Indahnya Memberi Cinta

By June 22, 2015 daily living
indahnya memberi cinta 1

Senangnya bertemu lagi dengan bulan suci Ramadhan di tahun 2015 ini. Bagi kaum muslim termasuk saya, Ramadhan adalah bulan istimewa yang penuh berkah. Kedatangannya selalu ditunggu. Seperti biasa, sebelum Ramadhan tiba, saya berkunjung ke rumah orangtua saya di Bandung. Kangeeen! Apalagi sudah lebih dari satu bulan sejak kunjungan terakhir saya ke rumah orangtua.

Saya selalu kangen pulang ke Bandung. Maklum deh yaaa… tinggal di apartemen, ngga napak ke tanah jadi di tempat saya tinggal, tidak ada taman. Lately saya suka sekali menaruh tanaman di apartemen. Rasanya lebih asri, ngga terlalu kering. Tanamannya saya simpan di pot-pot kecil. Tanamannya tentu saja berasal dari rumah Mama :D saya ngga tau nama tanamannya apa yang penting gampang dirawat. Duh! Seneng deh kalo ke rumah Mama karena halaman di samping rumah itu asri banget. Tanaman tumbuh subur. Kayaknya Mama saya memang punya rasa persahabatan yang tinggi dengan tanaman. Apa aja yang ditanam Mama, tumbuh subur.

Kalau ingat rumah, otomatis jadi ingat masa kecil saya juga karena dari TK saya tinggal di rumah Bandung. Seperti pasangan muda, dulu Mama dan Bapak menumpang dulu di rumah nenek saya ketika proses membangun rumah dilakukan. Target mereka, sebelum saya masuk SD, sudah tinggal di rumah sendiri.

Hmm… Inget banget deh waktu kecil dulu, Mama suka mengantar saya ke sekolah pakai motor. Menemani saya ke madrasah setelah selesai sekolah untuk belajar mengaji. Mama juga menjahit baju untuk saya (duh! sementara saya ngga bisa menjahit sama sekali. Perlu baju, tinggal cari yang udah jadi aja). Dan yang pasti kalau Ramadhan, Mama membuat kue lebaran sendiri! (lagi-lagi, kadang saya lebih memilih beli karena alasan kesibukan untuk membuatnya sendiri). Mama tau banget kalau saya suka kue keju, makanya Mama ngga pernah absen untuk membuatnya karena Mama tau itu kue favorit saya. Ah! Saya jadi inget deh momen masa kecil waktu membantu Mama bikin kue keju. Tugas saya adalah bagian menyerut keju Kraft. Soalnya saya sukaaa banget makan keju.

Kalau inget-inget masa kecil, kerasa yaaa banyak banget pengorbanan dan kasih sayang orangtua buat saya. Mungkin kalo dulu I took for granted, tapi beda rasanya setelah dewasa dan terlebih sudah menjadi orangtua juga. Ramadhan ini rasanya jadi momen yang pas banget buat saya memberi sesuatu sebagai rasa terima kasih saya untuk Mama.

Saya ke Bandung sambil membawa satu pot besar tanaman buat Mama. Saya tahu Mama pengin banget menanam tanaman Lee Kuan Yew di rumah tapi belum sempat membelinya. Sekaligus saya juga membelikan mukena supaya bisa dipakai Mama saat sholat subuh berjama’ah di masjid.

Alhamdulillah, Mama seneng bangeeet! Tanaman yang saya bawa kami tanam bersama-sama di halaman rumah. Mama juga suka dengan mukena dari saya. Ah! Indahnya memberi cinta. Saya juga membawa kantong berisi bahan-bahan untuk membuat kue keju favorit saya untuk Idul Fitri nanti. Mama tersenyum dan kami langsung ke dapur untuk bersama-sama membuatnya. Kenangan masa lalu di rumah ini hadir lagi. Sambil menyerut keju, kami bertukar cerita… update kehidupan masing-masing. Terima kasih Mama, dari matanya saya tahu cinta Mama untuk saya tidak pernah ada akhirnya.

Breakfast Movement

By June 20, 2015 guest & press
breakfast movement 2

Akhir bulan lalu, saya bersama dr Hario Tilarso dan mbak Nita dari Nestle berbagi pengalaman di acara Breakfast Movement, di Jakarta International 10K. Karena acara dimulai pukul 8 pagi dan berhubung lari 10K saya lebih dari 1 jam, jadiii saya lari dari rumah saja ke venue (sekitar 3K).

Duuh senangnya satu panggung sama idola, dr Hario Tilarso :)
dr Hario udah lari 50 tahun. Konsisten lari. dr Hario larinya kencang loh! Inspirasi banget buat saya supaya terus lari. Seneng liatnya, fit dan sehat.

Terima kasih Milo untuk kesempatannya. :)

Memperpanjang SIM di Samsat Gandaria City

By June 12, 2015 daily living
Memperpanjang SIM di Samsat Gandaria City 1

Hari ini saya memperpanjang masa berlaku SIM di Gandaria City. Wah! Asli yaaa… ternyata bener-bener deh prosesnya hassle-free banget!

1. Bawa fotokopi SIM dan KTP. Menyerahkan SIM asli (harus dibawa).
2. Isi formulir (better bawa pulpen sendiri).
3. Dapat nomor antre.
4. Dipanggil untuk memastikan data, pengambilan sidik jari jempol kanan kiri, tanda tangan, dan foto.
5. Bayar Rp 150.000

Selesai!
Dan semua itu hanya memakan waktu 30 menit saja!

Manners Maketh Man

By June 8, 2015 thoughts
manners maketh man

*image dari imdb.

Jum’at minggu lalu, saya pergi ke Ikea. Beli printilan buat rumah dan meja makan. Meja makan idaman tepatnya (meja makan di rumah dibeli 5 tahun yang lalu dan warnanya cokelat). Kenapa meja makan idaman? Karena warnanya putih. Maklum kan, cita-cita dan misi hidup saya kalau di apartemen ini furniturnya serba putih.

Senang yaa ke Ikea di hari biasa. So serene! Sekalian pengumuman sama teman-teman di group whatsapp dan menerima titipan Ikea. Jadi bawaannya cukup banyak. Sampai di tempat parkir apartemen, meja makan masih saya tinggal di mobil. Biar saya bawa malam aja kalau udah ngga terlalu ramai yang pakai lift. Gitu rencananya.

Malam sekitar pukul 20.00 saya mengajak anak bungsu saya untuk menemani ke bawah mengambil meja makan. Sambil menunggu pintu lift terbuka, ada sepasang suami istri yang ternyata repot membawa belanjaan dari Ikea juga. Suami membawa beberapa box hitam Ikea, tutupnya ditumpuk di atas. Kami satu lift. Ternyata kartu akses mereka tidak jalan di lift barang. Mereka berkali-kali mencoba sampai akhirnya sang istri memutuskan ke luar. Ketika akan ke luar, tutup box yang dipegang suami berjatuhan ke lantai lift. Saya otomatis membantu mengambilkannya. Orang itu berlalu begitu saja, ke luar lift, tanpa ada kata.

Kemudian hening.

Kemudian… saya bengong.

Seriously?
Harus diakui saya kesal. Pastinya jadi tidak ikhlas ya? Karena kalau ikhlas saya tidak akan tweet kejadian itu dan menulisnya di blog ini.

Saya kecewa karena secara natural, saya akan mengucapkan terima kasih kalau saya ada di posisi orang itu. Sementara dia tidak.

Saya langsung tweet.

Apakah hal-hal simple seperti mengucapkan terima kasih itu terlupakan?
Kadang saya berpikir, “Hah, gitu-gitu aja masa harus diajarin sih?”
Apparently, yes.
The lost art of gratitude.

Ocha malah pernah menerima respon seperti ini:
@ninityunita dulu aku pnh ngalamin gitu mbak,nyeplos aja aku blg kok gk ngom makasih eh yg ditolong jwb “emg saya minta ditolong?” duh Gusti

Ya udah next time ga perlu ditolong kalau ada yang kayak gitu.
Pertama, kita ngga tahu reaksi yang ditolong. Kalau dia bilang terima kasih, tentu lain ceritanya.
Kedua, saya ngga bisa diam saja. Secara alami, ya menolongnya.

Mungkin ga sih kalau ada hal seperti itu di depan mata, kita diam saja?
Mungkin ga sih kalau ada teman yang bahagia kita diam saja tanpa mengucapkan selamat, turut berbahagia atas kebahagiaannya?
Tidak ada reaksi.
Dingin.

Tapi satu hal, saya yakin saya melakukan hal yang benar.
Saya menunjukkan di depan anak saya bahwa bila ada hal seperti itu kita harus peduli. Tidak diam saja. Kalau kata Manic Street Preachers, If you tolerate this, then your children will be next.

Manners maketh man.
Your mannerisms define you who you are.

And always remember, good manners cost nothing.

Foto dan Video Keluarga

By June 5, 2015 family

Beberapa hari yang lalu, saya harus cari beberapa foto dari hard disk. Setelah dibuka, malah liat beberapa folder yang isinya foto anak-anak. Waktu Alde kecil, saya disiplin dengan folder tiap bulan. Ketika melahirkan Alde. Ketika Alde 1 bulan, Alde 2 bulan, dan seterusnya. Dengan Arza, kedisiplinan itu tidak bertahan lama.

Ketika membuka foto-foto itu, ternyata bikin mata basah. Lihat anak-anak waktu masih bulet dan ndut. Ada beberapa video. Duh! Senengnya liat foto-foto lama mereka.

Saya memang bukan tipe yang sering post foto anak-anak. Kalau ada yang memperhatikan, lately saya jarang sekali menampilkan foto mereka dari depan. Kebanyakan dari belakang atau samping. Bukan apa-apa sih, they’re my source of happiness… tapi ada beberapa hal yang saya pilih untuk di keep sendiri. Jadi, sering beberapa kali kalau bertemu teman… mereka “pangling” liat Alde dan Arza.

Anyway…
Kembali ke topik foto dan video. Kesimpulannya penting untuk menyimpan foto dan video anak dengan baik dan rapi. Sering kan denger kalau anak-anak tumbuh dengan cepat?
Well… it’s true.
Pastikan kita menikmati momen pertumbuhan mereka… dan kalau kangen, bisa lihat-lihat di folder yang sudah rapi kita susun.

Ah! :)
Jadi pengen beres-beres foto deh sekarang.

Muslim-Friendly Tourism? It’s Time For Taiwan

By June 4, 2015 getaway
Muslim Friendly Tourism Its Time For Taiwan 00

Ketika diajak pergi ke Taipei, ada satu kekhawatiran saya yaitu mengenai makanan. Saya sadar pergi ke negara yang penduduknya sedikit beragama Islam tentunya akan menjadi sedikit tantangan bagi saya untuk menemukan makanan yang halal.

Tapi ternyata kekhawatiran saya itu langsung hilang, ketika sampai di Taipei, saya langsung mendapatkan buklet Muslim Dining in Taiwan yang dirilis oleh Taiwan Tourism Bureau. Buklet ini semacam panduan bagi kita yang beragama Islam selama berada di Taiwan. Restoran-restoran yang bersertifikasi halal ada di sini, mulai dari Taiwan area utara, selatan, timur, barat, dan pusat. Lengkap dengan alamat, telepon, website, dan jenis makanan yang disajikan restoran (Thai, Indian, Chinese, Western, bahkan Indonesian!). Tidak hanya restoran tapi ada juga masjid-masjid yang terdapat di Taiwan.

Ini membuktikan bahwa Taiwan sangat serius mengakomodasi kebutuhan turis muslim yang jumlahnya tidak sedikit untuk mengunjungi Taiwan. Saya sempat ngobrol-ngobrol dengan Sunny Yen dari Taiwan Tourism Bureau, Sunny mengatakan bahwa Taiwan sangat bersemangat untuk membangun lingkungan wisata yang nyaman bagi teman-teman muslim. Chinese Muslim Association (CMA) menyediakan fasilitas untuk membantu hotel dan restoran dalam mendapatkan Muslim-Friendly Certification dan Sertifikat Halal. Wah seneng banget yaaa! Sebagai seorang muslim, saya merasa di welcome banget di Taipei. :)
Read More

A Glimpse of Taipei

By June 1, 2015 getaway
A Glimpse of Taipei 04

Saya belum pernah ke negeri bubble tea, Taiwan. Makanya waktu diajak Indonesia AirAsia X dan Taiwan Tourism Bureau untuk berkunjung ke Taiwan, I immediately say yes.
Read More