Browsing Category

writing

Strangers

By March 25, 2013 writing

So…
I think I’m ready to write again.
It’s about Harun and Nisa.
Both have a different reason to run.

It starts from here.

harun:
we used to be strangers.

nisa:
but i don’t want us to be strangers.

again.

You Might Also Like

Dari Draft Lama

By May 25, 2011 writing

Buka folder… baca draft lama. Salah satu petikannya, di bab 4.

“Hai!”
Skala 8 dari 10. Dia duduk di sebelah saya! Oh. My. God. Kenapa juga ya jantung saya mendadak berdetak lebih cepat. Rasanya kayak demam panggung.
Saya hanya tersenyum, dagu sedikit terangkat. Masih ada cappuccino yang belum mengalir masuk.
“Ngapain sendirian di sini?” Eh! Dia nanya lhooo… ah! Pingsan deh saya.
“Nunggu temen yang mau konsultasi sama dokter kulit trus gue ngga tahan di dalem. ACnya bener-bener dingin.”
Dia tersenyum. “Iya emang bener! Ampun deh!” Dia lalu meraih sesuatu dari saku celana kanan. Rokok. Dengan kemasan putih dan hijau. Rasa menthol. “Do you mind?”
“Ngga apa-apa kok. Gue dari dulu emang perokok pasif.” Dan ngga apa-apa banget duduk berdua sama elo. Hahaha!
“Saya biasanya tiap jam segini suka ngerokok di sini.” Dia mengambil sebatang rokok. Api muncul dari zippo yang diambilnya dari saku celana. Tidak lama asap mengepul ke udara.
“Oh, gue jadi ngambil tempat kekuasaan elo dong ya?”
“Ahaha…, ngga apa-apa. Seneng malah ada yang nemenin. By the way, Eron.” Dia mengulurkan tangan.
“Yazmin.”
Eron tersenyum. “Udah lama nunggu?”
“Ngga juga sih. Tapi gue yakin bakal lama nunggu. Tau sendiri lah, dokter kulit itu banyak banget pasiennya.”
“Ohh… gitu.”
“Keep it as a secret ya. Tapi gue itu sebel banget sama dokter.”
“Wow… serius?”
“Banget!”
“Haha! I can see that.”
“Nah ini salah satu contohnya. Dokter itu bikin gue sengsara. Nungguin temen yang mau konsultasi. Lama. Coba, gimana gue ngga benci sama dokter?”
Eron tersenyum sambil mengepulkan asap rokok. “Ok… ok… trus?”
“Dari kecil gue ngga suka dokter. Tiap kali dateng ke tempat praktik dokter, kayaknya udah keluar aura horror aja. Tapi yang nyebelin, gue beberapa kali patah hati gara-gara dokter.”
“Ya, gitu lah. Kata orang, kalo kamu benci sama sesuatu harus hati-hati karena bisa jadi, sesuatu yang dibenci bisa jadi yang paling disayang.”
“Gitu juga sebaliknya. Makanya sejak putus, gue tiap hari makan apel biar jauh-jauh dari dokter.”
“Serius?” Eron tertawa. Deretan giginya yang putih bersih terlihat. He’s so damn gorgeous! I’m not kidding!
“Eh, sori banget ya. TMI. Too much information. Baru juga ketemu, gue udah ngeburai isi perut sendiri kayak gini.” Saya ngga sadar.
“Ah! Santai aja kok.” Lagi-lagi dia tersenyum.

Well, baru beberapa menit sama dia. Kerasanya enak banget. Ngga canggung sama sekali. Kok kayaknya obrolan saya dengan dia lancar banget. Kayak temen yang udah kenal lama. Makanya, ngga sadar saya malah cerita tentang kebencian saya sama dokter.
Trus waktu dia minta nomer handphone, saya ngga mikir dua kali buat ngasih.
Handphone saya berdering.
“Itu nomer saya ya.”
“Oke. Saved.”
Lalu saya memberanikan diri bertanya sesuatu. “Lagi nungguin pacar di skin center ini?”

Please bilang ngga nunggu pacar. Saya benar-benar ga keberatan kalau dia yang mau ketemu dokter atau apa lah. Yang penting… jangan bilang dia nemenin seseorang.

“I actually work here.” Dia tersenyum. Lalu dengan cepat melirik ke jam berwarna silver di pergelangan tangan kanannya. “Eh! Saya masuk dulu ya. Hope to see you again! Soon.”
“Okay! Sampe ketemu lagi.”

Dia melangkah masuk ke dalam gedung skin center dan seperti disadarkan oleh sambaran petir dalam pikiran, detik itu saya baru sadar.

Eh, apa yang dia bilang tadi? Dia bilang…, dia kerja di sini?

Oh. My. God.

Jadi maksudnya, dia itu dokter?

You Might Also Like

Sepatu Andalan Titi

By May 22, 2009 writing

Bagi Titi, cowok itu ibarat sepatu.

Setiap perempuan membutuhkan sepatu. Lebih tepat lagi, sebuah sepatu andalan yang bisa dipakai kapan saja saat dibutuhkan. Seperti sepatu yang sudah ada tiga tahun ada di bagasi mobil Titi. Warnanya hitam. Haknya hanya tiga senti. Harganya juga tidak mahal. Sepatu itu tidak berlabelkan Manolo Blahnik, sepatu yang diciptakan oleh seorang Spanyol yang sangat digila-gilai oleh Carrie Bradshaw dan jutaan wanita lain di belahan dunia ini.

Sepatu itu, Titi beli saat berlibur ke Bandung bersama teman-teman kuliah. Iseng-iseng dia mencobanya ketika berbelanja baju di sebuah factory outlet di jalan Riau. Eh! Ternyata, sepatu itu nyaman sekali. Bagi Titi yang memang penggila sepatu, harga sepatu yang dia coba itu juga tidak mahal. Tanpa pikir panjang, Titi membelinya. Dan sampai sekarang, sepatu itu menjadi sepatu yang sangat diandalkan Titi.

Dulu, saat sepatu Jimmy Choo oleh-oleh dari Tante Sarah secara tidak sengaja tersangkut besi penutup gorong jalan sampai haknya patah, sepatu hitam murah itu yang bisa ‘menyelamatkan dia agar tidak tampil ‘pincang’ di acara ulang tahun Marina. Sejak peristiwa itu lah, Titi sangat sayang pada sepatu murah berwarna hitam. Maka, ia menyimpannya di bagasi. Sebagai cadangan bila sepatu yang ia pakai bermasalah.

“You are my lucky shoes.” Gumam Titi setiap kali dia melakukan ritual membersihkan sepatu hitam itu.

Titi si penggila sepatu mungkin sadar kalau Zaki juga sangat tergila-gila pada Titi. Sudah dua tahun terakhir ini, Zaki ‘digantung’ tanpa kepastian.

Satu tahun yang lalu.
“Saya sayang banget sama kamu, Ti…” Ujar Zaki dengan tulus.
“Aku juga sayang sama kamu. Tapi…”
“Tapi?”
“Tapi, aku pengen kita tetep seperti ini. Ngga usah jadian.”
“Hm?”
“Aku ngga siap terikat.”
“…”
“Kayak gini aja. Kita bisa jalan kapan aja. Kamu bisa nelpon aku kapan aja.”
Zaki menghembuskan napas panjang. Sedikit kecewa dengan pernyataan Titi. “Tapi…”
“Percaya deh sama aku, kita mendingan kayak gini. No commitment. Aku belum siap terikat dan aku ngga bisa kalo kamu pengen lebih dari itu.” Potong Titi dengan santai.

Zaki memang tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti apa kata Titi. Ia sudah terlanjur sayang dengan perempuan penggila sepatu itu. Titi memang menarik. Berwajah oval, kulit yang sangat terawat dan potongan rambut ala Cleopatra membuat Zaki seperti Marcus Anthonius alias Mark Antony yang sangat tergila-gila pada perempuan jelita dari Egypt.

Sementara bagi Titi, Zaki hanya laki-laki yang ia simpan di ‘bangku cadangan’ Zaki bisa dikatakan bernasib seperti sepatu hitam andalannya. Disimpan di bagasi dan hanya dipakai pada saat-saat tertentu.

“Kamu tuh jahat banget deh Ti sama Zaki.” Komentar Marina saat mereka berdua sedang duduk santai di kantin jurusan.
“Jahat?” Titi langsung meletakan botol minuman dingin yang sedang ia nikmati.
“Iya lah, cowok baek kayak dia kamu jadiin cadangan gitu.”
Titi hanya tertawa.
“Lho, kok malah ketawa sih Ti? Aku serius nih.”
“Marina…, kamu inget kan sepatu hitam yang aku beli di Bandung?”
“Iya, sepatu yang selalu ada di bagasi mobil kamu.”

Titi tersenyum.

“Hubungannya sama Zaki?”
“Sepatu itu, meski murah dan ngga berlabel Manolo Blahnik atau Kate Spade, adalah sepatu ternyaman buat aku. Nah, Zaki itu ngga jauh beda deh.”
“Ha?”
“Aku nyaman sama dia. Dia baik dan pengertian banget. Tapi ngga salah kan kalo aku suka juga sama yang lain?”

Marina mengangkat bahu.

“Perumpamaannya sih kayak aku suka sama sepatu-sepatu Jimmy Choo yang bagus-bagus itu. Ngga salah kan? Toch aku tetep nyimpen sepatu factory outlet Bandung itu.”
Marina menggelengkan kepala. “Titi…, Titi… Cowok kok disamain kayak sepatu sih?”
“Ferry lagi ngedeketin aku, Rin! Masa sih cowok keren di kampus kita ini aku lewatin aja? Sayang kan?” Mata Titi mengerling jahil.
“Aduuuh Titi! Masa sih kamu ngga tau gimana reputasi Ferry ke cewek-cewek?”
“Tapi kan dia keren, Rin. Udah lama banget aku suka sama dia tapi baru kali ini dia ngajak aku nge-date.”
“Ti…, Ferry itu suka mainin cewek! Udah deh. Stay away from him otherwise you will be his next victim!”
“Ferry tuh udah berubah, Rin. Dia sendiri yang ngaku sama aku.”
“Ah! Aku ngga percaya.” Tutur Marina dengan wajah yang sedikit judes. “Itu sih akal-akalan dia aja biar bisa jadian sama kamu.”
“Bener kok Rin. Dia beda banget sama yang orang-orang bilang.”
“Trus Zaki? Apa kabarnya tuh?”

Titi tidak menjawab pertanyaan Marina.

“Dua minggu yang lalu, aku masih liat dia nganterin kamu pulang abis kuliah.”
“…”
“Ti? Kok diem aja?”
“Iya, aku memang nelpon dia. Minta tolong jemput. Kan mobilku lagi masuk bengkel Rin. Mana hujan lagi.”
“Kenapa ngga telepon Ferry?”
“Mmmm…”
“Ferry lagi jalan sama cewek lain ya?” Marina tersenyum lebar.
“Ferry lagi latihan sepak bola. Jadi ngga bisa jemput aku.”
“Jadiii…, kalo Ferry ngga available, Zaki selalu jadi tempat pelarian nih?”

Titi menjawab pertanyaan Marina dengan senyum kecut.

Kasus Ferry sebenarnya bukan yang pertama. Dulu, Titi sangat tergila-gila dengan Reno, anak Teknik Industri. Jalan beberapa kali. Begitu menemukan hal yang membuatnya tidak sreg, Titi kembali menelepon Zaki. Belum lagi saat Titi didekati Bambang yang ternyata super posesif, Zaki adalah tempat Titi ‘kembali’.

Padahal untuk urusan tampang dan penampilan, Zaki termasuk oke alias bisa menyamai gaya dandanan Titi. Urusan akademis pun, IPK Zaki tidak pernah lebih kecil dari 2.5.
Tapi Titi seperti tidak melihat semua kebaikan Zaki. Semua orang selalu lebih dari Zaki. Tapi bila Titi dikecewakan oleh mereka, Titi selalu berpaling pada Zaki dan Zaki, memiliki tingkat kesabaran yang luar biasa, selalu menerima Titi dengan senang hati.

“Udah ah Rin, jangan ngomongin Zaki. Mendingan temenin aku yuk ke mall. Nine West lagi diskon lho… Aku pengen deh liat-liat koleksi sepatunya. Lumayan kan beli sepatu bagus trus dapet diskon?”
“Ya ampun Ti… bukannya minggu kemaren kamu baru beli sepatu di Zara?”
“Iya sih, tapi kan aku pengen liat-liat lagi. Siapa tau ada yang cocok.”
“Dasar ratu sepatu!” Marina tertawa.
Titi bangkit dari tempat duduk. “Rin, aku parkir mobil di ujung jalan Bangka. Tadi dateng kesiangan. Jadi aja, harus parkir di tempat berbatu gitu.”
“Yah gak apa-apa. Jalan agak jauh kan sekalian olah raga.”

Tempat parkir di kampus Titi dan Marina memang luas. Tapi, namanya juga Jakarta, tidak sedikit mahasiswa yang membawa mobil ke kampus. Titi yang biasanya datang lebih awal demi mendapatkan tempat parkir yang nyaman beraspal tebal, kali ini terpaksa memarkir mobil agak jauh dari kampus, di atas jalan yang berbatu.

Belum sampai mobil…

“ADUH!”
“Titi!”

Titi meringis kesakitan dengan posisi terduduk. Ia jatuh terantuk batu.

“Ti? Kamu ngga apa-apa?”
Titi menepukan kedua telapak tangan lalu berdiri. “Aku ngga apa-apa sih Rin. Tapi liat nih, sepatu yang aku pakai… haknya patah.”
Marina mengarahkan mata pada sepatu Titi. “Ya ampuuun…”
“Padahal sepatu ini baru sebulan aku beli, Rin…” Ujar Titi dengan raut muka yang sedih.
“Ya ampuuun…”
“Tapi biar deh, kan aku punya sepatu cadangan yang dari factory outlet Bandung itu.” Muka Titi sedikit cerah.

Dengan sedikit pincang, Titi berjalan menuju mobil. Ia membuka bagasi dan meraih sepatu hitam yang selalu setia menjadi andalannya bila hal-hal seperti ini terjadi.

“See? Sepatu ini…, ngga percuma aku beli. Nyaman dan selalu pas dengan model baju apapun. Jadi ngga pusing.”

Sepuluh menit kemudian, mobil Titi sudah melaju menuju sebuah mall di bilangan Senayan. Sampai di sana, Titi langsung mengajak Marina ke tempat incarannya.

“Aduh Ti, tapi aku laper berat nih. Makan bentar deh di food court. Yah?” Marina dengan muka memelas.
“Tapi kan Rin, tujuan utama kita kan ke…”
“Tujuan utama kamu kali… huhuhu… yah Ti? Please? Daripada aku jatuh pingsan pas kamu milih-milih sepatu gimana? Ribet kan?”
“Bentar aja kok, Rin…”
“Hey! I know you well… sebentar dalam kamus kamu nyari sepatu itu artinya dua jam.”
“Hehehe…, iya deh.”
“Tenang aja, toko sepatu itu kan ngga akan jalan kemana-mana kok.”

Marina dan Titi langsung menuju lantai atas dengan menggunakan escalator. Food court sore itu masih tetap ramai. Marina lalu memesan makanan sementara Titi hanya memesan minuman sambil melamun dengan sepatu-sepatu berkeliaran dalam pikirannya.

Tiba-tiba Titi melihat sosok seseorang yang sangat dikenalnya. Zaki. Ia berjalan menuju arah tempat duduk Titi dan Marina. Yang mengejutkan, ada seorang perempuan cantik melingkarkan tangannya di lengan Zaki.

“Rin! Rin!” Titi sengaja menginjak Marina yang sedang tekun menikmati ayam plus kentang goreng.
“Aduh! Apaan sih Ti?”
“Liat, siapa yang lagi jalan nyamperin kita.” Kali ini Titi berbisik karena Zaki dan perempuan cantik itu dalam dua detik sudah ada dihadapannya.
“Hallo Titi… Marina…” Zaki tersenyum lebar.
“Hallo Zaki!” Sapa Marina. Sementara Titi membalas senyum Zaki. Canggung.
“Abis shopping?”
“Belum sih, Titi nih pengen nyari sepatu. Tapi aku paksa ke sini dulu karena aku kelaparan berat.”
“Ooo… eh ya! Kenalin ini Alin… uhmmm, pacar saya.” Zaki tersenyum malu pada perempuan yang ada disampingnya.
“Alin.” Perempuan cantik itu menyalami Titi dan Marina.
“Ya udah deh Ti, Rin… kita jalan-jalan lagi ya?”

Zaki lalu menjauh dari Titi dan Marina. Titi sempat memutar kepalanya beberapa derajat memerhatikan pasangan itu.

“Hah? Zaki? Pacaran?”
“Lho? Emangnya kenapa?”
“Kok tega sih dia pacaran? Bukannya dia suka sama aku?” Ujar Titi sedih.
“Dia udah minta kamu jadi pacarnya kan, Ti?” Marina lalu mereguk air mineral yang ada di meja.

Tiba-tiba perasaan menyesal mengambang dengan cepat dalam pikiran Titi. Iya, sekarang ia baru sadar bahwa ia sangat kehilangan Zaki. Orang yang selalu mendengarkan keluh kesahnya meski sudah lewat tengah malam. Zaki, orang yang selalu available setiap kali Titi membutuhkannya. Zaki, orang yang selalu membuat perasaannya nyaman.

Sekarang, Titi kehilangan Zaki.

Tanpa sadar, Titi menekan kakinya keras-keras ke lantai. Menyadari bahwa betapa bodoh dirinya selama ini telah menyimpan Zaki di ‘bangku cadangan’. Air mata mulai menggenang. Perasaan sedih yang tiba-tiba datang.

-TAK-

Hak sepatu andalan Titi patah.


dimuat di majalah spice tahun 2006

image: istockphoto.com

You Might Also Like

Oh Where The Heck Did The Romance Go

By October 26, 2005 writing
New Series: The Hidayats.

“Sampe ketemu lagi ya Bu Hidayat…”

Gua mengangguk pada Ibu Bambang, tetangga sebelah. Sabtu pagi ini, seperti hari-hari lainnya, tukang sayur berkeliling kompleks. Gua sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak kembar, seperti dua juta ibu rumah tangga yang lain juga berlangganan pada tukang sayur ini. Dan juga seperti ibu-ibu lain, sesudah menikah dua setengah tahun yang lalu, nama gua berubah menjadi Ibu Hidayat setelah menikah dengan Aldi Hidayat. Mungkin tidak banyak tetangga yang mengetahui kalau nama gua adalah Ratna Marlina.

Seminggu setelah menikah dengan Aa, berdasarkan hasil test pack, gua dinyatakan hamil. Untuk memastikan, gua pergi ke rumah sakit terdekat untuk mengecek kebenaran hasil test pack tersebut. Hasilnya sama, gua positif hamil.

Wow!

Memang sih saat menikah dengan Aa, gua dalam keadaan subur. Jadi memang sangat wajar kalau gua langsung hamil.

Gua lalu menaruh hasil belanjaan ini di meja. Rencananya hari ini gua akan memasak makanan kesukaan Aa. Ayam Cah Jamur. Gemi dan Mini, masih tidur. Aa sendiri ada di ruang tengah sedang menikmati secangkir kopi hangat sambil membaca koran. Karena penggemar berat film Austin Powers, Aa bersikeras menamai anak perempuan kembar kami yang cantik dengan nama Sukmi Sukyu.

Argh!

Gemi dan Mini… someday you will thank me. Gua saat itu mati-matian menolak usul Aa.

Ah! Anyway… Gua lalu mengambil satu mug putih dan membuat satu cangkir kopi, menyusul Aa ke ruang tengah.

“Masak apa ‘Say?”

(Uhhh… sebentar, kayaknya font yang ini kurang cocok deh dengan Aa).


“Masak apa ‘Say?”

(Kalau yang ini bagaimana?

Hmmm… terlalu… girly, mungkin).

“Masak apa ‘Say?”

(Nah, sepertinya yang ini cukup pas untuk mewakili font Aa. Ya udah, gua pakai font ini aja deh).
“Masak Ayam Cah Jamur, A.”


“Ayam Cah Jamur LAGI?”

“Iyaaa… itu kan makanan kesukaan Aa.”

“…”

“Kenapa A?”

“Say, dalam 365 hari di tahun 2004… mungkin hanya dua kali kamu gak masak Ayam Cah Jamur.”

“Masa sih A?”

“Dua hari dimana kamu gak masak Ayam Cah Jamur itu hanya di hari Idul Fitri dan Idul Adha. Selebihnya… kamu selalu masak A-y-a-m C-a-h J-a-m-u-r.”

“Loh apa salahnya A? Jadi Aa pengennya saat Idul Fitri dan Idul Adha makan Ayam Cah Jamur juga?”

“Yah… kan bosen ‘Say… dari awal menikah sampai sekarang kamu selalu masak Ayam Cah Jamur terus.”

Gua kesal.

“Kan masih banyak mungkin menu lain yang bisa kamu buat selain itu…”

“Bhuuu Aa gimana sih… dulu waktu hari pertama saya masakin Ayam Cah Jamur buat makan malem kita, Aa pernah bilang kalau… Wah! Ayam Cah Jamur! aduuuh! ini kan makanan favorit banget! Apalagi Ayam Cah Jamur buatan kamu ini paling enak sedunia. I can have it for the rest of my life

Udah lupa ya A?”

Gua lalu menyingkirkan diri ke dapur. Huhuhu… Akhir-akhir ini memang gua akui, gua sangat sensitif. Gara-gara minggu lalu, gua bertemu Manda, teman kuliah di Institut Teknologi Ganesha, di Pusat Grosir Cililitan.

“Ih… lucu banget yah Rat kita ketemu di sini.”

“Iyaaa… apa kabar sih Man? Udah lama banget ngga ketemu!!! Kabar temen-temen se-geng kita gimana nih?”

“Gue kan abis lulus kuliah langsung dikirim ke Oklahoma Rat… keterima kerja di SLQ. Abis itu ditempatin di Dubai. Nah ini, gue lagi cuti.”

“Oh!”

“Kalo Inka sih lagi nerusin S2, dapet beasiswa di Jerman. Sulis sih bareng sama gue, cuma dia sekarang ditempatin di Aussie.”

“Oh…”

“Yah gitu deh Rat… temen-temen se-geng kita pada jauh… yah sukses juga sih. Duh! elu sih ya pake acara ngga ngeberesin kuliah demi nikah.”

“Ohhh…”

“Ih! Oh Oh terus deh dari tadi. Lu sendiri apa kabar? Ngapain siang-siang ke sini?”

“Belanja. Lo? belanja juga?”

“Ngga sih… setaun kemaren gue iseng ikut-ikutan Sambas beli kios di sini. Tuh yang di lantai I. Rame banget kan? Nah barusan dealing sama yang mau beli. Kiosnya gue jual lagi Rat, lumayan deh profit 100 juta gitu…”

“Oooohhh…”

“Eh lu masih inget kan Sambas yang naksir berat lu itu Rat! Sekarang dia di Brunei… bla… bla… bla…”

Gua semakin pusing mendengarkan cerita Manda. Oh God! Manda… Inka… Sulis… sahabat-sahabat gua saat kuliah semua sukses! Karir yang mapan… pendidikan yang bagus…

Huhuhu semua impian saat gua kuliah dulu. Sementara gua?

Hanya menjadi ibu rumah tangga.
Yup.

Ibu.
Rumah.
Tangga.

Padahal dulu impian gua adalah menjadi wanita karir atau at least harus ada titel S2 yang ada di belakang nama. Nah! ini… titel S1 aja nggak ada. Gua memilih untuk tidak menyelesaikan kuliah (padahal tinggal 1 semester lagi!) karena menikah dengan Aa dan tinggal di Papua. Aa yang sama-sama kuliah di ITG, diterima bekerja di sana. Lalu gua diminta untuk menikah dan ikut ke sana.

Why oh why?

It’s because of love.

Awalnya, gua bangga dengan status gua yang Ibu Rumah Tangga. Tidak seburuk yang gua bayangkan kok. Lagi pula, ternyata tidak mudah menjadi Ibu Rumah Tangga. Apalagi dengan mengurus dua mini-me yang sangat hiper aktif. Pfuuuhhh…

Terkadang, rasa bosan dan sensitif itu melanda. Seperti hari ini. Gua sedih banget dan tiba-tiba jadi kangen masa-masa kuliah dulu. Manda, Inka dan Sulis yang sukses… wah! padahal gua juga yakin bisa sesukses mereka seandainya kuliah gua selesai.

Kalau dulu sih Aa dengan romantisnya memuji masakan gua yang katanya terenak di dunia. Bahkan setiap hari Aa meminta gua untuk memasak Ayam Cah Jamur.

“I can have it for the rest of my life…” katanya dengan romantis.

Sekarang? SEKARANG?

Biar lebih jelas, ilustrasinya seperti ini.
DULU : I can have it for the rest of my life.
SEKARANG: Ayam Cah Jamur
LAGI?

Huhuhu… I can have it for the rest of my life. He said.

Oh, where the heck did the romance go?

You Might Also Like