Buka folder… baca draft lama. Salah satu petikannya, di bab 4. — “Hai!” Skala 8 dari 10. Dia duduk di sebelah saya! Oh. My. God. Kenapa juga ya jantung saya mendadak berdetak lebih cepat. Rasanya kayak demam panggung. Saya hanya tersenyum, dagu sedikit terangkat. Masih ada cappuccino yang belum mengalir masuk. “Ngapain sendirian di sini?” [...]
Bagi Titi, cowok itu ibarat sepatu. Setiap perempuan membutuhkan sepatu. Lebih tepat lagi, sebuah sepatu andalan yang bisa dipakai kapan saja saat dibutuhkan. Seperti sepatu yang sudah ada tiga tahun ada di bagasi mobil Titi. Warnanya hitam. Haknya hanya tiga senti. Harganya juga tidak mahal. Sepatu itu tidak berlabelkan Manolo Blahnik, sepatu yang diciptakan oleh [...]