Category: article

kado terindah

kado saya untuk majalah good housekeeping (happy birthday good housekeeping!).

Saya dan suami bukan tipe orang yang senang mendapatkan kejutan saat ulang tahun. Kami berdua selalu saling bertanya, “mau hadiah apa untuk ulang tahun?”. Jujur, saya sering menjawab bahwa do’a dari dia adalah kado ulang tahun yang terindah untuk saya. Kadang-kadang kami berdua (dan sekarang berempat dengan 2 anak) makan malam di luar untuk merayakan. Jadi lupakan pemandangan meniup lilin yang tersusun di atas kue, menerima kado tas atau sepatu, apalagi bunga. Hal tersebut jarang terjadi di rumah kami.

Suatu hari, ketika anak saya sudah tidur, saya menonton televisi local Singapura. Ada sebuah iklan layanan masyarakat yang sangat menyentuh hati. Intinya, tentang seorang nenek yang ingin memberikan kado istimewa untuk cucunya. Sayang, nenek tersebut tidak pernah sampai ke rumah karena mengalami kecelakaan. Lalu iklan tersebut kurang lebih menyatakan bahwa, “the best gift for your loved ones is yourself.” Saya lalu terdiam setelah melihat iklan tersebut dan dengan instant merenung bahwa betapa benar inti dari tayangan yang saya lihat tadi.

Lalu saya menatap suami yang sedang membaca buku di samping saya. Terlihat sedikit lelah karena sering pulang melewati jam kantor. Terkadang saya mengirim SMS untuk bertanya pukul berapa dia akan tiba di rumah. Mendekati 6 tahun usia pernikahan kami, gurat-gurat lelah karena begitu keras bekerja yang ada di wajahnya merupakan kado terindah yang setiap detik saya dan anak-anak terima. Kehadirannya di tengah kami adalah hal yang selalu ditunggu. Itu pun selalu ditambah bonus dengan begitu mudahnya dia membuat kami tertawa setiap hari.

Dan terbawa ke masa lalu, saya jadi ingat satu hal. Sebelum kami menikah, suami bertanya pada saya. Saat itu, dia memberikan pilihan apakah saya akan terus berkarir di tempat saya bekerja saat itu (yang mana merupakan perusahaan impian saya) dengan konsekuensi pisah negara (saat itu dia ditugaskan di luar negeri) atau ikut dia dengan konsekuensi melepaskan karir. Saya memilih yang kedua. Mengikuti suami bertugas di luar negeri dan menjadi ibu rumah tangga. Selain menjadi ibu rumah tangga, saya mulai menggali hobi lama, yaitu menulis. Suami tidak pernah sedikit pun memandang rendah posisi saya sebagai ibu rumah tangga. Bahkan dia selalu memberikan dukungan pada saya sehingga rasanya saya tidak sempat mengalami sindrom the grass is always greener on the other side. Melihat teman-teman yang menjadi wanita karir. I’m happy for them. Saya yakin setiap individu memiliki sendiri jalannya untuk berkembang. Semuanya membanggakan asal kita percaya diri dan melakukan tugas dengan sebaik mungkin karena semua itu adalah ibadah. Dengan menjadi ibu rumah tangga, saya yakin rumput di halaman rumah kami juga sehijau rumput tetangga.

Kini, kami tinggal di Singapura. Selain menjadi ibu rumah tangga, mengurus 2 orang anak, saya masih tetap menulis novel, dan terakhir menjalankan bisnis online yang saya kelola bersama seorang sahabat. Ketiganya bisa berjalan dengan baik dan selalu mendapat dukungan penuh dari suami.

Itu, kado terindah yang tidak hanya dia persembahkan untuk saya, tapi juga untuk keluarga. Mungkin itu sebabnya kenapa saya tidak pernah meminta kado khusus saat ulang tahun. Seperti kata pepatah, today is a gift that’s why it’s called present.

ps, baca juga artikel okke sepatumerah untuk good housekeeping :-)

Post to Twitter Tweet This Post

berpegangan tangan

my latest article in koran sindo.
i’m always amazed seeing elder couples holding hands.

Post to Twitter Tweet This Post

not my cup of coffee

Kalau tak suka minum teh, tak perlu memaksa orang lain untuk minum kopi. Inilah makna mendalam yang hendak disampaikan oleh Ninit Yunita, seorang penulis/blogger.

Setiap orang pasti pernah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidupnya. Kalau diingat-ingat lagi, saya harus mengalami patah hati beberapa kali sebelum menikah dengan suami saya yang sekarang. Saya tidak pernah mendapat nilai A pada sebuah mata kuliah meski sudah mengulang sebanyak dua kali. Kalau dibuat daftar, pasti merupakan daftar yang panjang. Kalau diceritakan mungkin bisa menandingi pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Jadi singkatnya, rasio sedih berbanding senang jauh lebih besar sedih.

Mungkin manusiawi bila kita sedikit mengeluh jika baru saja mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Asal porsinya wajar. Tapi jujur saja, saya cukup terganggu bila seseorang mengeluh dengan porsi yang keterlaluan. Coba bayangkan, bila kita harus mendengar keluhan seseorang sepanjang musim hujan berlangsung. Tentu sangat membosankan.

Seorang teman yang saya kenal sering curhat selama dua abad kepada saya. Ia sering mengeluh karena saat sedang menikmati menjadi seorang wanita karir, ia memutuskan untuk menikah. Bukan itu saja, karena menikah dengan pria yang berbeda bangsa, ia harus berdomisili di negara dengan empat musim yang tidak seramai Jakarta. Ditambah, tidak lama setelah menikah, ia langsung hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang lucu. Singkat kata, dia tidak menyukai statusnya sebagai ibu rumah tangga yang dianggap tidak berkelas seperti saat dia berkarir dulu.

Awalnya saya masih merasa wajar saja bila dia mengeluh. Saya juga saat itu mengalami hal yang sama dengan yang terjadi padanya, mengikuti suami ke luar Indonesia dan ditempatkan di negara yang sedang berperang pula di Afrika. Negara yang katanya paling maju di belahan barat Afrika meski keadaannya tidak berbeda dari Indonesia pada 20 tahun yang lalu. Tapi saya beruntung. Tidak seperti dia, setelah satu bulan saya justru sangat menikmati. Saya yakin pengalaman ini akan berharga di kemudian hari, dan belum tentu akan terjadi dua kali.

Satu dua bulan, saya masih sabar menanggapi keluhannya bila kami bertemu di yahoo messenger. Tapi lama-lama, saya menyerah. Beberapa kali saran halus saya tidak pernah didengarkan. Saya terpaksa sedikit keras. Teman saya itu tersinggung dan menuduh saya sebagai orang yang tidak memiliki empati. Sampai sekarang, dia selalu berstatus busy bila saya sedang online.

Minggu lalu, saya sedang menunggu suami yang sedang meeting dengan beberapa rekannya di sebuah kedai kopi. Sambil menunggu, saya duduk sendirian membaca buku. Tidak disangka, beberapa menit kemudian, seorang teman sekolah saya di Bandung datang menghampiri. Dari dulu saya mengenal dia sebagai orang yang sangat kecanduan dengan kopi. Tidak ada hari tanpa kopi. Kebiasaan itu rupanya tidak berubah sampai sekarang. Jadi tidak mengherankan juga jika saya bertemu dia di kedai kopi ini.

Karena teman lama, kami banyak menghabiskan waktu mengobrol. Menanyakan kabar teman lama. Kapan sekolah kami akan mengadakan reuni dan membuat janji untuk datang bila ada, sampai akhirnya dia bercerita bahwa ia baru saja diputuskan pacar. Mantan pacarnya adalah seseorang yang sangat saya kenal dari kecil. Saya tersenyum. Jangan-jangan keluhan dia akan berbuntut panjang seperti pengalaman saya dengan teman yang menyesali nasibnya menjadi ibu rumah tangga.

Dugaan saya benar.

Teman saya itu lalu bercerita bahwa mantan pacarnya itu adalah tipe pria mata keranjang dengan label buaya. Kurang perhatian, tidak pernah membelikan dia sebuket bunga dan sangat kaku. Lalu selama empat puluh menit dia menambahkan porsi kejelekan mantan pacar dalam usaha membuat saya satu kubu dengannya, sebal kepada mantan pacarnya itu.

Saya yakin, bukan hanya dia yang mengalami kekecewaan dalam menjalani kisah cinta. Saya pernah. Sahabat saya pernah. Suami saya juga pernah. Dan saya yakin, jutaan perempuan di Jakarta juga pernah mengalami hal yang sama. Tapi, ya sudahlah. Life must go on. Pacar tidak akan kembali dan berubah menjadi The Beast bila kita menjelek-jelekannya.

Sebelum dia berpamitan pergi, dia mengatakan sesuatu. “Tapi biar deh putus sama dia. Setelah dipikir-pikir… he’s not my cup of tea.”

Saya tertawa sambil berkata. “You never ‘drink tea’, anyway.”

>>untuk artikel point of view majalah eve indonesia.

>>comments:
Neng,

Meminjam istilah cup of tea-mu…, kita ini emang layaknya cangkir yang kosong dan terus di-isi oelh segala macam perihal, termasuk curhat-curhat itu, dimana case-file tiap orang punya kapasitas tampung pada your-cup-of-tea itu.

Once your cup is full-for this particular curhaters, then your cup is full!- no more space anymore, you’ve done enough for the fellow/gal. He/she MUST moved on, or otherwise it would ruin your system by keep on over-pouring his/her misery. I experienced that once, and never more..

So.. when your cup is full.. then your cup is full ask him/her to stop pouring, as it spills over and making a real mess :D
———–
Hugs and warm regards for both of you – still in west africa, indeed.
Luigi | Homepage | 07.09.06 – 12:55 am | #

Duh … Ninit, koq lagi-lagi tulisannya nyambung banget yaaa? Beberapa hari ini Qq belajar banyak ttg ini dan menemukan bahwa emang jalan dariNya untuk membuat kita bertemu orang-orang yang ‘tidak tepat’ sebelum akhirnya ketemu the right person. Skrg lagi berusaha utk tidak melakukan curhat yg keterlaluan … hehehehe. Just let him go and move on!
qq | Homepage | 07.09.06 – 5:29 am | #

you are completely right and i share your view that the curhaters are doing themselves a disservice by complaining too long. but did you know that i used to be one of them? maybe i still am but at least i stop myself when i catch myself doing it.
the other note i want to share is that for me, the complainers are not too bad because you can enjoy them at many levels.
first, the level of genuine empathy and soft advice as you put it. when that is exhausted by endless hours of talking in circles, the curhat-receiver either ‘moves on’ or shifts to a different listening mode. this is easy if you haven’t anything better to do anyway. in my case that is true, because my main occcupation is figuring out what makes people tick. once you look at your curhater as an object of of study, she becomes quite interesting. i say ’she’ because i feel funny curhating with a guy.
maybe it is because i am conscious of my own weaknesses, that i study complainers to figure out whether i am one of them.
oops, at least i catch myself talking too long, which is the first sign of a bore, the category where complainers belong.
ww | 07.09.06 – 6:41 am | #

bener banget teh ninit! membaca ini membaut saya merasa tak sendiri :P dan menyadari abhwa ini adalah hanyabagian dariperjalanan hidup.
asty | Homepage | 07.09.06 – 11:00 am | #

hehe, human..never satisfied with their condition :p cukup didengarkan dan disenyumin aja, mbak..gak usah ikut dipikirin biar gak ikutan capek :p
-chie- | Homepage | 07.09.06 – 2:12 pm | #

Bagusssss Nittt…kadang emang kita suka ngerasa teu enak kitu nya kalo ada yang ngeluh wae teh, didenger wehh bari kita teh udah kesel, atau sebaliknya kita ngeluh terus ga liat kalo temen kita juga dah enek..hihii

thx udah ngingetin
Op | Homepage | 07.09.06 – 2:16 pm | #

setuju teh!!!u cant insist someone to drink ur “tea”

eh..teteh atau tante yah?
kalo beda 11 taun masih teteh apa tante?
nuhun nya..
chanchan | 07.10.06 – 12:16 am | #

hehehhehe… gue juga baru nyadar itu loh (dimana kita kalo’ curhat kebanyakan ngeluhnya ketimbang bersyukurnya). Padahal *ini yang gue belajar* justru dengan semakin banyak menceritakan keluhan, kita tidak akan pernah menambah hal-hal yang baik dalam kehidupan kita. yang ada malah bt dan nggak enjoying life.

hehehehe… idup cuman sekali, kapan lagi kita bisa enjoy kalo’ bukan di kehidupan yang sekarang?

hehehehe… di-busy’in??? mmm… probably she just need some time to be busy, thinking of your words always look at the bright side, cause life is like a coin, there are two sides in everything…

hehehehe… tante tante kaleeeee nih gueeehhh
ime’… | Homepage | 07.10.06 – 12:28 pm | #

Wahaha mentang2 tulisannya panjang, commentnya pada panjang2.

Yang jelas, this is really our-cup of tea-story. Keep up your good work Ninit…
sunardi | Homepage | 07.10.06 – 2:16 pm | #

Ninit, gue link blognya ya? Boleh?
Uwee | Homepage | 07.10.06 – 8:08 pm | #


Post to Twitter Tweet This Post

eve & cosmopolitan men magazine

i always envy you who is working in a magazine. such a glamorous job :-) especially if you have your own coloumn, like madame meltje. working in a magazine is my hidden dream ;-) any magazines want to hire me?


so… let me be happy if my article is published. this month is so special. you can read my article in eve magazine this month. on the cover is sharon stone. for me, the cover is really nice. gold is the theme. not so many colors. elegant!


adit’s article is also published in cosmopolitan men magazine! i’m so very proud of him. you have to buy this magazine, mes amies! i really love it… especially if you see the contributors part… so many cool guys there. hehehe… but really, even if you’re not men, it’s really good to buy cosmopolitan magazine. also, you can read luigi’s story there. six pages!

eve magazine – june and cosmopolitan men magazine… the must have magazines this month! :-)

Post to Twitter Tweet This Post

he says she says

HESAYS

Soal kuis:
Diketahui:
A dan B pacaran.
A dan B tinggal di beda kota.
Masalah milik A = sulit mempercayai apakah B masih cinta.

Pertanyaan: Apakah Masalah milik B?

Jawaban: Masalah si B = kesulitan membuktikan bahwa dia masih cinta pada A.

Pernahkah kita berada dalam situasi ini:
- Tiga kali dering telfon tidak diangkat, dia marah.
- Dua hari e-mail tidak dibalas, dia kirim email lagi dengan font MERAH KAPITAL DAN 1000 TANDA SERU!!
- Keinginan menyudahi percakapan telfon interlokal dipandang sebagai cerminan ’sudah tidak sayang’.
- Kita bertanya apakah di kota dia sedang musim buah Manggis dan dia balik bertanya apakah kita sudah selingkuh dengan orang lain.

Jika jawaban anda “ya”. Ini satu tips untuk anda: Tinggalkan dia. Segera. Kenapa?

Manusia adalah creature of habit. Nyaman dengan apa yang ada, selama semuanya tercukupi. Sedapat mungkin kita tidak akan pindah lingkungan jika memang benar-benar tidak perlu. Seseorang tidak mungkin meninggalkan lingkungannya jika dia tidak yakin bahwa ada peruntungan lebih baik di lingkungan lain. Salah satu konsekuensi dari hal ini adalah: LDR.

Kita kuliah beda kota karena di kota ini, pendidikan lebih baik. Belum ada orang pindah kota untuk kuliah di tempat yang lebih buruk.

Orang berani pindah kerja ke luar negeri karena (mungkin) penghasilan yang lebih baik. Tidak mungkin orang pindah ke negara lain karena “Gue pengen aja sengsara, jek.”

Dalam konteks pernikahan, mungkin pernah kita dengar seorang ayah menolak beasiswa S3 ke Jerman karena tidak ingin jauh dari istri dan anak. Ini dapat dimengerti. Keluarga adalah segalanya dan membina keluarga wajib hukumnya dalam agama. Lain dalam konteks pacaran di mana pacaran itu sendiri tidak ada hukumnya.

In short, dalam konteks pacaran, kita berani bersusah-payah merantau mencari hal yang lebih baik karena kita tahu hal itu worth all the sacrifices. Kita tahu bahwa in the long run, susah-payah ini adalah investasi untuk buah yang lebih baik. Dan yang paling penting adalah: “ada hal lain di dunia ini yang penting bagi gue selain pacar”.

Yang terjadi sering kali adalah kebalikannya. Kita yang sudah merantau jauh, harus selalu membuktikan diri kita bahwa si dia masih di atas segalanya. Si dia masih lebih penting dari semuanya. Bahwa setiap telfon harus diangkat. Setiap e-mail harus dibalas. Dan jika telfon sudah diangkat, standar meningkat menjadi harus diangkat dengan cepat. Sekarang e-mail harus dibalas dalam satu hari. Setiap hari kita menjadi objek penderita betapa si dia haus dicintai namun kurang haus mencintai dan mendukung misi dari rantau kita.

Pasangan yang menekan kita untuk terus membuktikan cinta kita padanya, bukanlah pasangan yang baik karena dia lupa dengan konsep dasar mencintai seseorang.

“You are the most important thing to me, but you’re not the only important thing to me.”

Kita pergi kuliah beda kota untuk membangun masa depan yang lebih baik. Jika sampai masa depan kita baik, kan gunanya untuk si dia juga.

Cinta yang paling murni adalah bersusah-payah pergi jauh dan berusaha lebih keras untuk menjamin masa depan yang lebih baik bagi pasangan kita. BUKAN bersusah-payah setiap saat membuktikan ke mereka bahwa kita masih tetap sayang.

Ini bukan masalah gender. Pria dan wanita sering mengalami hal serupa. Ini masalah apakah pasangan kita sadar bahwa mencintai seseorang bukan berarti harus selalu hadir dalam kehidupannya, namun tetap hadir di hatinya.

LDR is tough dan tidak semua orang cukup dewasa untuk melihat investasi jangka panjang dari sebab mengapa kita harus LDR. Tapi dari hal itu kita dapat pelajaran berharga. Itu adalah ujian dan pertanda, apakah dia memang jodoh yang baik bagi kita.

Atau,

jika semuanya kita balik,

apakah kita yang jodoh terbaik untuk dia.

Think about it.

SHESAYS

Orang sering mendenotasikan suatu tempat yang jauh dengan Timbuktu.

Dimanakah Timbuktu?
Berapa jam perjalanan yang dibutuhkan untuk pergi ke sana?
Ada apa di Timbuktu?

Timbuktu berasal dari kata Tombouctou, yang dalam bahasa Prancis berarti ’sebuah sumur yang dimiliki seorang wanita yang bernama Bouctou’. Bouctou sendiri berarti pusar. Pada beberapa abad yang lalu, Timbuktu merupakan pusat pertemuan para pedagang yang datang dari belahan utara, timur dan selatan Afrika dengan para pedagang di Afrika barat.

Timbuktu terletak di sebuah negara bernama Mali, Afrika Barat. Tidak jauh dari gurun Sahara. Pada masa dinasti Mandingo Askia (1493-1591), Timbuktu merupakan pusat ekspansi Islam, pusat ilmu pengetahuan dan spiritual. Sampai saat ini, tiga masjid besar dengan teknik pembuatan tradisional masih berdiri di sana.

Lalu, kenapa orang sering mendenotasikan Timbuktu dengan sebuah tempat yang jauh?
Karena saat itu, Timbuktu adalah tempat yang sulit untuk dicapai. Tersebar rumor bahwa Timbuktu adalah tempat yang makmur dan banyak terdapat emas, sehingga banyak kawanan bandit yang siap merampok siapapun yang akan memasuki atau meninggalkan Timbuktu.

Timbuktu is always associated with the most remote place in the world.
Simply because it’s not easy to get there.

And maybe it’s also not easy to have a long distance relationship. Some survive and some die along the way.

Banyak kekhawatiran ketika pasangan harus pergi ke tempat yang berbeda benua. Sehingga kita, kaum perempuan, harus menjalankan a long distance relationship.

He’s the cutest man alive.
Now, he is living a thousand miles away from you.
Is he going to love you the same way?
Is he going to be loyal to you?
DOES he even think about you?

Having problem to communicate with the one you love is one thing for sure. Waktu yang terpaut beberapa jam akan membuat jarak dimana dia tinggal begitu jauh seperti bayangan orang akan Timbuktu.

There will be time when you cry so hard, missing him but you can’t do anything. Masa-masa dimana menangis adalah agenda kita setiap hari lalu berubah membuat kita marah. Ketika sudah beberapa e-mail tidak terjawab dan saat beberapa hari tanpa telepon, bayangan awan hitam di atas kepala kita lalu muncul.

“It doesn’t take 5 hours to reply my e-mails though.”
“Calling me is not as hard as making a pyramid in Egypt.”
“He doesn’t have to build Taj Mahal to tell me that he loves me. All I need is his attention.”

Hundreds years ago when merchants tried to go to Timbuktu, they were afraid to be robbed by bandits.

This what happens to us. We’re thinking somebody may rob his heart.

Lalu apa yang terjadi saat dia membalas e-mail dan mengatakan bahwa banyak tugas kuliah yang harus dikerjakan?
Apa yang akan kamu katakan saat dia menelepon to say how much he loves you?

Mungkin hal yang terbaik dilakukan ketika menjalani a long distance relationship adalah, stop worrying. Pikiran negatif yang ada dikepala kita lah yang selama ini telah merampok kepercayaan kita terhadap pasangan.

Hubungan jarak jauh memang tidak mudah untuk dilakukan. Tapi harus ada keyakinan yang tumbuh dalam diri kita sendiri bahwa pasangan kita pergi sejauh itu untuk membangun masa depan bersama kita, kelak. Hey, he loves you too! Remember?

In a long distance relationship, akan ada dua hal yang mungkin terjadi.
Saat terlalu banyak pikiran negatif yang merampok, maka hubungan jarak jauh akan crash di tengah jalan. There will be more yelling sessions. Pasangan kita akhirnya bosan dengan pertengkaran-pertengkaran yang terjadi. He starts looking for someone new.
And in the end, someone definitely robs his heart.

Tapi…

Ketika kita mampu menjalankan a long distance relationship, I’m sure he will love you further than Timbuktu.
Secara geografis, dia memang jauh tapi hatinya dekat dengan kita. With your support and understanding, you don’t have to worry someone may rob his heart…
because,
he already puts it in the box and you are the only one who have the key.

So, do you have what it takes?

Post to Twitter Tweet This Post

go the distance

artikel untuk SPICE! Magazine Maret 2006

SHE SAYS

Orang sering mendenotasikan suatu tempat yang jauh dengan Timbuktu.

Dimanakah Timbuktu?
Berapa jam perjalanan yang dibutuhkan untuk pergi ke sana?
Ada apa di Timbuktu?

Timbuktu berasal dari kata Tombouctou, yang dalam bahasa Prancis berarti ’sebuah sumur yang dimiliki seorang wanita yang bernama Bouctou’. Bouctou sendiri berarti pusar. Pada beberapa abad yang lalu, Timbuktu merupakan pusat pertemuan para pedagang yang datang dari belahan utara, timur dan selatan Afrika dengan para pedagang di Afrika barat.

Timbuktu terletak di sebuah negara bernama Mali, Afrika Barat. Tidak jauh dari gurun Sahara. Pada masa dinasti Mandingo Askia (1493-1591), Timbuktu merupakan pusat ekspansi Islam, pusat ilmu pengetahuan dan spiritual. Sampai saat ini, tiga masjid besar dengan teknik pembuatan tradisional masih berdiri di sana.

Lalu, kenapa orang sering mendenotasikan Timbuktu dengan sebuah tempat yang jauh?
Karena saat itu, Timbuktu adalah tempat yang sulit untuk dicapai. Tersebar rumor bahwa Timbuktu adalah tempat yang makmur dan banyak terdapat emas, sehingga banyak kawanan bandit yang siap merampok siapapun yang akan memasuki atau meninggalkan Timbuktu.

Timbuktu is always associated with the most remote place in the world.
Simply because it’s not easy to get there.

And maybe it’s also not easy to have a long distance relationship. Some survive and some die along the way.

Banyak kekhawatiran ketika pasangan harus pergi ke tempat yang berbeda benua. Sehingga kita, kaum perempuan, harus menjalankan a long distance relationship.

He’s the cutest man alive.
Now, he is living a thousand miles away from you.
Is he going to love you the same way?
Is he going to be loyal to you?
DOES he even think about you?

Having problem to communicate with the one you love is one thing for sure. Waktu yang terpaut beberapa jam akan membuat jarak dimana dia tinggal begitu jauh seperti bayangan orang akan Timbuktu.

There will be time when you cry so hard, missing him but you can’t do anything. Masa-masa dimana menangis adalah agenda kita setiap hari lalu berubah membuat kita marah. Ketika sudah beberapa e-mail tidak terjawab dan saat beberapa hari tanpa telepon, bayangan awan hitam di atas kepala kita lalu muncul.

“It doesn’t take 5 hours to reply my e-mails though.”
“Calling me is not as hard as making a pyramid in Egypt.”
“He doesn’t have to build Taj Mahal to tell me that he loves me. All I need is his attention.”

Hundreds years ago when merchants tried to go to Timbuktu, they were afraid to be robbed by bandits.

This what happens to us. We’re thinking somebody may rob his heart.

Lalu apa yang terjadi saat dia membalas e-mail dan mengatakan bahwa banyak tugas kuliah yang harus dikerjakan?
Apa yang akan kamu katakan saat dia menelepon to say how much he loves you?

Mungkin hal yang terbaik dilakukan ketika menjalani a long distance relationship adalah, stop worrying. Pikiran negatif yang ada dikepala kita lah yang selama ini telah merampok kepercayaan kita terhadap pasangan.

Hubungan jarak jauh memang tidak mudah untuk dilakukan. Tapi harus ada keyakinan yang tumbuh dalam diri kita sendiri bahwa pasangan kita pergi sejauh itu untuk membangun masa depan bersama kita, kelak. Hey, he loves you too! Remember?

In a long distance relationship, akan ada dua hal yang mungkin terjadi.
Saat terlalu banyak pikiran negatif yang merampok, maka hubungan jarak jauh akan crash di tengah jalan. There will be more yelling sessions. Pasangan kita akhirnya bosan dengan pertengkaran-pertengkaran yang terjadi. He starts looking for someone new.
And in the end, someone definitely robs his heart.

Tapi…

Ketika kita mampu menjalankan a long distance relationship, I’m sure he will love you further than Timbuktu.
Secara geografis, dia memang jauh tapi hatinya dekat dengan kita. With your support and understanding, you don’t have to worry someone may rob his heart…
because,
he already puts it in the box and you are the only one who have the key.

So, do you have what it takes?

Post to Twitter Tweet This Post

dari diary sampai film

artikel untuk Bandung CITImag

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dunia terus berputar dan waktu terus berjalan. Mereka yang survive dan mereka yang dapat eksis dalam dunia ini adalah mereka yang juga berputar dan berjalan seiring dengan waktu.

Dalam sebuah antrian panjang di depan loket sebuah sinema di Bandung Super Mall, saya teringat perjumpaan dengan seorang teman kurang lebih setahun yang lalu.

Setelah membeli sebuah clutch idaman dan sepasang pump shoes hitam, secara tidak sengaja saya hadir di sebuah acara launching buku seorang penulis baru. Berawal dari rasa penasaran melihat sebuah cafe yang ramai dengan wartawan dan pengunjung yang ingin berfoto dan meminta tanda tangan sang penulis. Saya akhirnya masuk dan menyadari bahwa penulis itu adalah teman senasib sepenanggungan saat kuliah dulu! What a surprise.

Langsung saja saya membeli bukunya yang tinggal tersisa dua eksemplar. Buku yang ditulis teman saya yang cantik itu adalah sebuah novel komedi. Sambil bersabar menunggu antrian tanda tangan selesai, saya membaca beberapa halaman dan komentar salah seorang editor majalah remaja di bagian belakang novel. Baru membaca beberapa halaman saja sudah bisa membuat saya tertawa. Senang dan bangga karena teman satu kampus itu masih eksis di dunia menulis.

Seingat saya, dia pernah bercerita bahwa dia adalah salah satu dari sekian siswa yang rajin mengirim artikel untuk mading sekolah. Setelah lulus kuliah, meski jarang bertemu, saya masih ‘bertemu’ dengannya melalui cerita-cerita pendek yang ia tulis di beberapa majalah. Sampai akhirnya antrian book signing tiba pada saya. You know what? Saya senang ternyata teman saya itu masih ingat pada saya dan ‘menolak’ untuk menandatangani novelnya saat itu sebagai ‘pemaksaan’ secara halus untuk menerima ajakan minum teh setelah acara selesai.
Ia memesan secangkir mint tea dan sepotong brownies untuk saya. Obrolan langsung bergulir tanpa hambatan.

“Gila lo ya… masih aja eksis di dunia menulis.” Komentar saya ketika percakapan terbuka.
“Nyindir lu?” Teman saya menjawab sambil tersenyum lebar.

Jawaban itu membuat saya berpikir. Loh bukankah seharusnya kita akan merasa senang bila seseorang menerima komentar seperti yang saya katakan? Dengan kata lain, itu kan sebuah pujian karena terus terang saya kagum dengan kesetiaan dia dibidang menulis. Apalagi kalau melihat proses dia sebagai penulis. Mungkin awalnya bukan dari mading sekolah melainkan dari menulis sebuah diary. Lalu coba-coba mengirim artikel ke beberapa majalah dan sekarang merilis sebuah novel lagi.
Teman saya lalu tersenyum lega setelah mendengar penjelasan saya. Bukannya apa-apa karena disatu sisi ia merasa tersindir dengan kata eksis. Sampai sekarang ia juga masih eksis menjadi mahasiswa karena masih belum menyelesaikan thesis untuk meraih gelar master. Juga masih eksis menjadi the one who still trying to find a perfect boyfriend. Kami tertawa saat ia menjelaskan bahwa ia baru saja keluar dari rumah sakit jiwa karena putus dengan pasangannya.

Lalu sedikit mengenang masa lalu saat kuliah dan bersambung dengan menanyakan kabar teman yang lain. Salah satu dari teman kami ternyata masih eksis menjadi vokalis salah satu band yang masih sering manggung dari cafe ke cafe. Eksis tapi stagnan karena kegiatan yang tidak berubah dari lima tahun yang lalu. Bukan sesuatu yang salah, meski saya yakin she will much better kalau saja berani memasuki dapur rekaman. Kenapa? karena akan lebih banyak orang yang dapat menikmati suara indahnya.

Setelah menghabiskan secangkir mint tea, saya berpamitan pulang dan bertukar alamat e-mail dengan teman saya yang penulis itu. Setahun berlalu. Beberapa e-mail saling kami kirimkan. Sampai dua minggu kemarin, sebuah e-mail muncul di inbox saya. Dia mengabarkan bahwa novel yang dia tulis (setelah sukses menjadi best seller) dapat dinikmati secara visual dalam sebuah film.

Dari mading sekolah, majalah, novel sampai kini menjadi seorang script writer. Intinya adalah untuk terus meng-aktualisasi diri kita karena banyak orang yang tidak menyadari bahwa dunia terus berputar dan waktu terus berjalan. Mereka yang survive dan mereka yang eksis sekaligus berevolusi dalam dunia ini adalah mereka yang juga berputar dan berjalan seiring dengan waktu. Benar-benar menyenangkan menjadi orang yang eksis dan terlebih lagi dapat berevolusi dibidangnya. Karena meski eksis, kalau hanya stagnan dan tidak berevolusi akan membuat hidup kita menjadi datar sekaligus membosankan.

Setahun yang lalu, saya mengantri untuk mendapatkan tanda tangan. Kini, saya mengantri untuk menonton film yang diangkat dari novelnya.

Post to Twitter Tweet This Post

jodoh

artikel untuk mading POTLUCK coffeebar & library

Tuhan menciptakan makhluk secara berpasangan.
It’s absolutely true. Coba deh kita berpikir sebentar. Betapa garingnya dunia kalau tidak demikian. Ada siang ada malam. Mungkin akan membosankan kalau setiap hari adalah siang dan bagaimana kalau setiap hari kita mengalami musim dingin tanpa berganti dengan musim panas.
Ada yin, ada yang. Semua diatur berjalan dengan seimbang. Itu juga sebabnya kenapa laki-laki diciptakan untuk berpasangan dengan perempuan. Seperti Hawa yang diciptakan untuk menemani Adam. Dengan kata lain, semua ada jodohnya.
By the way, lepas dari jodoh, pernah nggak sekali-sekali memperhatikan seseorang yang sedang membaca buku?
Rata-rata kalau saya lihat, para bookish itu senang membaca dengan ‘ditemani’ elemen penting. Lagu yang cenderung tidak berisik, secangkir kopi dan mungkin juga rokok sebagai sesuatu yang ‘wajib’ ada saat membaca.

Lantas, apa hubungannya jodoh dengan buku?

Kalau boleh menjodohkan, maka saya akan menjodohkan buku dengan suasana. Sebagai orang yang addicted to book, selain secangkir kopi dan lagu yang pas, saya membutuhkan tempat yang enak untuk membaca atau sebisa mungkin menciptakan suasana yang nyaman untuk menikmati lembaran-lembaran buku.
Suasana memang sebuah faktor penting yang membuat ritual membaca buku itu jadi lebih khusyu. Meski sudah ada ‘peralatan’ pendukung seperti segelas ice coffee latte atau sebatang rokok, mood membaca buku bisa-bisa hilang kalau suasananya tidak membangun.

Karena itu bila berkunjung ke Potluck saya senang berlama-lama disini. Begitu memasuki jalan Teuku Umar yang rindang dengan pohon-pohon di tepi jalan, suasana itu sudah terbangun dengan sendirinya. Apalagi ketika melangkahkan kaki saat memasuki Potluck. Elemen air langsung menyejukan hati. Lagu yang pas menyambut saya saat memesan kopi sambil memilih kue-kue lezat yang cocok untuk menemani membaca buku yang bisa kita pinjam di library-nya Potluck.

Pilih tempat duduk yang nyaman dan langsung memanjakan kegemaran kita membaca buku sambil sesekali membiarkan tenggorokan dialiri Moccacino. Beberapa jam akan berlalu tanpa terasa. Untuk menyegarkan pandangan mata, ada banyak masterpiece seniman-seniman muda yang dipajang di gallery Potluck. I don’t think I have to go anywhere.

Selain untuk membaca, Potluck juga telah berhasil menyelamatkan saya saat rendezvous dengan beberapa teman. Kami bisa berkumpul di sebuah ruang yang lebih privat tanpa mengorbankan suasana nyaman saat saya menunggu kedatangan mereka ketika membaca buku.

Well, kembali ke topik pasangan. Kalau saat ini status anda masih single, silahkan berharap semoga ketika anda sedang membaca buku di Potluck, ada seseorang yang duduk disamping mengulurkan tangan untuk berkenalan. Dan siapa tahu, dia adalah jodoh yang selama ini sudah ditunggu. Bukankah semua diciptakan secara berpasangan? Have a lucky day!

Post to Twitter Tweet This Post

buying experience

artikel untuk inspirasi belia harian umum pikiran rakyat

BUYING EXPERIENCE

“Jangan lupa beliin gue oleh-oleh yaaa”.

Mungkin sebagian dari kita pernah mengucapkan hal itu kepada keluarga, teman, sahabat atau kenalan lain yang hendak melakukan perjalanan ke suatu negara. Entah berlibur, sekolah atau malah tugas kerja. Waktu kecil, saya juga pernah mengucapkan hal itu saat ayah saya sedang meraih gelar master di negeri Kanguru. Serentetan barang yang diidamkan seperti sweater wool yang hangat dan boneka koala khas Australia tentu saja saya tulis dalam surat.

Mengingat hal itu, saya jadi malu sendiri. Gimana nggak. Ayah ke sana bukan untuk having fun. Daripada menanyakan bagaimana kabar studi, saya malah berpikir meminta oleh-oleh tshirt merah buatan Adelaide. Aduuuh, ‘nggak sopan’ ya?

Sekarang baru terasa. Pergi ke suatu negara lebih menyenangkan membeli sesuatu dalam bentuk lain daripada barang-barang yang memberatkan koper. Lagipula, bayangkan kalau kamu yang pergi sedangkan kamu memiliki teman yang banyak dan keluarga besar. Rasanya “tidak adil” bila hanya sebagian saja yang mendapat oleh-oleh.

Padahal ada loh sesuatu yang bisa kamu beli yang bisa kamu bagikan kepada siapa saja. Pernah nggak terpikir untuk buying experience ketika kamu pergi ke suatu tempat? Praktis, berkesan dan tentu saja tidak akan membuat koper kamu over weight meski kamu membelinya sebanyak mungkin.

Apa sih maksudnya buying experience itu? Kalau kita artikan buying experience itu adalah “membeli pengalaman”. Jadi bukan membeli barang-barang melainkan pergi ke suatu tempat untuk menghasilkan nilai tambah bagi diri kita sendiri. Bila pergi ke Paris, misalnya, jangan hanya sekedar nampang di area menara Eiffel dan museum Louvre untuk berfoto. Tapi coba deh, naik dan rasakan bagaimana berada di ketinggian menara Eiffel. Cari informasi mengenai latar belakang menara Eiffel ini. Sampai di rumah, kamu bisa membuat artikel dan mengirimkannya ke belia ‘kan? Dan kalau kamu terkesan saat membaca novel Da Vinci Code, jangan lewatkan untuk mengikuti tour-nya yang sekarang marak di Paris. Bayangkan serunya setiap adegan yang terjadi dalam Louvre. Buying experience! Jauh lebih seru daripada berbelanja di butik-butik mahal Paris.

Seorang teman ada yang sengaja pergi ke Kota Ouarzazate – saat ia berlibur ke Maroko karena ingin melihat papan penunjuk jalan menuju Kota Tombouctou (Timbuktu). Selama ini ia penasaran banget dengan Kota Timbuktu. Is it real atau hanya ada dalam komik Donal Bebek saja? Ternyata memang benar-benar ada loh. Atau memang kalau ingin pergi jauh, kenapa nggak pergi ke Afrika saja sekalian? Penasaran dengan kota Dakar yang terkenal dengan rally Paris-Dakar? Ternyata Dakar ada di sebuah negara yang bernama Senegal dan titik finish rally Paris-Dakar itu di sebuah tempat di sekeliling danau yang airnya berwarna merah muda, Le Lacrose. Ngga percaya? Pergi deh ke sana.

Tulisan di atas hanya sebagai ilustrasi saja. Lagi pula, untuk membeli pengalaman tidak usah pergi jauh-jauh ke luar negeri kok. Cermati aja apa yang ada di sekeliling kita. Pergi ke suatu tempat yang belum pernah kamu kunjungi sebelumnya and on top of everything else, go there alone! Seru juga kan?

So, gimana? Masih berpikir untuk membeli souvenir untuk teman dan keluarga karena tuntutan jangan-lupa-beliin-gue-oleh-oleh-ya? Menurut saya sih mending buying experience aja. Mesti banyak pengalaman yang kamu beli, nggak perlu bayar EUR 20 untuk setiap 0.5 kg bila koper kamu over weight. Souvenir bisa habis dimakan waktu, sementara pengalaman adalah guru yang terbaik yang akan tetap hidup di hati kamu terlebih bila bisa membaginya dengan yang lain.

Ninit adalah penulis novel “Kok Putusin Gue”, yang pernah tinggal di Afrika Barat

Post to Twitter Tweet This Post