read & write writing

Emotional Pain

February 10, 2016

“Gue mau dong lari bareng elo.”

Benar banget ya apa yang orang-orang bilang selama ini. Jangan benci teramat sangat dengan sesuatu bahkan seseorang karena bisa jadi bumerang yang berbalik membuat kita justru malah menyukai apa yang kita paling ngga suka.

“Lo kesambet apa sih, Tan?” Noni dengan muka heran menatapku. Yes, that ngga-mungkin-banget-Tania-lari look.
“Kesambet presentasi elo kemarin di Go Run For Fun Jakarta Runners.”
Noni tertawa keras-keras. Aku tersinggung deh.
“Hoy!” Aku melemparkan bantal ke arah Noni.
“Gue udah nyogok elo pake tas aja ngga mempan. Gimana caranya gue percaya elo beneran mau lari?”
“Ya ampuuun, Noneeeh! Presentasi elo semalem itu… inspiring banget gitu loh! Seluruh rakyat Indonesia kalo liat, besoknya pasti lari!”
“Tukang bohong!” Tawa Noni makin keras.

Memang susah ya berbohong sama sahabat sendiri? Saking udah deket banget sama Noni, sampai aku berbohong kecil saja, ngga mempan. Tapi ngga mungkin banget kan aku bilang sama dia bahwa sebenarnya karena Rian mention aku di twitter yang membuat aku jadi ingin mencoba lari.

Jadi setelah acara Go Run For Fun selesai, Rian menghampiriku. Bukan menghampiri aku sih, tepatnya dia kembali ke meja untuk mengambil jaket dan helm sepeda yang dia simpan sebelum presentasi.

“Thanks ya udah jagain.” Rian tersenyum. “Sori, tadi malah belum kenalan. Rian.” Rian mengulurkan tangan.
“Tania.” Aku membalas jabatan tangannya yang firm.

Rian merapikan jaket dan memasukkan kacamata ke dalam tas.

“Presentasinya tadi… bagus.” Oh well. Basa basi yang benar-benar basi supaya aku bisa ngobrol salah satu dari golongan dewa Yunani ini.
Rian langsung berhenti merapikan jaketnya. “Thanks. Lari juga?”
Aku menggelengkan kepala.
Rian tersenyum. “You should try.”
“Udah diajakin Noni sih.”
“Oh. Noni keren. Rajin banget training buat full marathon pertamanya.”
Tanganku beku. Gugup. Cincin kembali aku putar-putar.
Ada suara yang memanggil nama Rian. Rian melambaikan tangan, memberi tanda tunggu. “Tania, permisi ya.”
Aku mengangguk sambil melihat Rian dari kejauhan. Dia mendekat pada teman-teman larinya dan sudah ada tiga perempuan yang tadi ada di meja sebelah menunggu Rian untuk berkenalan karena kurang dari lima detik, mereka bersalaman.

Malamnya, aku tweet tentang acara Jakarta Runners.

“Abis nemenin Noni ke acara Jakarta Runners. Presentasinya bagus-bagus. #GoRunForFun”
“Pelari itu kayaknya golongan orang-orang yang bahagia ya? Keliatan di acara tadi. #GoRunForFun”
“I saw so many happy shiny people. Energinya positif. #GoRunForFun”

Aku kaget di tab mention ada @AriandaAtmadja.

“Tinggal ditunggu larinya. Minggu? Sunday Morning Run bareng Jakarta Runners.”

Aku bengong. Unexpected dan panik harus jawab apa.
Tarik napas dulu.
Tenang.
Inhale exhale. Inhale exhale.
Haduh! Kenapa aku kok senyum sendiri, salah tingkah. Mendadak jadi ABG deh. Cuma di mention aja efeknya begini. Jadi malu sendiri.

Tahu ngga? Padahal waktu itu aku hampir aja tweet ini:
“Tapi lari? Ngga banget. Ngga. I hate running.”
Save as draft.

Akhirnya ini yang aku tweet. “Will do. Mau cari bajunya dulu.”

Ampun! Kenapa juga itu yang aku tweet ya? Jadi kan aku benar-benar harus lari. Kredibilitasku sebagai teman Noni bisa hancur. Aku ingat banget waktu SMA, PR Matematika ketinggalan, aku dihukum oleh Pak Chaidir. Disuruh lari 3 keliling lapangan. Baru satu keliling aja napasku sudah habis, mau pingsan.

Mana ini Noni nyusahin banget sih. Aku mau lari tapi dia ngga percaya.

“Noniii… serius Noniii. Gue. Mau. Lari.”
Noni malah asik melihat foto-foto yang aku ambil semalam. “Ngga sia-sia ya gue minta elo buat fotoin gue. Bagus-bagus, Tan! Yang mana yaa yang harus gue upload ke Instagram?”
Aku mendekati Noni. “Ini aja. Trus ini. Hmm, yang ini juga bagus tuh yang elo bareng sama Rian.”
“Ah jangan dong. Nanti Johan bisa jeles banget kalo foto berdua sama cowok lain gue upload ke Instagram.”
“Ya elah… masih jeles-jelesan. Pacaran sama brondong ribet ngga sih, Non?”
“Ih kesannya gue tante tante deh.” Noni menyimpan handphone dan beranjak menuju kulkas. Meraih orange juice dalam botol kaca. “Beda 5 tahun doang.”

Handphone-ku bergetar. Ada notifikasi whatsapp yang masuk.

Dari Dion.

“Hon… kamu pencet pasta gigi dari tengah lagi ya?”

Oh-my-goat. Air mukaku langsung berubah.

“Iya.”
“Kan udah aku bilang, hon… dari ujung. Jangan dari tengah.”
“Iya. Sori.”
“Oh ya tagihan internet udah kamu bayar belum ya? Soalnya ini kok ga jalan.”
“Udah kok. Tiap tanggal 5, udah aku bayar.”
“Hmm ok.”
“Ok.”
“By the way, ini pasta giginya udah aku pencet dari ujung.”
“Dion! Please deh! Ngga penting.” Pengen banget rasanya nambah selusin emoticon marah.
“Buatku penting, Tania.”

Aku malas ribut lagi dengan Dion. Asli deh, menurutku ngga penting banget masalah arah pencet memencet pasta gigi jadi masalah rumah tangga. Mau dari tengah kek, ujung kek, timur, tenggara, barat daya atau arah kiblat, yang penting aku gosok gigi. The problem is… dari awal nikah, Dion ngga pernah absen mempermasalahkan ini. Bayangkan! Lima tahun aku nikah sama dia, lima tahun dia bahas ini. Bukan bahas investasi atau beli properti tapi pasta gigi.
Ya Tuhaaan.
Gimana mau punya anak kalau kami masih ribut masalah sekecil ini sih?

Bukannya aku ngga ingat request Dion. Tapi aku keukeuh pada pendirianku, itu ngga penting.

Noni menangkap sinyal yang tidak enak melihat perubahan air mukaku.

“Dion?”
Aku mengangguk. “Siapa lagi?” Aku membuang napas. Berat. “Masalahin lagi gue yang mencet pasta gigi dari tengah. Hebat ngga topik berantem gue?”
Noni diam.
“Dari mana pencet pasta gigi, jadi masalah. Dia udah nganggur 5 bulan, kenapa ngga jadi masalah?”
Noni masih diam. Aku tahu. Untuk urusan rumah tangga sahabatnya, Noni memilih untuk tidak berkomentar kecuali aku benar-benar meminta pendapatnya. Aku mengerti. Setidaknya ada orang yang mendengarkan aku ngomel seperti ini juga sudah lebih dari cukup.
“Tan… I gotta go in 10 minutes ya. Johan barusan whatsapp gue, udah nyampe Pejompongan.”
Aku bersandar di sofa. “Gue boleh ya di apartemen lo dulu. Nanti malem gue balik. Ngga pengen cepet-cepet ketemu Dion.”
“Boleh, Tan. Make yourself at home lah. Taro aja kuncinya di mailbox seperti biasa kalo lo mau balik.”
“Thanks ya, Noni.”
Noni berdiri dan meraih tas yang tergeletak di sofa. “Gue cabut ya. Johan udah di lobi.” Sebelum menutup pintu, Noni menatapku. “Tan?”
“Ya?”
“Hari Minggu ya. Sunday Morning Run bareng gue.”
Aku tersenyum. “Besok gue beli baju lari. Salam ya buat Johan.”

Ngga lama setelah Noni pergi, aku berbaring di sofa sambil membenamkan bantal di sebagian muka. Pusing dengan Dion. Bosan dengan pertengkaran yang rasanya jadi menu sehari-hari. Belum lagi sejak Dion menganggur, aku harus cari pekerjaan ekstra untuk bayar ini itu.

Aku ingat apa yang Noni bilang saat presentasi kemarin, running helped me heal. Apakah emotional pain yang sedang aku rasakan ini bisa sembuh dengan lari?

Kepalaku makin berat.
Aku capek. Aku lelah.

Dari balkon, terlihat langit makin gelap. Suara adzan maghrib mengalun merdu dari masjid di belakang apartemen Noni.

Dan aku menangis sendirian saat sujud terakhir. Air mata jatuh deras membasahi sajadah.

You Might Also Like

7 Comments

  • Reply Sandra February 10, 2016 at 10:06 am

    Kalau lari bisa menyembuhkan emotional pain, aku daftar Teh hehehehe. *nungguin lanjutannya*

    • Reply ninityunita February 11, 2016 at 5:04 am

      ada temen… dan iya katanya. :)
      hayooo lari san! ;)

      • Reply retno February 12, 2016 at 12:34 pm

        me want too. cuma gini teh, kalo lari sendiri, gak ada running buddy suka sepi dan males hehehe atau apakah itu cuma excuse aja? how to get rid of that excuse ?

  • Reply Iin February 10, 2016 at 1:57 pm

    # nunggu lanjutannya juga :D

  • Reply NP February 11, 2016 at 6:28 am

    teteh, dont leave me hanging :( ditunggu~~~

  • Reply Yanti February 18, 2016 at 7:22 pm

    Ditunggu lanjutannya, pasti makin bikin geregetan dan seru banget deh

  • Leave a Reply