thoughts

Why Do Bad Things Happen to Good People?

October 10, 2015

Jum’at kemarin, saya bertemu dengan 2 orang teman SMA.
Ngga sengaja sih. Bertemu teman yang satu karena urusan pekerjaan. Bertemu yang satu lagi karena dia bekerja di gedung yang sama. Kami bertiga memang berkumpul di satu grup whatsapp juga.

Akhirnya, kami ngopi sebentar. Update cerita sana sini sampai ke obrolan… kami masing-masing punya teman yang saat sebelum nikah, memiliki hubungan yang lama. Dari SMP misalnya. Tapi begitu menikah, umur pernikahannya hanya sebentar.

“Ya gimana ya… temen gue itu baik banget loh orangnya. Kenapa kejadiannya nimpa ke dia?”

Saya berpikir sebentar. “Mungkin justru sebaiknya seperti itu. Tuhan memperlihatkan dengan cepat agar dia tidak perlu lama-lama membuang waktu dengan orang yang salah.”

family

Friendly Cyclists

October 9, 2015

Tiap anter anak-anak ke sekolah, selalu ada pemandangan orang yang bersepeda.

Beberapa hari ini, lihat 3 orang yang sama… bersepeda di Sudirman. Sekitar pukul 6 pagi.
Pagi ini, Alde menurunkan kaca jendela mobil dan melambaikan tangan. Tiga cyclists itu membalas sapaan Alde sambil tersenyum, “Hallo!”

Saya selalu suka obrolan pagi dengan anak-anak sebelum mereka sampai di sekolah.
Pro kontra naik sepeda. Tebak-tebakan nama negara (depannya huruf K belakangnya N… kazakhstan!). Apa aja sih.
Sebelum turun dari mobil, cium tangan, cium kening… dan bilang I love you.

Energi pagi yang dahsyat buat saya.

active

Happy!

October 8, 2015

Kehilangan motivasi lari.
Lalu badan menggendut. Heran deh, timbangan tuh gampang banget geser ke kanan. Hiyh! Rencana turun 2kg malah naik 2kg. Ya mau gimana… memang salah sendiri ngga rutin olahraga dan makan ga kekontrol. Temen yang biasanya lari bareng, sekarang udah ngga naro acara ladi dalam skala prioritas.

Akhirnya, kayak ada cahaya menerpa di atas kepala.

Mulai lagi.
Ngga gampang banget. Apalagi ada tembok di dalam pikiran. Dulu lari ngga gini, kok sekarang payah banget?

Akhirnya, ikut Ababil Runners. Bukan buat gaya-gayaan. Biar mecut diri sendiri aja. Nyari api yang bikin semangat lagi. Goal-nya cuma satu, bisa menikmati lari lagi.

Satu… dua… tiga minggu. Senin Kamis jadi hari yang ditunggu. Selalu happy kalau ketemu temen-temen lari. Inget lagi apa yang bikin falling in love sama yang satu ini.

Hari ini seneng. Programnya selesai.


Not all treasure is silver and gold, mate!

daily living

Emosi Jiwa

October 7, 2015

Minggu lalu, saya ada meeting di Talavera TB Simatupang. Agak cemas karena macet di Sudirman yang di luar perkiraan (ternyata lebih lama), saya takut terlambat datang.
Di depan Citos, macet seperti biasa. Ketika mobil yang saya kendarai maju, ternyata motor di sebelah belum bergerak. Jadi lah mobil saya bersentuhan. Saya yang salah. Bumper mobil saya pun tergores.

Saya sudah memberikan gestur minta maaf dari mobil kepada pengendara motor (laki-laki). Dia berhenti dan cek motornya, baik-baik saja.

Tapi, tidak puas di situ. Dia menghampiri mobil saya ketika sudah melaju. Dua kali dia mendekat sambil entah sumpah serapah apa yang diucapkan. Saya tidak mau melihat. Jujur saya takut sekali. Berdo’a semoga cepat sampai ke Talavera.

Saya mengerti kalau dia emosi jiwa. Macet dan panas. Siapa yang tidak kesal?

Salah saya. Menyetir dengan cemas apalagi ditambah sedang sakit bulanan. Ini yang pertama. Semoga tidak ada yang selanjutnya lagi.

Icons made by Freepik from www.flaticon.com is licensed by CC BY 3.0
daily living

Let’s Do Something Nice For Our Parents

July 10, 2015

Ramadhan tahun ini bisa dibilang Ramadhan terbaik dibandingkan Ramadhan sebelumnya. Alhamdulillah. Saya banyak menghabiskan waktu di rumah, ngga banyak kegiatan di luar. Tahun lalu saya ngga khatam Al-Qur’an di bulan Ramadhan *duh malu*, tahun ini harus khatam. So far so good, Alhamdulillah, bisa berjalan dengan lancar. Optimis in syaa Allah target terpenuhi. Bener banget sih kadang ada masa dimana kurang semangat untuk beribadah, manusiawi lah ya. Tapiii, lucky me… punya Mama yang jadi panutan. Somehow selalu ada cara Mama untuk memotivasi saya.
Continue Reading

the urban mama

TUM Breastfeeding Month 2015

July 8, 2015

Agustus artinya… World Breastfeeding Week! Dan ini artinya acara tahunan TUM juga datang lagi.
Tahun ini, The Urban Mama kembali mengadakan TUM Breastfeeding Month dalam rangka mendukung World Breastfeeding Week. Selama bulan Agustus, semua tentang breastfeeding akan menjadi tema besar di TUM. Nah! Penting nih buat mama-mama yang menyusui!

TUM Breastfeeding Month 2015 mendukung tema WBW 2015 yaitu Breastfeeding and Work, Let’s Make It Work!
Ada dua nara sumber yang akan hadir di TUM Breastfeeding Month yaitu #TUMExpert Anna Surti Ariani dan Fatimah Berliana Monika.

Anna Surti Ariani yang lebih akrab dipanggil Nina, adalah psikolog yang memiliki minat besar terhadap dunia keluarga. Meraih gelar Sarjana Psikologi dari Universitas Indonesia pada tahun 1999 dan lulus sebagai Psikolog melalui Program Pendidikan Profesi Psikolog UI tahun 2001 dan kembali menuntaskanProgram Magister Ilmu Psikologi Peminatan Psikologi Perkembangan di tahun 2011 di Universitas Indonesia.

Fatimah Berliana Monika adalah Konselor Laktasi & La Leche League (LLL) Leader of Rochester South NY, US. Lulusan S1 Fakultas Teknik Sipil&Perencanaan ITB & S2 Magister Manajemen Universitas Indonesia, yang merupakan penulis Buku Pintar ASI dan Menyusui adalah #TUMExpert yang rutin menulis artikel mengenai breastfeeding di TUM.

Mama Nina akan membahas ‘Sukses Menyusui Dengan Trik-trik Psikologis.’

Mama Monik akan memberikan ‘Tips dan Trik Sukses Memerah & Ruang Laktasi’.

Acara TUM Breastfeeding Month 2015 akan dilaksanakan pada:
Sabtu 8 Agustus 2015
Tempat: Landmark Tower No. 1, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, DKI Jakarta 12190, Indonesia.
Waktu: pkl 10.00 – selesai
HTM: Rp 100.000 (single)/ Rp 150.000 (couple – suami istri).

Nah, siap-siap deh untuk registrasi di event keren dengan dua nara sumber yang oke banget ini! Registasi segera di buka di http://theurbanmama.com/events!

daily living

Berubahlah Untuk Hemat

July 6, 2015

Dulu sih waktu masih single mana kepikiran buat hemat. Well… ya hemat sih tapi ngga hemat-hemat banget *eh gimana sih!* :D Tapi semua berubah setelah nikah. Ingeeet banget waktu itu baru nikah dan masih tinggal di Abidjan, nonton Oprah dengan bintang tamu David Bach yang ngobrolin tentang Latte Factor.

Ada yang belum familiar dengan Latte Factor?

The Latte Factor® is based on the simple idea that all you need to do to finish rich is to look at the small things you spend your money on every day and see whether you could redirect that spending to yourself. Putting aside as little as a few dollars a day for your future rather than spending it on little purchases such as lattes, bottled water, fast food, cigarettes, magazines and so on, can really make a difference between accumulating wealth and living paycheck to paycheck.

Coba, sekarang liat deh pengeluaran yang sebenarnya bisa kita kurangi untuk menghemat dan pengeluaran itu bisa kita alokasikan buat masa depan kita nanti.

Kalo saya sekarang:
1. Kemana-mana selalu ada botol minum berisi air mineral di dalam tas. Jadi ngga perlu beli air mineral kalo pergi-pergi, kecuali memang kurang.
2. Kalau nganter anak les (kan sampe sore tuh), karena suka ngopi… saya juga bawa tumbler berisi latte, favorit saya. Dulu iya suka beli di kafe, harganya sekitar 30-40 ribu kan? Sekarang? Saya beli mokapot dan bikin latte-nya sendiri di rumah. Jadi bawa tumbler berisi kopi plus air mineral juga.
3. Pakai bus transjakarta untuk transportasi atau kalau mau ke mall yang dekat rumah, lebih milih jalan kaki.
4. Di rumah, kalau ngga pakai… kabel listrik ngga perlu terhubung dengan socket listrik. Jadi sebaiknya dicabut.

Kalau lihat pattern pengeluaran keluarga di bulan Ramadhan, biasanya pengeluaran malah lebih heboh. Ngaku deh! Iyaaa kaaan? Beli ini itu buat buka lebih dari pengeluaran di bulan Ramadhan. Belum lagi pengeluaran-pengeluaran lain di luar makanan. Tagihan-tagihan juga biasanya ikut naik. Yang kerasa paling hits sih tentunya tagihan listrik!

Nah, udah denger kan kalo pakai lampu Philips LED kita bisa menghemat energi hingga 85% dibandingkan bola lampu tradisional? Nah, bulan lalu… saya ganti semua lampu di rumah dengan lampu Philips LED. Pertama, yang paliiing saya suka dari lampu Philips LED ini adalah ngga perlu gonta ganti dalam waktu yang singkat seperti bola lampu tradisional karena Philips LED ini tahan hinggal 15 tahun. Plus, satu hal yang penting cahaya terang bernuansa putih alaminya nyaman untuk mata.

Dan tagihan listrik rumah bulan ini datang… Wow! Proven! Tagihan listrik berkurang, jauuuh lebih hemat dibanding bulan sebelumnya ketika rumah belum menggunakan lampu Philips LED. Nice! Happy banget deh! Apalagi ya itu tadi, pengeluaran di bulan Ramadhan biasanya lebih tinggi, eh! ketolong banget dengan turunnya tagihan listrik. Alhamdulillah. Satu Latte Factor bisa berkurang.

Jadi kesimpulannya sih berubahlah untuk hemat. Kalo ngga berubah, neraca keuangan keluarga bisa lebih berat ke arah pengeluaran. Mungkin bisa diterapkan salah satu dari hal-hal yang saya lakukan untuk mengurangi pengeluaran. Share juga yuk di twitter dengan hashtag ini #BerubahlahUntukHemat kalau ada beberapa ide untuk menghemat pengeluaran.

Nah yang seru ini niiih… di Facebook Philips Berbagi Terang ada kuisnya! Tinggal berbagi ide gimana kita menghemat tagihan listrik di rumah selama bulan Ramadhan pada kolom komentar dengan hashtag ‪#‎PhilipsLED‬. Ada paket 10 lampu Philips LED gratis untuk 5 orang yang beruntung setiap minggunya. Ikutan yuk! Masih keburu loh buat ikutan.

Yang pasti sih thanks to lampu Philips LED yang udah bikin tagihan listrik saya lebih hemat.

daily living

Martabak Keju

July 3, 2015

Tahun ini, Ramadhan hadir bertepatan dengan libur sekolah anak. Meski bukan puasa pertama bagi anak-anak, tetap saja awal-awal saat melaksanakan puasa cukup jadi tantangan buat mereka. Oh ya, seperti yang saya ceritakan di post sebelumnya, tahun ini Arza mulai full puasa dan semangat menjadi imam sholat. Bagi saya, Ramadhan tahun ini alhamdulillah menyenangkan lebih dari biasanya karena aktivitas bersama anak-anak jadi lebih banyak di libur sekolah ini.

Senang sih kalau lihat sikap anak-anak terhadap Ramadhan. Kalau dibandingkan saya waktu kecil, mereka jauuuh lebih baik daripada saya. Rasanya saya tidak berpuasa full dari kelas 1 deh. Masih ada sedikit memori yang nempel kalau waktu saya kecil, haus sedikit… minta berbuka. Rasanya kelas 2 atau 3 saya mulai bisa puasa full. Anak-anak saya jauh lebih tangguh daripada saya kecil.

Nah dulu yaaa… waktu kecil kalau puasa tuntutannya banyak. Minta dibuatkan makanan kesukaan sama Mama, udah pasti. Pengen es campur lah, pengen pisang goreng pakai keju, pengen puding cokelat, mau banana split… segala macam deh disebut. Satu hal yang saya ingat, Mama ngga pernah nolak. Mama selalu mengabulkan permintaan saya. Padahal kalau dipikir-pikir, pasti ribet yaa bikin makanan based on request saya yang mendadak. Pernah lagi puasa specifically pengen banget martabak keju tapi harus mama yang buat, ngga boleh beli. Du-uh! Masih inget deh sore itu Mama langsung pergi jalan kaki untuk beli semua bahannya. Kalo inget itu, asli deh… nyusahin banget yaah sayaaa :'( Padahal kalo mau kan praktis tinggal beli aja. Mungkin karena saya suka momen pas bikin martabak keju itu sama Mama. Saya bantu menyerut keju Kraft untuk taburannya sementara Mama membuat martabaknya. Itu. Momen itu. Ngga ada gantinya.

Tapi namanya orangtua, beneran ya banyak berkorban buat anak-anaknya. Mungkin Mama capek tapi ngga pernah kedengeran bilang ngga. Yang paling saya inget, dapur wangiii banget sama martabak keju buatan Mama.

Yah kalo nyusahin, saya pasti banyak nyusahin Mama deh. Inget dulu waktu masih SMA, pulang telat beberapa kali ngga ngabarin ke rumah karena keasikan sama teman-teman. Kebayang kan waktu dulu belum ada handphone. Mama sering khawatir sama saya sebagai anak satu-satunya.

Dan seperti yang saya bilang di blog post yang ini, semua jadi beda ketika kita sendiri udah jadi orangtua. Sekarang saya lebih mengerti dan apa yang Mama lakukan buat saya itu sebenarnya seperti nasihat melalui perbuatan. Walk the talk. Ngga cuma teori aja tapi Mama melakukannya. Dan itu tertanam di benak saya sampai sekarang. Duh! Ingin sekali membalas semua kebaikan Mama.

Makanya sekarang, anak-anak berpuasa dan mereka ada request makanan tertentu untuk berbuka, sebisa mungkin saya membuatkannya, kan sudah Mama contohkan dengan jelas waktu saya kecil. Sebenarnya menyenangkan juga karena mereka suka maksa untuk “membantu” (oh yaa… dua anak cowok yaaa :D ngga usah ditanya deh tepung bertebaran di lantai). Hari ini anak-anak request minta dibuatkan Martabak Keju.

Martabak Keju
Bahan-bahan:

    250 gr tepung terigu serbaguna.
    400 ml susu cair.
    1 butir telur.
    30 gr gula castor.
    ½ sdt baking soda.
    ½ sdt garam.
    Gula pasir untuk taburan.

Cara membuatnya, bisa dilihat di sini ya. Kalau sudah matang, diangkat… oles margarin dan serutan keju. Yummm! Enak banget deh!

Saat anak-anak membantu memarut keju, Mama menelepon. Update keadaan kami masing-masing. Saya bilang kalau sedang membuat martabak keju persis seperti yang saya dan Mama lakukan dulu. Mama tertawa dan request minta saya buatkan juga kalau mudik lebaran ke Bandung. Ah! Pasti! Percakapan di telepon ditutup dengan saya mengucapkan terima kasih pada Mama atas segala yang sudah Mama lakukan pada saya. Ngga pernah ada kata terlambat kan untuk mengucapkan terima kasih pada Mama? :)

Semoga saya bisa membalas segala kebaikan Mama meski yakin apa yang saya lakukan ngga sebanding dengan pengorbanan Mama buat saya. Love you, Mama!