family personal

Language Travel ke Inggris

August 4, 2017

Saya masih ingat waktu kelas 3, Alde ikut les Bahasa Inggris di EF Menteng (sekarang udah ngga ada) dan keluar dari kelas excited sambil membawa brosur Language Travel. Malamnya, dia bilang sama saya dan Adit, kalau dia ingin ikut Language Travel. Saya dan Adit berpandangan… Oh. Pandangan yang artinya, “Duh gimana nih?” Honestly, pada saat itu memang ngga ada uangnya… kami memang tidak mempersiapkan dana untuk itu.

Kalau Alde minta mainan, mungkin masih bisa kami tolak. Tapi ketika anak minta sesuatu yang membuka cakrawalanya, kami usahakan.

Alde memang ngga maksa tapi kelihatan sih kalau dia sepenuh hati memang ingin ikut. Dia memang selalu senang kalau les Bahasa Inggris. Karena EF terdekat sudah tutup, Alde pindah les ke TBI. Cuma ada jeda 1 jam dari pulang sekolah sampai ke rumah untuk lanjut les… dan dia ngga pernah ngeluh capek, sebaliknya semangat. Lari-lari berdua sama Arza karena ngga mau terlambat masuk ke kelas.

Akhirnya, setelah kelas 5, keinginan Alde untuk ikut language travel, alhamdulillah tercapai. Pas ada rezekinya. Pas juga waktunya, liburan kelas 5 naik ke kelas 6. Alde ikut language travel di Newland Park, Inggris selama dua minggu.

Yang menarik sih tentang uang saku.

Jadi kami bilang sama Alde. “Uang saku untuk 3 hari pertama, ada di dompet. Sisanya ada di folder kecil akordeon yaa (hm, apa ya namanya? kami sih bilangnya itu :D).”
“Oke.”

Pulang ke Jakarta… ternyata, uang saku yang ada di folder kecil akordeon itu UTUH. Alde hanya menghabiskan uang saku jatah 3 hari saja yang ada di dompet. Itu pun ada kembalian uang pecahan dalam bentuk koin yang saya minta Alde habiskan. Uang saku 3 hari itu, Alde belikan gantungan kunci untuk saya, Adit, dan neneknya. Magnet plus 1 sweater Oxford.

Menarik.

Lalu saya tanya sama Alde.
“A… Emangnya Aa ngga jajan?”
“Jajan kok, Ma. Alde beli M&M’s waktu ke M&M’s world. Di asrama kan dikasih makan juga. Jadi ngga perlu jajan.”
“Alde ngga beli simcard?”
“Kan ada free wifi di kampus. Kalau jalan-jalan, foto-foto aja. Nanti kalau mau kirim ke Mama, dari kampus.”
“Alde ngga beli lego?”
“Di Jakarta juga ada lego, Ma. Lagian Alde udah ada lego di rumah. Jadi ngga perlu beli.”

Saya sempat lihat foto teman-teman Alde yang perempuan pakai jumper Oxford setelah mereka tour ke Oxford. Lalu saya tanya waktu video call dengan Alde.
“Alde, beli jumper Oxford ngga?”
“Ngga, Ma. Alde cuma mau beli memori (pengalaman).”
“Oke deh.” Padahal dalam hati… why nottt Aldeee :D

Sampai di Jakarta, ternyata akhirnya Alde beli sweater Oxford. Mungkin dia menangkap ekspresi oh-why-not saya ketika video call.
“Tapi Alde belinya di Windsor, Ma. Bukan di Oxford.” :D

Kids and Money ini menarik ya. Seperti kata Ligwina Hananto, anak itu ngga cukup diajarin “nabung” aja… tapi bagaimana mengatur untuk membelanjakannya itu justru sangat penting.

You Might Also Like

5 Comments

  • Reply Huda Shidqie August 4, 2017 at 1:29 pm

    bikin terharu deh alde :”)

  • Reply Puput August 5, 2017 at 11:23 pm

    Berarti dia belajar itu dari kedua orangtuanya mbak. Belajar untuk menghargai nilai uang. Salute!

  • Reply Puput August 5, 2017 at 11:59 pm

    Pasti alde belajar untuk menghargai nilai uang dari kedua orangtuanya. Salut untuk teh ninit dan mas adit

  • Reply Andita August 7, 2017 at 2:20 pm

    Mengahrukan banget Alde.. Ini pasti karena terbiasa melihat orang tua yang gaya hidupnya nggak konsumtif yaa.. Bagi tips nya dong Teh :)

  • Reply liah August 8, 2017 at 9:19 am

    hebat ya aa alde kecil kecil tapi pemikirannya luar biasa

  • Leave a Reply