daily living

Berbagi Pengalaman: Lulus diterima di SMP Labschool Kebayoran

March 13, 2018

Bagi orangtua yang anaknya duduk di kelas 6 SD dan ingin melanjutkan ke SMP Labschool, saya ingin berbagi pengalaman bagaimana Alde, alhamdulillah bisa lulus diterima di SMP Labschool Kebayoran. SMP Labschool Kebayoran ini salah satu SMP favorit di Jakarta. Biasanya setiap tahun ada sekitar 1200 siswa yang mengikuti tes dan yang diterima sekitar dari 200+ murid. Semoga bermanfaat.

Untuk urusan belajar, jujur saya sudah lepas. Inisiatif belajar Alde sudah tinggi. Mandiri. Jadi dengan Alde, saya benar-benar santai. Tidak perlu diingatkan lagi untuk belajar. Saya selalu bilang, belajar untuk diri sendiri. Untuk Alde. Itu tanggung jawab Alde. Alhamdulillah di sekolah, sejak kelas 4 Alde termasuk top 3 di kelas. Jadi, kami lihat ada kesempatan untuk Alde mencoba masuk ke SMP Labschool. Terus terang, selalu ada rasa yang campur aduk ketika mendengar Labschool. Salah satu teman, anaknya bersekolah di SMA Labschool. Kalau dengar cerita-ceritanya, kok asik ya. Tapi sadar kalau untuk lulus tes bersekolah di sana tidak mudah. Tapi bagaimana pun, harus dicoba. Berusaha dan berdo’a… dan melihat hasil belajar Alde di sekolah, cukup realistis untuk ikut test masuk.

Oktober 2016, kami mengajak Alde ke Labschool.
Saat itu Alde masih kelas 5. Saya suka sekali dengan salah satu habit di buku Seven Habits of Highly Effective People, yaitu begin with the end in mind. Kami mengajak Alde melihat-lihat Labschool sambil membeli buku kumpulan soal-soal test masuk SMP Labschool yang ada di koperasi. Nah, bagi blog readers, direkomendasikan untuk membeli bukunya. Saya lupa harganya berapa. Tapi yang pasti, memang dijual di koperasi sekolah.

Alde kelas 6.
Begitu naik kelas 6, saya dan suami mendaftarkan Alde untuk ikut bimbingan belajar. Karena di sekolah ada juga PM (pendalaman materi), kami memilih Alde untuk bimbel di BP (Bintang Pelajar) yang masih satu kompleks di Al Azhar. Pertimbangannya: agar Alde tidak terlalu lelah karena tidak perlu waktu lama di perjalanan menuju tempat bimbel. Bayangkan saja, PM di sekolah ada 4 kali sampai pukul 15:00. Lalu lanjut bimbel pkl 16:00 sampai 17:30. Kebetulan salah satu teman Alde ketika mengikuti languange travel ke London, bersekolah di SMP Labschool Kebayoran. Jadi kesempatan bagi Alde untuk bertanya-tanya. Mendengar pengalamannya, Alde semakin termotivasi untuk masuk Labschool.
So far kami puas dengan BP. Beberapa kali ada try out dan berdasarkan hasilnya, Alde direkomendasikan untuk mendaftar ke Labschool. Tapi jujur, hasil try out tidak membuat kami tenang. Apapun bisa terjadi. Selain try out di BP, Alde juga pernah mengikuti try out di tempat lain.

Info:
Biaya mengikuti bimbel di BP adalah +/- Rp 14.000.000 untuk 1 tahun.

Semester I
Masuk kelas 6, terpaksa dua les yang Alde ikuti, tidak dilanjutkan dulu. Tiap pulang menuju rumah, Alde selalu tertidur di motor (Alhamdulillah ada sabuk bonceng untuk keamanan). Jujur, sebagai ibu, saya suka tidak tega. Tapi Alhamdulillah, Alde tidak pernah mengeluh. Saya selalu memotivasi Alde.

“A, ujian masuk SMP Labschool itu hanya satu kali dalam hidup Alde dan tidak bisa diulang lagi. Jadi, Mama minta, Alde lakukan yang terbaik yang Alde bisa. Belajar semaksimal mungkin agar hasilnya juga maksimal. Jangan sampai Alde tidak maksimal belajar dan Alde menyesal. Alde sama sekali tidak harus masuk Labschool, tapi Alde harus coba. Mama ngga mau Alde menyesal karena tidak maksimal belajar. Kalau Alde ngga masuk Labschool bukan berarti Alde ngga pinter kok. Tapi memang kapasitasnya terbatas karena yang ingin masuk Labschool itu banyak banget.”

Terus terang, buku kumpulan soal-soal test masuk SMP Labschool baru dipelajari di akhir semester I. Iya benar, kelas 6 itu rasanya berat banget. Bayangkan saja, test masuk SMP itu bulan Februari, dimana materi test adalah materi semester I dan semester II (yang belum selesai dipelajari) plus sedikit materi SMP.

Saya dan suami komit untuk mendukung Alde mempersiapkan diri menghadapi tes masuk SMP Labschool. Selama dua bulan menjelang tes, suami intensif mendampingi Alde belajar di rumah. Tiap hari membuat soal-soal untuk Alde. Bila suami tahu akan pulang malam dari kantor, suami membuat soal-soal (sekaligus jawabannya) untuk dikerjakan oleh Alde. Benar-benar dynamic duo deh. Alhamdulillah. Tapi sebenarnya suami cemas, “Duh kayaknya telat nih baru intensif belajar buat tes…”
Asli, saya jadi deg-degan.

Menjelang test masuk, di Bimbel BP juga ada kelas intensif Labschool. Dilakukan 4 kali dalam seminggu.

Hari pertama ketika pendaftaran test masuk Labschool dibuka, kami langsung mendaftar. Pendaftaran ini dilakukan secara online. Saya baru daftar sekitar pukul 06.00 sementara beberapa teman ternyata mendaftar pukul 00:00. Alde sendiri mendapat nomor 50an. Kebayang kan… itu baru hari pertama.

Lulus diterima di SMP Al Azhar
Berdasarkan sejarah, test masuk SMP Labschool dan Al Azhar Pusat biasanya terjadi di hari yang sama. Pilihan jadi semakin sempit kan.

Nah, untuk SMP Al Azhar sendiri ada 3 opsi:
1. Langsung diterima di SMP Al Azhar tanpa test – 6 Semester
Syarat: Untuk nilai mata pelajaran Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris masing-masing minimal 8.00 dari kelas 4.
– Bila mengambil opsi ini, Alde diterima. Tapi kami tidak mengambilnya.

2. Program Akselerasi – 4 Semester.
Syarat: Untuk nilai mata pelajaran Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris masing-masing minimal 85.00 dari kelas 4.
– Alde memenuhi syarat tapi tidak mengikuti testnya.

3. Program 6 Semester.

Alhamdulillah ternyata tahun ini test masuk SMP Al Azhar dan SMP Labschool tidak terjadi di hari yang sama. Kami mendaftar di hari terakhir (15 Februari). Test masuk 18 Februari terdiri atas test tertulis dan wawancara. Pengumuman 7 Maret, Alhamdulillah Alde lulus diterima. Saya benar-benar tenang karena Alde sudah lulus jadi bila tidak lulus SMP Labschool, tidak panik mencari sekolah.

Persiapan Mental Bila Tidak diterima di SMP Labschool
Bagi kami, persiapan mental Alde juga sangat penting. Kami menggarisbawahi bahwa usaha yang maksimal dalam apapun harus dilakukan. Hasilnya ditentukan oleh Allah SWT. Jadi tips penting adalah:
1. Berdo’a.
Alde sering sekali minta do’a dari orangtua dan keluarga (nenek kakek uwa).
Satu hal menarik dari Alde, kalau “ada maunya” dia lebih rajin sholat di masjid. :D

2. Realistis
Bila tidak diterima, bukan berarti Alde tidak pintar tapi mari realistis. Dari 1.200 hanya sekitar 200 yang diterima. Kami tidak ingin mental Alde jatuh.
“Di sekolah, mungkin nilai Alde cukup baik tapi di luar sana, banyak sekolah, banyak anak-anak yang nilainya sama seperti Alde dan banyak yang jauh lebih tinggi lagi.”
Sekali lagi kami menggarisbawahi, usaha, usaha, dan usaha.

Test Masuk SMP Labschool – 25 Februari 2018
Bismillah! D-Day!
Saya dan suami mengantar Alde ke Labschool. Saat kami sampai, sudah banyak sekali orangtua yang mengantar anak-anaknya mengikuti test. Anak-anak berkumpul di Hall Basket. Saya hanya mengantar Alde dan pulang. Makan bubur dan lanjut ngopi dengan Lena, teman SMA saya di Bandung.

Materi yang diujikan:
08:00 – 10:00 Psikotes
11:00 – 13:00 Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS.

Alde pulang dengan gojek dan sampai di rumah… “Test-nya susah, Ma. Psikotesnya sih Alde bisa. Soal-soalnya yang pasti Alde bisa jawab 50, yang 25 susah.”

Kami peluk Alde. “Diterima atau ngga, yang penting Alde udah memberikan yang terbaik.”

Dalam hati… perasaan semakin ngga menentu :D Saya dan suami menyiapkan mental, kemungkinan terbesar Alde tidak lulus… agar pada saat pengumumannya nanti, sudah siap.

Kami pun selalu berdo’a agar diberikan sekolah yang baik bagi Alde. Yang membuat Alde senang belajar dan semakin berkembang. Kami tidak meminta sekolah tertentu. Kami berdo’a diberikan yang terbaik untuk Alde.

Pengumuman Hasil Seleksi
Tanggal 3 Maret adalah hari pengumuman kelulusan test SMP Labschool. Pengumuman ada di website pada pukul 00:00. Tanggal 2 (hari Jum’at) saya berusaha “senormal” mungkin berusaha untuk tenang. Pulang kantor, suami mengajak nonton film. Distraksi agar kami tidak tegang dan waktu cepat berlalu. Kami berdua tidak bisa tidur, tegang menunggu pkl 00:00. Padahal paginya saya ada acara dengan The Urban Mama.

Pkl 22:00 Alde bersiap-siap tidur. Saya tanya sekali lagi, “Alde… kalau Alde tidak lulus test Labschool, bagaimana?”
“Ngga apa-apa, Ma. Kalau Alde ngga lulus itu sudah takdir Allah. Alde udah did my best.” Saya peluk sampai Alde tertidur.

Waktu yang ditunggu tiba! Saya dan suami literally dengan jantung berdebar membuka website… memasukkan nomor test… dan…

Saya langsung menangis dan berpelukan dengan suami. Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah sujud syukur.

Ya Allah… begini ya rasanya salah satu episode bahagia itu. :’)

Kami berusaha membangunkan Alde (haha! maaf yaa Alde…). “Alde selamat ya lulus masuk Labschool.”
Alde jawab dengan mata terpejam, “Oh ya Alhamdulillah. Let me get back to sleep yaaa, Mama Bapak.” :D

Daftar Ulang
Setelah pengumuman kelulusan ada beberapa hal yang harus dilakukan:
1. Pemeriksaan Kesehatan
Test-nya dilakukan di Poliklinik Labschool Kebayoran. Membayar Rp 120.000. Test-nya berupa test urine, bebas NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya).

2. Membayar Uang Pangkal
Uang pangkal masuk SMP Labschool Rp 29.000.000 – saya melakukan pembayaran di Bank BNI yang ada di halaman depan SMP Labschool.
Uang seragam Rp 1.700.000
Buku Paket: Belum
SPP: Belum

Setelah membayar, baru menyerahkan kelengkapan seperti:
1. Bukti setoran uang pangkal
2. Berkas siswa baru:
– kartu tes
– pas foto hitam putih 3×4 sebanyak 4 lembar
– fotokopi akta kelahiran
– fotokopi NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) – bisa dicek di sini, di print.

Sebaiknya membawa materai sendiri karena sebelum menyerahkan berkas, kita harus mengisi dan menandatangani surat bahwa uang pangkal tidak bisa dikembalikan.
.
.
.
Demikian pengalaman Alde. Tidak ada niat lain selain berbagi pengalaman karena saya sendiri merasa minim info saat akan mendaftarkan Alde ke Labschool. Saya tulis sekarang karena khawatir ada yang lupa, jadi mumpung masih hangat, maka saya tulis sekarang.

Perlu diingat:
Test biasanya di bulan Februari.
Jadi hanya ada waktu 6 bulan sejak masuk kelas 6 untuk persiapan test masuk.
Harap diingat bahwa materi ujian adalah materi semester I dan semester II.
.
Semoga blog readers yang berniat mendaftarkan anaknya untuk masuk SMP Labschool tahun depan, semakin baik persiapannya dibandingkan Alde. Usaha maksimal dan yang paling penting, do’a.

You Might Also Like

6 Comments

  • Reply liah March 19, 2018 at 9:21 am

    Selamat ya Alde, Teh Ninit

  • Reply murwita April 5, 2018 at 3:49 pm

    selamat ya Alde, semoga kedepan nya senang dan semangat terus sekolah dan belajarnya, aamiin

  • Reply Vera April 9, 2018 at 10:13 am

    Mba Ninit, alhamdulillah ikut bahagia baca ceritanya. Lebih kurang hampir sama dengan pengalaman waktu anakku dulu. Raka skrg kls 7 (angkt. 17) di Labsky. Pengalaman membuka website SMP Labsky pd malam itu memang benar2 tak terlupakan ya mba…hehehe. Tangan saya sampai gemetaran waktu itu :-) Semoga bisa sukses studinya di Labsky nanti.

    Salam kenal,
    Vera

    • Reply ninityunita April 11, 2018 at 10:42 am

      mbak veraaa salam kenal… terima kasih sudah mampir & memberi komen. betul mbak, benar-benar bikin deg-degan yaa. semoga nanti alde bisa kenalan sama raka :)

    Leave a Reply