read & write writing

The Proposal

February 13, 2016

Aku masih ingat bagaimana aku bertemu Dion. The moment I met him for the first time, obrolan yang terus berlanjut tanpa putus, aku sudah merasa he’s the one. Dion orang yang cerdas, no doubt. Aku memang lemah kalau sudah berhadapan dengan cowok pintar.

Obrolan dengan dia itu selalu jadi momen yang menyenangkan. Jadi candu. Sesuatu yang aku tunggu. Bagiku, Dion itu cerdas dan lucu. Sebuah kombinasi dengan tingkat prestasi medali emas, kelas podium.
Selalu ada aja hal yang membuat aku tertawa dan hati mendadak hangat. Aku bisa betah ngobrol berjam-jam-jam-jam-jam sama dia. Buat yang lain, mungkin dia biasa saja. Tapi di mataku, oh-my-goat… kegantengan Dion sungguh tak terkendali. Ada apa sih dengan laki-laki berkacamata? Selalu sukses membuat aku kagum tanpa usaha.

Selain mengesankan kalau laki-laki berkacamata itu pintar, aku bisa mengetahui kepribadiannya dari pilihan frame kacamata. Kalau yang pakai frame plastik itu biasanya fun-loving dan berjiwa muda. Frame yang berbahan metal? Memperlihatkan sisi profesional dan keliatan bertanggung jawab. Kalau pakai frame dengan model klasik? Hipster banget dan aku sih suka banget ngeliatnya, a hot geek gitu ya kesannya.

Lucu banget sebenarnya waktu dinner itu, aku bisa melihat bagaimana ada yang berbeda dari Dion. Ada ketegangan di wajahnya. Beberapa kali dia mengoreksi letak kacamata. Saat kami menikmati dessert, aku lihat Dion terus menunduk.
“Yon? Kamu ngapain sih?”
Dion cepat-cepat menaikkan wajahnya dan berusaha tersenyum menutupi sesuatu. “Eh. Ngga kok.”
“Kamu lain deh.”
“Lain gimana?”
“Kayaknya lebih banyak diem.”

Dion kembali menunduk dan aku kaget ketika tiba-tiba dia mendekat sambil berlutut karena saat itu mulutku sedang penuh dengan cheese cake.
“I love you, Tania. The love of my life. Will you marry me?” Dion meminta tanganku.
Aku kaget! Tapi sekaligus senang karena ini memang sudah aku tunggu. Jadi aku langsung mengangguk dengan senyum lebar.

Dion tersenyum. Ada rasa lega yang terbaca dari jendela hati di balik kacamatanya. Dion mengeluarkan sesuatu dari balik saku kemeja biru yang dipakainya. Aku menahan napas. Menebak-nebak cincin seperti apa yang dikeluarkan Dion?
Karena aku penggemar Sex and The City, aku pernah sih berkhayal dilamar dengan black diamond ring. Kenapa hitam? Karena selain itu warna favoritku, aku langsung meleleh saat Mr Big mengatakan pada Carrie, “Because you are not like anyone else.”

Tapi Dion memang tidak seperti yang lain. Kalau di film, biasanya urutan proposal itu yang melamar mengeluarkan kotak kecil berisi cincin, melamar, dan ketika yang dilamar menjawab iya, yang melamar mengenakan cincin di jari orang yang dilamarnya.

Aku mengerti kenapa dengan Dion, urutannya tidak seperti itu. Dion tidak mengeluarkan cincin dengan black diamond to seal the deal.
Dion mengeluarkan tissue yang dipilin-pilin menjadi sebuah cincin.

Aku tertawa. “The answer is still yes, Dion.”

Kini giliran Dion yang tertawa. Dion melingkarkan cincin tissue itu di jari manisku.
“Jadi dari tadi kamu nunduk-nunduk itu bikin cincin ini?”
Dion tersenyum lebar. “Cincin buat kamu ketinggalan.”

Bahagia itu memang sederhana. Aku ngga peduli cincin jenis apa yang aku terima. Aku ngga butuh harga yang mahal untuk bersama Dion.

Dulu. Sesederhana itu.
Dulu.

You Might Also Like

8 Comments

  • Reply zata February 13, 2016 at 12:19 pm

    hufff, selalu merinding baca tulisan2nya teh ninit…

  • Reply Hana Bilqisthi February 13, 2016 at 2:46 pm

    aaah~ lucu dan so sweet banget ceritanya :D

  • Reply marsha February 13, 2016 at 4:53 pm

    Duh teh butuh novel lengkapnya.. asap!

  • Reply Retno Andini February 17, 2016 at 10:08 am

    teh, aku tunggu banget novelnyaaa :’D

  • Reply Rini Wirawan February 19, 2016 at 9:51 am

    Sukaaaaakkkkk…addicted to Ninit

  • Reply Agatha Prasanti March 4, 2016 at 1:47 pm

    Hari ini di kantor sukses baca kisah ini lengkap dari depan.
    Semoga bisa segera ada kelanjutannya ya, teh.

  • Reply Hesti Karmila May 24, 2016 at 3:27 pm

    teh jujur baca berulang kali tetep aja ngakak endingnya :D :D :)

  • Leave a Reply