read & write writing

When I First Met You

February 9, 2016

Sepuluh menit mendekati pukul tujuh malam, mulai ada satu dua orang yang berada di panggung. Panggung yang tidak terlalu besar itu terletak di tengah area café. Menjadi pusat seluruh pandangan pengunjung. Ada yang mengecek sound system dan mengecek infocus. Screen besar di belakang panggung sudah menampilkan foto Jakarta Runners. Dalam dua menit café mulai padat. Aku duduk di kursi dengan meja berbentuk lingkaran yang terbuat dari kayu, untuk dua orang.

“Kosong?”

Sedang asik mengecek twitter di handphone, ada suara yang menyapa. Aku otomatis menoleh. Seorang laki-laki yang masih mengenakan helm dan kacamata untuk sepeda menunjuk kursi kosong yang ada di seberang kursi yang sedang aku duduki.

“Kosong kok.” Aku tersenyum tipis.
“Thanks! Penuh banget nih café-nya sampai susah cari tempat duduk.”

Aku ngga tahu, cowok ini termasuk golongan yang mana dari hasil pengamatan singkatku tentang orang-orang yang hadir di sini. Dari badannya sih ngga terlalu kelihatan seperti dewa Yunani karena ada jaket tebal yang membalut tubuhnya. Dan di tangannya sudah ada sepiring makanan, tahu goreng yang dibalut tepung tepatnya. Aku sih menduga dia bukan kalangan dewa alias orang yang seperti Noni, cinta berat dengan lari. Soalnya kalau Noni, biasanya dia makan salad atau apa lah yang ngga digoreng seperti yang dimakan orang ini. Jadi ingat sebulan yang lalu, saat aku sedang upload foto bertema gorengan war. Noni langsung berkomentar.

“Masih makan gorengan lo, Tan?”
“Masih dong. Minggu ini temanya gorengan war. Seruuu!” Aku asik mengunyah cireng yang masih hangat.
“Kalo gue makan gorengan, lari gue pasti kena efeknya. Lo tau ngga kenapa, Tan?”
“Efek makan gorengan ya enak dong Non. Jadi lo ngga bisa berenti makan.” Aku seraya menawarkan piring berisi cireng rujak yang paling hits di Bandung.
Noni mendorong pelan piring itu ke arahku. “Thanks.“
“Lo ngga mau?”
Noni menggeleng cepat.
“Ya udah gue abisin. Lo jangan nyesel ya.”
Kali ini Noni tertawa. “Gue ngga makan gorengan karena gorengan menurunkan jumlah ikatan oksigen dalam darah. Thus, menurunkan performa. Kan minggu depan gue ada race HM.”
“Terserah deh apa kata lo, Non. Prihatin gue, lo ngga bisa makan gorengan. Kan enak. Semua pelari kayak gitu ya?”
“Yaa… ngga sih. Kebanyakan temen-temen di Jakarta Runners sih gitu. Yang makan gorengan ya ada. Tapi at least kita ngerti efeknya apa.”
“Another reason kenapa gue ngga mau lari.”

Bener sih kata orang. Diam-diam kita meneliti orang asing, orang yang kita ngga tahu, ngga kita kenal. Persis seperti yang aku lakukan sekarang. Melihat laki-laki yang satu meja denganku ini, dia dengan santai menyimak presentasi Jakarta Runners sambil makan gorengan. Terus itu kenapa juga sih helmnya ngga dicopot aja? Jaketnya juga masih dipake. Nyantai banget nih orang. Ah! Sudah pasti lah laki-laki ini satu golongan denganku. Pecinta makanan. Judging dari cara dia makan gorengan, mungkin dia sempat ikut upload foto gorengan war juga. Who knows, right?
Kini giliran Noni yang naik ke atas panggung. Slide dibuka. Noni lalu menceritakan pengalaman pribadinya tentang lari. Aku sudah siap dengan kamera di tangan. Ambil foto Noni dari sisi kanan, sesuai instruksi, aku mengambil banyak foto Noni saat presentasi dimulai.

“Running helped me heal. Running is my remedy. Saya pernah depresi setelah perceraian saya dengan pasangan dua tahun yang lalu. Saya lalu melakukan apa yang sering dikatakan orang-orang yang belum mengenal dekat lari yaitu lari dari kenyataan. Literally, dua tahun lalu saya lari dari kenyataan.” Noni tertawa kecil. Audiens ikut tertawa. Tapi sebagai sahabat, aku bisa melihat luka perceraian itu masih ada pada Noni.

Slide berganti. Ada foto Noni berlari di area pegunungan. Noni melanjutkan presentasi. “Kenyataan bahwa saya tidak bisa mempertahankan pernikahan saya lagi. Saya lari sambil menangis, memikirkan apa yang salah dengan pernikahan saya. Ternyata lari tidak hanya membuat fisik saya lebih kuat, secara mental, lari juga membuat saya sama kuat dan bahkan lebih kuat dari fisik saya.”

Slide berganti dengan foto Noni saat melintas garis finish di sebuah race. “Pelan-pelan rasa percaya diri saya datang. Saya bisa menyelesaikan lari 5K, 10K, Half Marathon, dan saat ini saya sedang training untuk full marathon pertama saya. Bali Marathon.”

Audiens memberikan tepukan tangan yang hangat. Ada semangat baru yang bisa aku lihat dari mata Noni yang bersinar. I’m so proud of her!

Noni melanjutkan. “Thanks buat Kang Rian, yang selama ini memberikan motivasi dan akhirnya saya percaya diri untuk mengikuti full marathon.” Telapak tangan Noni mengarah pada audiens, tepatnya pada laki-laki yang sedang makan gorengan yang satu meja denganku.

“Sekarang, presentasi terakhir… dari founder Jakarta Runners, Arianda Atmadja. Mangga Kang Rian. Silakan naik ke panggung.”

Orang yang disebut Noni, Kang Rian ini membuka jaket. Damn! Ternyata dia golongan dewa Yunani. Dada bidangnya tidak bisa disembunyikan dibalik kaos lari bergaris tiga warna hitam yang ia kenakan.

Oh-my-oats! He’s so… Gimana ya cara mendeskripsikannya? Bisa membuat kepalaku berputar tanpa jeda, pandanganku mengikutinya ke panggung tanpa ada koma. Napas ini tertahan sebentar dan degup jantung menjadi lebih kencang.
Dari layar yang ada di belakang panggung, foto Arianda Atmadja muncul. Noni membacakan biografi singkatnya.
“Finisher Bali Marathon, Bromo Marathon, Jakarta Marathon, Tokyo Marathon…“ Aku sudah ngga konsen lagi dengan apa yang dibacakan Noni. Aku melihat sekeliling, semua orang memandangnya dengan kekaguman.

Di panggung, Arianda Atmadja membuka kacamata sepedanya yang bening. Di sana aku baru disadarkan betapa menariknya laki-laki pemakan gorengan yang satu ini. Meja sebelah yang diisi oleh tiga perempuan pun jadi heboh. Aku bisa mencuri dengar percakapan mereka.
“I told you! Ganteng banget kan orangnya?”
“He’s still single though.”
“Gay?”
“Lurus kok. Belum dapet yang pas aja kali. Kakak gue suka lari bareng sama dia kok. Tiap Kamis, suka ikut pengajian juga di masjid Al Azhar.”
“Serius lo? Nikah-able banget sih.”
“Kenalin gue dong sama dia abis acara ini.”
Pelan-pelan aku duduk di kursi. Jantung ini diam-diam lemas setelah tadi berdegup lebih kencang tanpa jeda. Aku berusaha menenangkan diri dengan minum segelas air putih. Arianda memulai presentasi setelah Noni selesai membacakan biografi singkatnya.

“Lari itu sebaiknya fun… karena kalau ngga, ada sesuatu yang salah.”

Aku tidak tahu apakah aku bisa konsentrasi menyimak presentasi Rian saat ini. Tanpa sadar, aku memutar-mutar cincin yang aku pakai di jari manis tangan kanan. Kebiasaan ini sering aku lakukan kalau ada sesuatu yang membuat aku gugup.
Cincin yang diberikan Dion saat kami menikah 5 tahun yang lalu.


photo credit: RK

You Might Also Like

5 Comments

  • Reply Iin February 9, 2016 at 3:17 pm

    terusannya niiiit…# nunggu kelanjutan…

  • Reply Yeye February 9, 2016 at 4:07 pm

    Lanjutkannnnn.. #penasaran

  • Reply Nita Prastawa February 9, 2016 at 4:41 pm

    makin bikin penasarannnn hihihi

  • Reply mira February 9, 2016 at 7:30 pm

    Lanjuuttt.. Ayo teteh lanjutkaaann.. #penasaran :)

  • Reply Yanti February 18, 2016 at 6:14 pm

    Ijin komen ya,
    Lanjutin dong ceritanya, bagus deh kalo dijadiin novel pasti keren banget ,, mengenai dunia lari, aku sukaa banget deh kalo tentang lari, meski nggak hobi sama larinya, lanjutin ya, pliss..

  • Leave a Reply