read & write writing

Limit

February 12, 2016

Aku mengetuk pintu apartemen Noni. Begitu pintu terbuka, air mataku langsung bercucuran seperti hujan deras.
“Noni…” Aku tidak sanggup melanjutkan kata-kata. Aku jatuh pelan-pelan di depan pintu.
“Tan?” Seribu pertanyaan langsung terbaca di mata Noni. “Tania?”

Aku terus menangis. Noni memelukku erat. Bajunya sudah basah oleh airmataku. Aku menangis pelan tapi tanpa jeda.
“Sssh…” Noni menghapus air mataku. Pelan-pelan ia mengajakku berdiri dan duduk di sofa.
Aku masih menangis meski sudah berusaha berhenti. Noni ke pantry dan mengambil segelas air putih untukku. “Minum dulu, Tan. Tenang.”
Aku mengangguk.
“Kalau lo udah siap cerita, gue di sini.” Noni menyodorkan kotak tissue. Aku mengambil satu.
Setelah minum air putih, tangisku sedikit mereda. Aku menarik napas panjang sebelum menceritakan apa yang terjadi beberapa jam yang lalu.

“Dion… pergi. Ninggalin rumah.” Bukannya surut, tangisku seperti hujan yang turun makin lebat. “Ninggalin gue, Non.”
Noni mengusap punggungku pelan-pelan. “Sorry to hear, Tan…”
Aku kembali meminum air putih yang masih tersisa dalam gelas. “Non… Gue tahu elo ngga pernah mau ngomong apapun yang berurusan sama pernikahan gue dan Dion. And I really appreciate that… but this time, please say something, Non.”
Noni diam.
“Gue butuh denger dari elo.” Aku mengiba menatap Noni.
“Tan, selama ini gue ngga pernah berkomentar apa-apa karena gue ngga ingin mencampuri urusan rumah tangga lo. Iya kita sahabat tapi gue tahu batas. Tapi karena elo minta… maafkan ini datang dari gue yang pernah menikah dan gagal. But I hope you can learn something dari pengalaman gue.

Marriage is about working things out.
Ngga akan ada pasangan yang saling cocok dengan sempurna satu sama lain. Trust me, ngga ada. Ngga akan pernah ada.

Pertanyaannya
Sejauh apa kita harus beradaptasi dan menerima?
Sejauh apa kita harus berusaha menjadi yang terbaik?

“Sejauh apa, Non?”
“Sejauh yang kita bisa.”

Pertanyaannya, apakah elo sudah berusaha menjadi yang lebih baik?

Gue, sama Reza… dulu. Ngga berhasil, Tan.
Gue sudah berubah menjadi versi terbaik yang gue bisa. Everytime, tiap kali pernikahan gue sama Reza ada masalah, gue ngga pernah quit.
Ketika elo kerja buat perusahaan, yes… elo bisa quit kapan aja. Tapi pernikahan ngga gitu.
Satu hal yang bikin gue quit karena Reza ngga bisa berhenti mukulin gue. Gue takut. Sampai gue memutuskan untuk give up on him.

There is a limit to what kind of crap you can put up with.
Itu lah sebabnya Tuhan masih mengizinkan perceraian.
Karena limit.
Setiap orang mempunyai limit.

Karena meski Tuhan tidak menyukainya, Tuhan tahu setiap orang punya batas.”

You Might Also Like

7 Comments

  • Reply marsha February 12, 2016 at 9:25 am

    kyaaaaa..kurang panjang teh..hahaha pengen buru2 baca lengkapnya.. #penasaran

  • Reply echantiq February 12, 2016 at 9:53 am

    bakalan ada air mata nih kelanjutannya…. *siap2 tissue

  • Reply Desy February 12, 2016 at 9:55 am

    Love it, Teh Nit. Makasih sudah berbagi cerita

  • Reply eka February 12, 2016 at 10:40 am

    Lagi..lagi…

  • Reply feni February 12, 2016 at 11:50 am

    Teh Niniiiiiit, terimakasih telah bikin semangat ngantor beberapa hari ini. Karena buka laptop langsung semangat baca (errr, semangat kerja, ngga, ya? #eaaa)

  • Reply Dita February 12, 2016 at 10:27 pm

    Awww aku suka banget sudut pandang tentang perceraian di sini :)
    Semangat trus nulisnya Teh Ninit :)

  • Reply Laressa February 18, 2016 at 6:58 pm

    Teh aku suka banget…… Lanjutin terus ya dan semoga ceritanya Finish Strong :)

  • Leave a Reply