read & write writing

Things You Do When You Miss Someone

February 11, 2016

Sudah empat bulan terakhir ini aku pulang malam. Berada di luar rumah sekitar 12 jam. Gila yah, benar-benar banting tulang dan literally peras keringat. Tawaran menulis skrip sinetron kejar tayang pun aku lakukan. Demi apa? Padahal tahu sendiri kan seperti apa beratnya. Pagi menulis skrip untuk shooting sore hari. Sudah beberapa kali aku tolak, tapi mengambil tawaran ini adalah pilihan terbaik.

Aku membuka pintu rumah, rapi. Dion kan memang anti berantakan. Dalam sehari, Dion dua kali mengepel rumah. Tidak ada debu sedikitpun di meja. Semua rapi. Untuk masalah menjaga kebersihan dan kerapian rumah, Dion lebih juara daripada aku. Andai saja secara finansial dia juga serapi ini. Aku jadi ngga perlu kerja segila ini untuk membayar segala tagihan dan cicilan.

Sekarang aku sudah terbiasa kalau sampai rumah, mendapati Dion sibuk dengan PS4, bermain Assassin’s Creed.

“Hai, hon…” Tanpa merasa perlu melirik kalau istrinya pulang kantor.
“Hmm.”

Aku langsung masuk kamar, menyimpan tas dan laptop di meja kerja. Buka lemari dan memilih baju tidur sebelum aku mandi. Aku paling suka shower dengan air dingin seperti ini. Apalagi setelah berdesak-desakan di bus TransJakarta. Hari ini Dion memakai mobil. Penting katanya. Definisi penting bagi Dion adalah meminjam joystick PS ke rumah temannya.

Oh well… Aku udah ngga tahu harus ngomong apa. Padahal dia tahu banget kalau aku hari ini harus ke beberapa tempat. Ada script conference di Senayan City dengan seorang penulis yang bukunya akan diangkat ke layar lebar. Aku lebih perlu pakai mobil daripada dia. Tapi sudah lah, aku ngga pengin panjang lebar.

Normal kan kalau kadang aku ingin juga kalau sampai rumah setelah pulang kantor, ditanya how was your day. Ngga muluk-muluk deh. Knowing ada orang yang perhatian, mau dengar hal baik dan buruk yang terjadi padaku. Dulu sih iya, Dion perhatian. How was your day pasti jadi pertanyaan setiap hari. Sebelum tidur pasti ada pillow talk yang menyenangkan. Dia pasti mengecup kening dan memelukku dalam tidur. Entah pergi ke mana semua itu sekarang.

Iya, honestly terkadang aku kangen hal-hal itu.
Semua dulu yang sekarang tidak ada.

Ah! Kalau ingat-ingat hal seperti ini, aku jadi sedih. Dan kalau sedih, aku jadi ingin lari. Aku sampai stabilo halaman buku What I Talk About When I Talk About Running. Haruki Murakami bilang, “All I do is keep on running in my own cozy, homemade void, my own nostalgic silence. And this is a pretty wonderful thing. No matter what anybody else says.”

Ah! My own nostalgic silence.

Mungkin kalau dari SMA aku sudah suka lari seperti sekarang, aku akan minta Pak Chaidir menghukumku untuk lari 5K daripada 3 keliling lapangan. Nantangin banget ngga sih?

Sambil berbaring di tempat tidur, aku membuka handphone. Cek twitter, instagram, dan facebook.

Uhm, oke ralat.
Bukan cek tapi stalking twitter, instagram, dan facebook… Rian.

Aku juga buka whatsapp.
Another confession. Aku suka klik nama Rian hanya untuk melihat apakah dia online atau tidak.
Aku suka mengetik sesuatu di whatsapp, tapi tidak pernah aku kirim. Aku pernah dan bahkan beberapa kali, aku mengetik sesuatu untuk di tweet tapi aku save as draft.
Judge me, tapi bagiku itu rasanya melegakan.

Pengakuan lainnya, aku pernah whatsapp Rian. Meminta sesi AMA. AMA itu terminologi Reddit yang merupakan singkatan dari Ask Me Anything.
“Yan… mau bantuin gue ngga?”
“Apa yang bisa dibantu, Tan?”
“Hmm, boleh sesi AMA? Lima pertanyaan. Cepet kok. Bagian dari riset buat bikin skrip.” Aku berdalih.
“Hahaha, shoot.”
“Gunung apa pantai?”
”Pantai.”
“Tiga orang yang paling sering whatsappan siapa?” Sumpah! Ngga ada hubungannya banget dengan riset bikin skrip!
“Works: banyak. Non works: now, you.” Eh! Ternyata dijawab juga! Terus aku senyum sendiri baca jawabannya.
“Definisi hari yang menyenangkan apa?
“All works went well.”
“What makes you happy?”
“Being content.”
“Things you do when you miss someone…” Because right now, I am missing someone. You.
Arianda is typing. “When I really miss someone, I playback good memories about them when they were with me and I can do it anytime, anywhere, without anyone noticing it.” Ada jeda beberapa detik. Kemudian Rian mengetik lagi. “I think I’m good at it.”
“Thanks Yan!”
“Buat skrip apa sih, Tan?”
Nah loh! “Mmm… film d-drama. Produserku pengen ada film untuk segmen dewasa muda gitu deh.”
“O-oh! Semoga lancar ya!”

Aku tahu, aku salah. Sama seperti hari ini aku juga baru tahu kalau latte kesukaanku itu kopi salah. Iya, orang Belanda menyebut latte itu Koffie Verkeerd, kopi salah. Salah karena menurut mereka, kopi ya hitam. Simple. Sederhana. Bukan dicampur dengan susu seperti ini. But who cares. Meski salah, aku suka.

Tiba-tiba Dion masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di sebelahku. “Hon! Hon! Hon! Aku udah level 9 nih! Satu level lagi aku jadi master assassin. Bisa bunuh templar master! Keren nggaaa?” Dion menarik selimut.
Dan seperti biasa, aku hanya menjawab dengan, “Hmm.” Cepat-cepat aku membuka laci nakas, mencari iPod mini. Cara menghindar obrolan ngga penting dengan Dion.

Lagu Magic dari Coldplay yang terdengar. Lagu ini lama-lama jadi lagu kebangsaanku deh kalau aku kangen Rian.

Eh,
Apa tadi yang aku bilang?

You Might Also Like

13 Comments

  • Reply Feni February 11, 2016 at 5:57 am

    Nungguin bukunya banget ini, mbak nit.

  • Reply ninityunita February 11, 2016 at 9:30 am

    makasih fen :D
    jadi semangat deh.

  • Reply ika February 11, 2016 at 11:26 am

    teteh, semangat ya. mudah mudahan bisa ngebut pace 4 buat bukunya. mangat!

    • Reply ninityunita February 11, 2016 at 7:12 pm

      ikaaa… makasih bangettt! :) :*

  • Reply Ayu February 11, 2016 at 12:34 pm

    Believe it or not, I check your blog everday just to check is there any new post that I haven’t read. A ton of luck for your upcoming book teh! Fighting!!! :)

    • Reply ninityunita February 11, 2016 at 7:12 pm

      awww ayuuu :’) terharu banget.
      makasih ayuuu.

  • Reply Rista February 11, 2016 at 5:58 pm

    Ayo tetehhh cetak buruaann. Pengen baca full nya….. gatau kenapa gw di pihak Dion deh :D pasti ada sesuatu yg manis dibalik cueknya #sotoy

    • Reply ninityunita February 11, 2016 at 7:13 pm

      aahahaha jadi #TeamDion nih rista? ;)

  • Reply marsha February 11, 2016 at 10:56 pm

    Teh ninit..ini kerennn..kalo jadi buku ak pasti beli deh.. hihi.. btw ak kok sama kaya rista #TeamDion :) ditunggu lanjutannya teh..

  • Reply Hana Bilqisthi February 12, 2016 at 5:20 am

    bagus ceritanya :D jadi penasaran kelanjutannya :D

  • Reply Aprillia Ekasari February 12, 2016 at 10:14 pm

    Mbak Ninit akan menerbitkan novel baru kah? ditunggu mbak… :D

  • Reply Ferdi February 14, 2016 at 3:19 pm

    Suka ceritanyaaaa, Teh Niniit..

  • Reply Rindu | tituchio's lodge March 1, 2016 at 2:15 pm

    […] Gambar diambil dari Blog Mba ninityunita : istribawel.com […]

  • Leave a Reply