daily living

My Rules

November 10, 2014

Bagi anak ke dua saya, Arza, segalanya adalah kompetisi.
Sepertinya, dalam otak anak berumur 5 tahun itu sudah terekam peraturan bahwa 5 detik sebelum keluar lift, dia akan mengatakan “Race!” dan begitu pintu lift terbuka dia akan berlari sekencang-kencangnya menuju pintu rumah dan tersenyum bangga sebelum mengatakan, “I win!”.

Bukan hanya saya yang menyimpulkan itu. Saat pembagian report, gurunya pun mengatakan demikian. Arza bisa kesal kalau ada salah satu temannya yang lebih dahulu menyelesaikan tugas.
Anak bungsu saya ini meski hanya terpaut 3 tahun 3 hari (Alde dan Arza lahir di bulan yang sama) memiliki sifat yang sangat berbeda dengan kakaknya. Alde orangnya sensitif, sementara Arza cenderung tidak. Arza menyukai keteraturan dan terlihat teriritasi jika sesuatu berjalan tidak seperti biasa. Bahkan, untuk masuk ke dalam mobil pun harus sesuai dengan peraturan yang ditetapkannya sendiri, harus dari pintu kanan. Pintu terdekat dimana car seatnya berada. Bila tidak? Tuhan tahu berapa lama saya harus menghadapi wajahnya yang cemberut plus segala argumennya. Baginya, saya telah melanggar peraturan.

Berbicara tentang melanggar peraturan, saya jadi ingat hal-hal yang pernah saya lakukan saat umur saya masih belasan, SMA. Tahun dimana saya beberapa kali melanggar peraturan orangtua, pulang terlambat tanpa memberi kabar, tidak menelepon ke rumah. Apalagi status saya sebagai anak tunggal, orangtua saya pasti ekstra khawatir. Dan sebagai anak tunggal, saya terbiasa dengan ini itu ngga boleh :D dan berakhir dengan omelan dalam hati, “Mama Bapak ngga asik banget!” Padahal kan saya ngga melakukan hal yang negatif. Saya pulang telat karena ada rapat OSIS (dan saat itu ada kakak kelas yang saya taksir!). Beberapa kali jalan pintas yang saya ambil, pulang telat tanpa kabar.

Dan semua ini bisa saya mengerti setelah kini saya menjadi orangtua. Ngga kebayang juga sih waktu itu. Belum ada telepon yang bisa saya genggam. Orangtua saya pasti berpikir hal terburuk yang mungkin saja menimpa saya.

Seri ke 3 Keluarga Chevrolet ini benar-benar mengingatkan pada diri saya sendiri. Kejadiannya ngga persis sama pastinya. Tapi saya bisa ngebayangin deh kekhawatiran Pak Adi waktu tahu Ariana pergi dari hotel dengan menggunakan mobil tanpa izin, hanya dengan pesan melalui adiknya, Chaka. I know, yang Ariana lakukan itu in the end ternyata positif. Honestly saya juga ngga nyangka loh kalau Ariana ternyata organize konser amal. Soalnya dari episode pertama web series Keluarga Chevrolet ini kan kelihatan banget kalau dia terkesan cuwek. This, a gentle reminder for all of us… do not judge a book by its cover. Lihat senyum Pak Adi melihat Ariana di stage, sudah cukup menerjemahkan kalau Pak Adi sangat bangga pada anak sulungnya.

By the way, sedikit ganti fokus… Liat kan di episode My Car, My Rules… waktu Ariana jemput pacarnya yang anggota band karena mobil yang dipakainya mogok? Itu 6 orang plus alat-alat band bisa muat yaa masuk semua ke Spin Activ. Keren banget! Ngga sih saya ngga membayangkan kalau saya pergi ke Bandung dan bawaan (baca: belanjaan) yang banyak dan segede gambreng masuk ke Spin Activ (padahal iya banget! :) belanja baju di FO plus makanan-makanan Bandung yang bisa saya bekal ke Jakarta, muat banyak!)… Beneran bikin pengen test drive Spin Activ ini deh. Selama ini addicted nonton seriesnya dan bikin pengen nyoba nyetir. Kebayang nyaman.

In the end, saya salut loh sama Pak Adi yang bisa menghadapi Ariana dengan begitu baik. Bapak dan anak perempuannya bicara dari hati ke hati di dalam mobil, oh-so-sweet. Ngga perlu ada teriakan dan saling menyalahkan. Namanya juga keluarga, akan ada selalu kendaraan bernama maaf yang mengantar mereka dalam perjalanan hidup ini. Memaafkan bila ada yang salah adalah peraturan keluarga yang tidak tertulis supaya hidup terus berjalan tanpa perlu berhenti lama.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply