movie & music

Wonder: Film Keluarga yang Hangat dan Mengesankan

December 20, 2017

When given the choice between being right or being kind, choose kind. – Dr Wayne W. Dyer.

Itu lah kata-kata yang ditulis Mr Browne di papan tulis ketika August Pullman (Auggie) yang berusia 10 tahun, untuk kali pertama bersekolah di sekolah umum. Selama ini Auggie menerima pendidikan melalui jalur homeschooling. Dalam 10 tahun usianya, Auggie sudah melakukan 27 kali operasi karena Auggie memiliki craniofacial disease. Orangtua Auggie memutuskan bahwa tahun ini, sudah saatnya Auggie bersekolah di sekolah umum. Tentunya ini bukan sesuatu yang mudah bagi orangtua Auggie. Mereka sadar bahwa Auggie akan mengalami hal-hal yang kurang nyaman. Tatapan mata yang memandang aneh bahkan komentar-komentar jahat dari anak-anak seusianya tentu akan ada karena wajah anak dengan craniofacial desease sangat berbeda dengan anak-anak pada umumnya.

Film Wonder menceritakan tentang Auggie dan keluarganya. Ibunya, Isabel (diperankan oleh Julia Roberts), menunda thesis dan cita-citanya demi mencurahkan segala perhatian untuk Auggie. Di film, kita bisa merasakan betapa ayah Auggie, Nate (diperankan oleh Owen Wilson) yang selalu berusaha menghibur Auggie. Auggie sangat beruntung karena memiliki orangtua yang sangat menyayanginya dan seorang kakak perempuan (Via) yang sangat pengertian. Kita bisa merasakan bahwa karena kondisi Auggie yang “spesial”, terkadang Via merasa kesepian karena kurang perhatian dari orangtuanya.

Auggie diperankan secara luar biasa oleh Jacob Tremblay. Saya sendiri merasa familiar ketika mendengar namanya. Oh! Ternyata dia adalah pemeran anak di film Room yang juga bermain dengan sangat bagus.

Sebagai orangtua, Isabel dan Nate mengerti bahwa mereka tidak bisa terus menerus “menjaga” Auggie dan membiarkannya menjadi anak yang “steril”. Meski menyakitkan, Auggie harus belajar berhadapan bagaimana menghadapi anak-anak yang memandangnya dengan aneh dan bahkan membully-nya. Bukan tanpa hambatan, Jack Will, teman sekelas yang akhirnya dekat dan selalu makan siang bersama Auggie, mengatakan sesuatu yang membuat Auggie sedih dan marah.

Film Wonder ini diceritakan dari sudut pandang beberapa orang (Auggie, Via, Jack Will, dan Miranda), sehingga membuat kita mengerti kenapa masing-masing bersikap demikian. Beberapa kali mata saya dibuat basah karena dialog dan ekspresi para pemainnya yang sangat pas tanpa harus berlebihan, membuat saya tersentuh. Tidak hanya menyentuh, Wonder juga memberikan beberapa adegan yang lucu yang sering membuat kami yang menonton saat itu, tertawa satu studio.

Karena anak-anak UAS, jadi baru dalam minggu ini saya bisa menonton film di theatre. Sebetulnya mereka sudah sangat ingin menonton Star Wars tetapi Wonder adalah film pertama yang saya pilih untuk menonton bersama mereka. Saat akan membeli tiket (terima kasih m-tix!), ternyata antusias penonton terhadap film ini sangat tinggi. Ketika saya duduk di studio, ternyata penonton sampai bersedia duduk di baris terdepan! Full house!

Saya membeli 6 tiket (kebetulan ibu saya sedang berkunjung ke Jakarta) dan terpaksa harus berpisah baris dengan anak-anak. Mereka duduk satu baris di depan bersama neneknya, sementara saya, suami, dan asisten, duduk di baris di belakang mereka. Ketika film berakhir, saya tanya pendapat mereka mengenai filmnya dan jawabannya, mereka suka sekali.

Wonder adalah film yang hangat, menyentuh, dan lucu. Semua yang mendukung film ini bermain dengan sangat baik. Salut untuk semua aktor anak-anak yang terlibat. Mereka bermain dengan sangat baik. Kalau blog readers adalah tipe penonton yang mudah menangis seperti saya (semua film yang melibatkan orangtua dan anak begitu mudah membuat saya menangis), coba siapkan tissue.

Ps, film Wonder ini diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama. Saya sendiri belum membaca novelnya dan langsung membeli setelah menonton. Baru di bab 1, saya rasa filmnya cukup “patuh” pada novel.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply