read & write writing

The Wall

March 5, 2016

Rian tertawa. “Come to think of it… The Wall itu ngga cuma ada di marathon dan dunia olahraga aja. Pasti akan ada rintangan saat kita mengerjakan apapun. Kerjaan atau relationship. Pasti akan ada The Wall. Teman yang ngga suka akan pencapaian kita. Orang yang menilai kita ngga berhak mendapatkan apa yang kita punya sekarang. Kolega yang di depan kita manis, di belakang sebaliknya. Ada aja yang menghalangi kita dalam apapun.”
“Hmmm… “ Aku berpikir sebentar. “Kayak gue kalo nulis… ketemu writer’s block kali ya, Yan? Itu The Wall versi penulis?”
“There you go. The wall.”

Layar laptop yang bersih tanpa ada huruf-huruf yang tersusun menjadi kata dan kalimat memang sesuatu yang sering membuat aku frustasi sendiri. Kursor yang terus berkedip, seperti menantang aku untuk tidak berhenti. Sebagai penulis, aku bisa memilih untuk DNF, menutup laptop dan tidak memaksa diri.

Tapi itu dulu.
Dulu, aku sering seperti itu.

Dua tahun berubah, sejak suami resign dari kantornya, aku memaksa diri untuk memproduksi kata-kata menjadi sebuah skrip film dan sinetron. Duduk berhadapan dengan layar laptop, membiarkan jari mengukir kata-kata berjajar di layar karena bila tidak, aku tidak tahu dengan cara apa aku bisa menghasilkan uang. Ada kartu kredit aku dan Fajar yang harus dilunasi. Tagihan listrik, air, internet, dan entah apa lagi yang harus dibayar.

Aku ingat, tahun 2007 lalu aku pernah menonton Oprah Show yang menghadirkan Randy Pausch, seorang profesor computer science, human–computer interaction, dan design di Carnegie Mellon University, yang sakit kanker pankreas. Menurut dokter, umur Randy Pausch diperkirakan hanya 3-6 bulan lagi. Mengetahui hal itu, Randy bukannya bersedih dan putus asa. Sebaliknya, dia ingin sisa hidupnya menjadi lebih bermakna dengan memberikan kuliah bernama The Last Lecture: Really Achieving Your Childhood Dreams di Carnegie Mellon. Video-nya begitu populer di youtube sampai Randy diundang ke berbagai media, termasuk salah satunya, The Oprah Show.

Menurut Randy, the brick walls are there for a reason. Tembok itu ada di sana untuk memberikan kesempatan kepada diri kita sendiri untuk membuktikan seberapa besar kita menginginkan sesuatu. Tembok itu ada di sana justru untuk menghentikan mereka yang tidak benar-benar menginginkan sesuatu.

“Gue temenin elo. Side by side… dan gue yakin, elo pasti finish.”

Aku menarik napas panjang. Arianda Atmadja baru saja menegaskan bahwa dia akan mendampingiku berlari 42,195 kilometer.

Should I say yes?

You Might Also Like

4 Comments

  • Reply Aprillia Ekasari March 5, 2016 at 11:07 pm

    Pas lagi butuh semangat, nemu quote ini:

    “Tembok itu ada di sana untuk memberikan kesempatan kepada diri kita sendiri untuk membuktikan seberapa besar kita menginginkan sesuatu. Tembok itu ada di sana justru untuk menghentikan mereka yang tidak benar-benar menginginkan sesuatu.”

    Semoga saya gak kalah ama tembok juga :)

    Tengkyu Mbak Ninit :)

  • Reply chaidir akbar March 6, 2016 at 4:50 am

    Teh, kalo kata teman kita Nata, where is the wall?

    Terkadang wall itu diciptakan oleh pikiran, kata dan perbuatan, jadi bisa juga untuk tidak diciptakan, ketiadaan pembatas ..

  • Reply Prytz March 6, 2016 at 8:48 am

    one great reminder..
    makasih ya teh ninit, bacanya bikin semangat lagi ngerjain ini itu yang pending kemarin-kemarin.. :)

  • Reply Yanti March 20, 2016 at 9:25 pm

    Makasih ya teh, quotesnya bikin semangat untuk melakukan apa aja yang bisa kita lakukan, karena tembok terbesar yang kita hadapi adalah diri kita sendiri.. Ceritanya bagus banget

  • Leave a Reply