read & write

Goodbye Things

November 16, 2017

Bagi saya, buku ini luar biasa.
Yang saya suka, Fumio Sasaki menulis Goodbye Things dengan humble. Setelah ini saya membaca buku sejenis tapi kok yaaa rasanya kayak dimarah-marahin penulisnya :D. Berbeda dengan Fumio Sasaki. Dia hanya berbagi pengalaman. Sederhana dan rendah hati. Untuk blog readers yang ingin menemukan kualitas dalam hidup, sebaiknya dipertimbangkan untuk memiliki buku ini. Soalnya kalau pinjam, rasanya kurang maksimal. Goodbye Things adalah buku yang ingin kita baca lebih dari satu kali.

Mungkin blog readers bertanya, apa sih minimalis itu?

A minimalist is a person who knows what is truly essential for him- or herself, who reduces the number of possessions that they have for the sake of things that are really important to them.

Buku ini diawali dengan foto apartemen Fumio Sasaki sebelum dan sesudah menjalankan hidup minimalis.



Melihatnya saja, rasanya adem ya di hati.

Saya termasuk golongan yang percaya kalau segalanya berawal dari rumah. Saya suka bad mood kalau rumah berantakan :( Kalau rumah cukup rapi, hati jadi adem.
Ada waktu rumah boleh berantakan (misalnya kalau anak main) tapi tetap harus dibereskan lagi sesudahnya.

Setelah membaca buku ini, banyak hal berubah dalam hidup saya. Seperti:

Menjadi

Yang pertama saya lakukan:
1. Mereduksi baju.
2. Mereduksi buku.

Dua hal itu saja, rasanya sudah sangat signifikan!

Untuk pakaian, sekarang saya memiliki kemeja dengan model dan warna yang sama yang jumlahnya 3. Bawahan juga sama. Baju-baju saya cenderung berwarna gelap. Ada 2 kemeja yang berwarna putih.
Dulu, menghabiskan beberapa menit untuk berpikir pakai baju apa. Sekarang? Tidak lagi.
Baju lari juga jumlahnya banyak. Sekarang saya hanya punya baju lari 5 buah atasan, 2 bawahan.
Baju-baju saya hibahkan dan ada juga yang saya jual di Instagram.

Demikian juga dengan buku-buku.
Banyak buku yang saya jual dan saya hibahkan. Sebisa mungkin saya membeli e-book melalui Kindle. Saya mengakui kalau saya masih suka membeli buku fisik. Apalagi kalau buku-buku tentang interior, ngga tahan yaaa… karena ilustrasinya bagus sekali dan kurang maksimal kalau membacanya via Kindle.

Baru mereduksi beberapa barang saja, dampaknya luar biasa :’)

Tas yang saya miliki sekarang hanya 1. :) Longchamp Neo hitam. Sudah cukup decent untuk meeting, nyaman dipakai untuk kegiatan sehari-hari.

Kalau saya mungkin masih jauh dari minimalis… tapi sudah masuk ke tahap simple living.

Jadi inget dulu saya pernah berkunjung ke rumah salah satu ustadz. Begitu masuk rumah, hanya ada karpet. Itu saja.
Tahu, rasanya ngga mudah untuk say goodbye dengan barang-barang yang ada di rumah kita. Kalau memang tidak dipakai dan diperlukan, menurut saya lebih baik kita hibahkan pada yang benar-benar membutuhkannya dan akan menggunakannya dengan baik.

Beneran deh, rumah yang lapang dengan hanya ada barang-barang yang tidak banyak tapi sesuai dengan fungsi yang kita butuhkan dan kita sukai itu lebih menyenangkan.

There’s happiness in having less.
That’s why it’s time to say goodbye to all our extra things.

Highly recommended!

You Might Also Like

14 Comments

  • Reply Maya Rumi November 16, 2017 at 6:08 pm

    Aq sampai saat ini blm bisa teh merelakan buku2 yg aq sudah beli di kasih ke org lain, tp untuk baju, hijab, sepatu, tas aq bisa ngasih hanya dengan mikir : sudah tidak dipakai lagi slm 1 bulan berarti harus dikasih ke orang.

    • Reply ninityunita November 17, 2017 at 9:18 am

      iya memang ada barang yang susah dilepaskan :) ngga harus kok maya… tiap orang kan beda-beda yah definisi mereduksi barang yang memang ngga terlalu esensial untuk di simpan di rumah. nah itu bagus deh, kalo ngga dipake 1 bulan berarti harus dikasih… atau kalau beli 1 barang, ada 1 barang lagi yang ke luar.

  • Reply Sinta November 16, 2017 at 6:45 pm

    Been reading this book as well, and marie kondo and hygge and lagom… still hv ton of things at home…

    Yes, i believe in less thing, less stress… ud mulai kurangin buku2, n baju, tp kl tas belom. Ada tas sehari2, tas gym, belom lagi kl ada undangan, laen lagi tasnya, hadeuuhh ga klar-klar.

    Ud ga pernah collect things lagi, kl mo beli barang dipikirin banget perlu pa engga.

    Tapi masih jauh banget dr minimalism *sigh

    • Reply ninityunita November 17, 2017 at 9:17 am

      ih sama deh kitaaa!
      seneng ya baca-baca buku sejenis ini. tiap baca kok adem rasanya :)
      nah udah ngga collect things lagi itu udah keren banget loh sin… semangat! :)

  • Reply Ira November 16, 2017 at 9:54 pm

    akupun mulai merelakan novel2 untuk diadopsi oleh temen-temenku Mbak….dan emang ga mudah. Kalau baju sebenernya cenderung lebih mudah untuk dikurangi, begitu juga tas. Tapi kalau novel lebih berat merelakannya

    • Reply ninityunita November 17, 2017 at 9:20 am

      nahhh iya banget ini ra :D
      aku juga ada beberapa novel yang di-keep. ngga semua dihibahkan/dijual. tiap orang kan beda-beda yah ra… mungkin yang lain ada yang lebih gampang melepas novel daripada baju ;) ya kaaan… ngga apa-apa kok.

  • Reply kiky November 17, 2017 at 10:53 am

    karena saya pindah rumah yang luasnya 1/4 rumah lama, otomatis barang2x banyak yang dhibahkan/dijual. memang awalnya susah sih, apalagi kalau peninggalan almh mama.
    tapi memang setelah itu jadinya biasa saja. ada teori teman, barang2x yang tidak dibutuhkan letakan dalam kardus dan diselotip. Selama setahun itu kardus tidak terbuka, ngga usah dibuka, langsung singkirkan.

    • Reply ninityunita November 19, 2017 at 8:23 am

      yay kiky! :)
      bener ky… memang perlu latihan yah… lama-lama jadi bisa :)

  • Reply Yeye November 17, 2017 at 11:56 am

    Tehhh, salut ihhh..

    Aku msh blm rela melepas koleksi buku2, beratttt.. Apalagi koleksi buku jaman msh anak2, duh urang beratt euy..

    • Reply ninityunita November 19, 2017 at 8:24 am

      Yeye… iya pasti susah ya Ye… Apalagi kalau bukunya bagus-bagus yaaa :)
      Ngga harus kok Ye… coba Yeye pilih-pilih aja barang yang memang bisa dilepaskan karena ngga dipakai.

  • Reply Fita November 17, 2017 at 2:01 pm

    Halo, Mbak Ninit. Aku mulai ngurangi barang setelah baca bukunya Marie Kondo. Pingin baca yang ini. Versi Indonesianya ada nggak ya?

    • Reply ninityunita November 19, 2017 at 8:24 am

      Hi Fita, kalau edisi bahasa Indonesia setahu aku belum ada Fit.

  • Reply D I J A December 2, 2017 at 1:38 pm

    wow… ajaib

    langsung terlihat lebih lapang

  • Reply litahap December 4, 2017 at 1:19 am

    Teteeeh… Suka banget!!!
    Lagi berupaya (banget) hidup minimalis dan lagi “ngidam” buku Goodbye Things.

    Baru baca buku Marie Kondo aja lumayan ada perubahan, apalagi kalo ditambah ilustrasi. LoveLoveLove

  • Leave a Reply