Browsing Category

thoughts

Titik Balik Musisi Hijrah

By June 24, 2015 thoughts

Hari Minggu lalu, saya menyalakan TV dan browsing sampai akhirnya berhenti di Metro TV. Acara Selayang Pandang, Fifi Aleyda Yahya. Temanya tentang musisi hijrah. Menarik banget! Pas saya lihat, sudah bagian pertengahan saat nara sumber Reza eks Noah sharing tentang hijrahnya. Berhenti jadi musisi dan lebih fokus untuk urusan agama.

Menyimak perjalanan spiritual seseorang itu buat saya selalu menarik. Apa yang menjadi titik baliknya.

Di Selayang Pandang, setelah Reza yang dulunya drummer band Noah, ada Muhammad Beery Al-Fatah, atau yang lebih dikenal dengan Beery Manoch/Berry Manoch atau Beery Saint Loco. Beery ini salah satu vokalisnya (rapper aka MC). Muallaf sejak 23 Februari 2015. Menarik banget menyimak titik baliknya. Sampai saya googling dan baru tahu kalau 18 Juni lalu, Beery pernah berbagi juga di acara Titik Balik Trans 7. Beery hadir di acara dengan tampilan “orang biasa” menggunakan kemeja.

Interesting menyimak perjalanan Beery karena somehow saya lihat, jujur, tulus, dan sederhana. Yang dicari cuma kebahagiaan dan kedamaian.

Segitu berartinya apa yang saya lihat, bagaimana Beery di acara tersebut bilang kalau dirinya merasa rendah ketika mendengar suara adzan dan menangis ketika berdzikir. Beery bilang, “Sebetulnya hal-hal yang basic sih tapi bener kok saya ngerasain sendiri.” Somehow, hal-hal yang basic itu terkadang terlupakan oleh saya yang sejak lahir muslim.

Anyway…
Mungkin bagi saya penting sampai saya post di blog sendiri tentang Beery Manoch ini. I know mungkin there’s no chance untuk dia baca ini but anyway… Terima kasih ya Mas Beery, sudah mengingatkan saya. Allah Maha Baik. Nikmat mana yang kita dustakan?

Bahagia dan damai. Itu saja yang kita cari.

You Might Also Like

Manners Maketh Man

By June 8, 2015 thoughts
manners maketh man

*image dari imdb.

Jum’at minggu lalu, saya pergi ke Ikea. Beli printilan buat rumah dan meja makan. Meja makan idaman tepatnya (meja makan di rumah dibeli 5 tahun yang lalu dan warnanya cokelat). Kenapa meja makan idaman? Karena warnanya putih. Maklum kan, cita-cita dan misi hidup saya kalau di apartemen ini furniturnya serba putih.

Senang yaa ke Ikea di hari biasa. So serene! Sekalian pengumuman sama teman-teman di group whatsapp dan menerima titipan Ikea. Jadi bawaannya cukup banyak. Sampai di tempat parkir apartemen, meja makan masih saya tinggal di mobil. Biar saya bawa malam aja kalau udah ngga terlalu ramai yang pakai lift. Gitu rencananya.

Malam sekitar pukul 20.00 saya mengajak anak bungsu saya untuk menemani ke bawah mengambil meja makan. Sambil menunggu pintu lift terbuka, ada sepasang suami istri yang ternyata repot membawa belanjaan dari Ikea juga. Suami membawa beberapa box hitam Ikea, tutupnya ditumpuk di atas. Kami satu lift. Ternyata kartu akses mereka tidak jalan di lift barang. Mereka berkali-kali mencoba sampai akhirnya sang istri memutuskan ke luar. Ketika akan ke luar, tutup box yang dipegang suami berjatuhan ke lantai lift. Saya otomatis membantu mengambilkannya. Orang itu berlalu begitu saja, ke luar lift, tanpa ada kata.

Kemudian hening.

Kemudian… saya bengong.

Seriously?
Harus diakui saya kesal. Pastinya jadi tidak ikhlas ya? Karena kalau ikhlas saya tidak akan tweet kejadian itu dan menulisnya di blog ini.

Saya kecewa karena secara natural, saya akan mengucapkan terima kasih kalau saya ada di posisi orang itu. Sementara dia tidak.

Saya langsung tweet.

Apakah hal-hal simple seperti mengucapkan terima kasih itu terlupakan?
Kadang saya berpikir, “Hah, gitu-gitu aja masa harus diajarin sih?”
Apparently, yes.
The lost art of gratitude.

Ocha malah pernah menerima respon seperti ini:
@ninityunita dulu aku pnh ngalamin gitu mbak,nyeplos aja aku blg kok gk ngom makasih eh yg ditolong jwb “emg saya minta ditolong?” duh Gusti

Ya udah next time ga perlu ditolong kalau ada yang kayak gitu.
Pertama, kita ngga tahu reaksi yang ditolong. Kalau dia bilang terima kasih, tentu lain ceritanya.
Kedua, saya ngga bisa diam saja. Secara alami, ya menolongnya.

Mungkin ga sih kalau ada hal seperti itu di depan mata, kita diam saja?
Mungkin ga sih kalau ada teman yang bahagia kita diam saja tanpa mengucapkan selamat, turut berbahagia atas kebahagiaannya?
Tidak ada reaksi.
Dingin.

Tapi satu hal, saya yakin saya melakukan hal yang benar.
Saya menunjukkan di depan anak saya bahwa bila ada hal seperti itu kita harus peduli. Tidak diam saja. Kalau kata Manic Street Preachers, If you tolerate this, then your children will be next.

Manners maketh man.
Your mannerisms define you who you are.

And always remember, good manners cost nothing.

You Might Also Like