menerangkan pada teman kenapa dan penjelasan saya akan disambut tawa dari teman saya tersebut.

Saya senang mendengarkan musik. Di rumah, saya selalu mendengarkan lagu ketika saya menulis atau membaca buku. Demikian juga ketika saya menyetir mobil. Sayangnya, di mobil saya tidak bisa mendengarkan radio atau lagu dari audio mobil. Kenapa? Karena saya lupa pin car audio system. Tapi karena saya masih bisa mendengarkan lagu dari handphone, saya merasa tingkat urgensi untuk mengganti audio system di mobil tidak terlalu tinggi.

Malam itu saya memutar lagu Seul Au Monde. Saya mengenal lagu Corneille ini ketika masih tinggal di Abidjan. Dan teman yang duduk di samping saya berkomentar, “Ga ngerti tapi enak banget.”
Saya jadi teringat ketika pertama kali saya mendengar lagu tersebut. Sama seperti teman, saya juga tidak mengerti liriknya. Apa artinya. Bagaimana mengucapkannya. Tapi satu yang saya mengerti, saya menyukai lagunya. Enak didengar. Itu saja. Cukup.

Lucu ya kalau dipikir-pikir. Menyukai sesuatu yang tidak kita mengerti. Mungkin itu juga yang kita rasa ketika kita bertemu seseorang. Perasaan yang tidak bisa dijelaskan dan tidak bisa kita mengerti, tapi satu yang kita rasa… kita suka.

“Kenapa sih lo suka lari?”
Lalu kita kehilangan alasan. Setelah kening berkerut beberapa detik dan mengingat alasan yang bisa menjelaskan, tidak ada satu pun yang terpilih. Jujur, tidak mudah untuk menjawabnya karena semua itu cukup dirasakan oleh hati bagi sebagian dari kita. “Kenapa lari? Ya… lari aja.”

Tidak ada kamus yang bisa menerjemahkan kenapa kita pergi ke airport lebih pagi untuk seseorang. Simply karena hanya ingin mengantarkannya ke gate meski jam terbang pesawat kita masih 4 jam lagi.

“Cinta pada pandangan pertama? Ngga mungkin banget! Mana bisa? Buat gue, semua itu butuh proses. Ga kenal ga apa, masa cuma liat aja bisa langsung falling in love?”

Kita yang tidak percaya love at first sight, bisa mematahkan teori kita sendiri karena pada kenyataannya, kita bisa merasakan hal itu hanya karena terpesona menyimak presentasi seseorang.

Tidak mengerti kenapa ada senyum yang datang tiap kali melihat ada whatsapp ngga-penting dari dia. Kita juga tidak bisa menjawab kenapa hati kita merasa hangat cukup hanya dengan melihatnya saja, tidak lebih.

Mungkin benar. Kadang-kadang kita tidak perlu membuka kamus dan mencari arti untuk sesuatu yang tidak kita mengerti. Terlebih untuk masalah hati. Mungkin tidak perlu mencari tahu kenapa kita menyukai sesuatu atau bahkan seseorang.

Seperti lagu berbahasa asing yang liriknya tidak kita mengerti tapi enak didengar…

Cukup dirasakan oleh hati.

You Might Also Like