daily living

Mengenai Segalanya

November 18, 2014

Selamat Hari Ayah Nasional :)
Tanggal 12 November lalu diperingati sebagai Hari Ayah Nasional. Pastinya kita belum familiar karena kita lebih dahulu mengenal dan terbiasa dengan Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember.

Saya memanggil ayah saya dengan sebutan Bapak. Bapak saya, bukan orang yang mudah mengekspresikan sesuatu dengan kata-kata. Bapak di mata saya adalah orang yang keras tapi hatinya lembut. Karena Hari Ayah Nasional ini saya jadi terpental ke masa lalu, kembali menemukan kepingan masa kecil saya bersama Bapak.

Dari beberapa kenangan, tanpa sadar selalu ada nasihat yang Bapak katakan. Dulu mungkin tidak pernah saya dengar dan cerna dengan baik. Tidak sedikit dari kita yang menganggap orangtua kita terlalu preachy. Sedikit-sedikit “berceramah” dan memutar kisah masa lalunya, menceritakan tentang pengalaman. Padahal kalau disadari, semua itu tentu agar kita sebagai anak tidak mengalami fase yang lebih buruk daripada yang pernah dialami oleh orangtua kita dulu. Semua orangtua tentu menginginkan anak-anaknya melalui sebuah fase dengan lebih baik dan jauh lebih baik daripada orangtuanya.

Dari awal ketika saya melihat episode 1 Everything Together, Keluarga Chevrolet ini, hati saya langsung tercuri karena ini tentang anak dan bapak. Itu alasan utama kenapa saya sangat menyukai web series Keluarga Chevrolet ini. Tentang perjalanan Pak Adi menemukan Ayahnya, Pak Fajar. Terpisah puluhan tahun karena bencana, tidak bisa dibayangkan bagaimana rasanya ketika tahu bahwa ternyata Pak Fajar masih hidup.

Pak Fajar mengatakan, “Bukan soal berapa banyak yang terlibat tapi bagaimana semuanya bisa menyatu.”
Kalimat Pak Fajar tadi mungkin terdengar sederhana. Nasihat yang terlihat biasa. Tapi secara tidak sadar, perkataan Pak Fajar itu menyatu dalam jiwa anaknya sendiri, Pak Adi. Lihat sendiri kan di saat Keluarga Pak Adi kesusahan karena mobilnya terjebak karena pohon-pohon tumbang akibat hujan badai? Istri dan anak-anaknya menyatu untuk mengatasi masalah. Dan yang paling saya suka, Pak Fajar, orang yang menolong Pak Adi, ternyata adalah ayah yang selama ini Pak Adi cari.

Ajaib ya kalau mengingat sosok ayah. Saya ingat di saat saya mengalami fase terburuk dalam hidup, Bapak tidak banyak komentar menjadi tempat berlindung saya. Di saat saya sempat takut kalau Bapak marah, justru yang terjadi malah sebaliknya. Bapak adalah sumber maaf dan ketenangan. Hujan badai dalam hidup yang saya alami dalam fase terburuk itu, Bapak tenangkan dengan pelukan yang erat.

Tiap pulang ke Bandung untuk menemui orangtua, pemandangan favorit saya adalah ketika Bapak bermain dengan anak-anak saya, dengan cucu-cucunya. Melihat mereka bertiga tertawa dan bertukar senyum. Bagaimana semuanya menyatu adalah sungguh pemandangan yang paling indah yang diam-diam sering saya tangkap dengan kamera saya. Saya selalu tersenyum ketika melihat foto anak-anak saya ketika di mobil tertidur dalam pangkuan Bapak.

Well, liat episode terakhir Keluarga Chevrolet ini bikin banjir air mata yaaa. Iyaa ngaku deh adegan Pak Adi memeluk Pak Fajar itu bikin air mata turun dengan deras. Tapi, episode terakhir ini bikin lega ya. Senang liat keluarga Pak Adi yang menyatu dalam menyelesaikan segalanya. Senang liat Pak Adi kembali bersatu dengan Pak Fajar yang selama ini dicarinya.

Selamat Hari Ayah. Semoga kita selalu menemukan waktu untuk ayah kita tercinta. Meneleponnya atau bahkan bertukar cerita di mobil.

Mengenai segalanya, menghadapi apapun, bisa. Yang penting menyatu.

Everything, together.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply