Manners Maketh Man

By June 8, 2015 thoughts
manners maketh man

*image dari imdb.

Jum’at minggu lalu, saya pergi ke Ikea. Beli printilan buat rumah dan meja makan. Meja makan idaman tepatnya (meja makan di rumah dibeli 5 tahun yang lalu dan warnanya cokelat). Kenapa meja makan idaman? Karena warnanya putih. Maklum kan, cita-cita dan misi hidup saya kalau di apartemen ini furniturnya serba putih.

Senang yaa ke Ikea di hari biasa. So serene! Sekalian pengumuman sama teman-teman di group whatsapp dan menerima titipan Ikea. Jadi bawaannya cukup banyak. Sampai di tempat parkir apartemen, meja makan masih saya tinggal di mobil. Biar saya bawa malam aja kalau udah ngga terlalu ramai yang pakai lift. Gitu rencananya.

Malam sekitar pukul 20.00 saya mengajak anak bungsu saya untuk menemani ke bawah mengambil meja makan. Sambil menunggu pintu lift terbuka, ada sepasang suami istri yang ternyata repot membawa belanjaan dari Ikea juga. Suami membawa beberapa box hitam Ikea, tutupnya ditumpuk di atas. Kami satu lift. Ternyata kartu akses mereka tidak jalan di lift barang. Mereka berkali-kali mencoba sampai akhirnya sang istri memutuskan ke luar. Ketika akan ke luar, tutup box yang dipegang suami berjatuhan ke lantai lift. Saya otomatis membantu mengambilkannya. Orang itu berlalu begitu saja, ke luar lift, tanpa ada kata.

Kemudian hening.

Kemudian… saya bengong.

Seriously?
Harus diakui saya kesal. Pastinya jadi tidak ikhlas ya? Karena kalau ikhlas saya tidak akan tweet kejadian itu dan menulisnya di blog ini.

Saya kecewa karena secara natural, saya akan mengucapkan terima kasih kalau saya ada di posisi orang itu. Sementara dia tidak.

Saya langsung tweet.

Apakah hal-hal simple seperti mengucapkan terima kasih itu terlupakan?
Kadang saya berpikir, “Hah, gitu-gitu aja masa harus diajarin sih?”
Apparently, yes.
The lost art of gratitude.

Ocha malah pernah menerima respon seperti ini:
@ninityunita dulu aku pnh ngalamin gitu mbak,nyeplos aja aku blg kok gk ngom makasih eh yg ditolong jwb “emg saya minta ditolong?” duh Gusti

Ya udah next time ga perlu ditolong kalau ada yang kayak gitu.
Pertama, kita ngga tahu reaksi yang ditolong. Kalau dia bilang terima kasih, tentu lain ceritanya.
Kedua, saya ngga bisa diam saja. Secara alami, ya menolongnya.

Mungkin ga sih kalau ada hal seperti itu di depan mata, kita diam saja?
Mungkin ga sih kalau ada teman yang bahagia kita diam saja tanpa mengucapkan selamat, turut berbahagia atas kebahagiaannya?
Tidak ada reaksi.
Dingin.

Tapi satu hal, saya yakin saya melakukan hal yang benar.
Saya menunjukkan di depan anak saya bahwa bila ada hal seperti itu kita harus peduli. Tidak diam saja. Kalau kata Manic Street Preachers, If you tolerate this, then your children will be next.

Manners maketh man.
Your mannerisms define you who you are.

And always remember, good manners cost nothing.

Foto dan Video Keluarga

By June 5, 2015 family

Beberapa hari yang lalu, saya harus cari beberapa foto dari hard disk. Setelah dibuka, malah liat beberapa folder yang isinya foto anak-anak. Waktu Alde kecil, saya disiplin dengan folder tiap bulan. Ketika melahirkan Alde. Ketika Alde 1 bulan, Alde 2 bulan, dan seterusnya. Dengan Arza, kedisiplinan itu tidak bertahan lama.

Ketika membuka foto-foto itu, ternyata bikin mata basah. Lihat anak-anak waktu masih bulet dan ndut. Ada beberapa video. Duh! Senengnya liat foto-foto lama mereka.

Saya memang bukan tipe yang sering post foto anak-anak. Kalau ada yang memperhatikan, lately saya jarang sekali menampilkan foto mereka dari depan. Kebanyakan dari belakang atau samping. Bukan apa-apa sih, they’re my source of happiness… tapi ada beberapa hal yang saya pilih untuk di keep sendiri. Jadi, sering beberapa kali kalau bertemu teman… mereka “pangling” liat Alde dan Arza.

Anyway…
Kembali ke topik foto dan video. Kesimpulannya penting untuk menyimpan foto dan video anak dengan baik dan rapi. Sering kan denger kalau anak-anak tumbuh dengan cepat?
Well… it’s true.
Pastikan kita menikmati momen pertumbuhan mereka… dan kalau kangen, bisa lihat-lihat di folder yang sudah rapi kita susun.

Ah! :)
Jadi pengen beres-beres foto deh sekarang.

Muslim-Friendly Tourism? It’s Time For Taiwan

By June 4, 2015 getaway
Muslim Friendly Tourism Its Time For Taiwan 00

Ketika diajak pergi ke Taipei, ada satu kekhawatiran saya yaitu mengenai makanan. Saya sadar pergi ke negara yang penduduknya sedikit beragama Islam tentunya akan menjadi sedikit tantangan bagi saya untuk menemukan makanan yang halal.

Tapi ternyata kekhawatiran saya itu langsung hilang, ketika sampai di Taipei, saya langsung mendapatkan buklet Muslim Dining in Taiwan yang dirilis oleh Taiwan Tourism Bureau. Buklet ini semacam panduan bagi kita yang beragama Islam selama berada di Taiwan. Restoran-restoran yang bersertifikasi halal ada di sini, mulai dari Taiwan area utara, selatan, timur, barat, dan pusat. Lengkap dengan alamat, telepon, website, dan jenis makanan yang disajikan restoran (Thai, Indian, Chinese, Western, bahkan Indonesian!). Tidak hanya restoran tapi ada juga masjid-masjid yang terdapat di Taiwan.

Ini membuktikan bahwa Taiwan sangat serius mengakomodasi kebutuhan turis muslim yang jumlahnya tidak sedikit untuk mengunjungi Taiwan. Saya sempat ngobrol-ngobrol dengan Sunny Yen dari Taiwan Tourism Bureau, Sunny mengatakan bahwa Taiwan sangat bersemangat untuk membangun lingkungan wisata yang nyaman bagi teman-teman muslim. Chinese Muslim Association (CMA) menyediakan fasilitas untuk membantu hotel dan restoran dalam mendapatkan Muslim-Friendly Certification dan Sertifikat Halal. Wah seneng banget yaaa! Sebagai seorang muslim, saya merasa di welcome banget di Taipei. :)
Read More

A Glimpse of Taipei

By June 1, 2015 getaway
A Glimpse of Taipei 04

Saya belum pernah ke negeri bubble tea, Taiwan. Makanya waktu diajak Indonesia AirAsia X dan Taiwan Tourism Bureau untuk berkunjung ke Taiwan, I immediately say yes.
Read More

Stokke di Indonesia

By June 1, 2015 daily living
stokke di indonesia 1

Saya ngefans banget sama brand Norwegia yang satu ini, Stokke. Pertama jatuh cinta sama high chair-nya, Tripp Trapp. Kenapa falling in love karena jujur saya suka banget sama desainnya. Simple. Dan satu hal dari Tripp Trapp yang bikin saya naksir banget karena Tripp Trapp dari Stokke ini bisa “tumbuh” bersama anak, bersama kita, jadi cerita dari keluarga. Makanya pas masih tinggal di Singapore, saya beli Tripp Trapp warna putih untuk Alde. Dulu high chair, sekarang jadi kursi di kamar Alde yang dipake buat belajar. Multifungsi juga sih karena suka juga dipake buat kursi makan. Sesuai kebutuhan aja karena gampang banget dipindah-pindah.
Read More

Terbang Ke Taipei Dengan Indonesia AirAsia X

By May 28, 2015 getaway
Terbang Ke Taipei Dengan Indonesia AirAsia X 01

AirAsia tentunya sudah sangat familiar bagi kita. Siapa sih yang ngga kenal dengan airlines yang satu ini? Low budget airlines yang oke dengan pelayanan yang mengesankan. Tapi, bagaimana dengan Indonesia AirAsia X? Udah pada familiar belum? Honestly, saya sendiri baru “ngeh” ketika 20 Mei lalu diajak terbang ke Taipei selama 5 hari 3 malam.
Read More

Unboxing Garmin VivoActive

By April 16, 2015 active, gear
Unboxing Garmin VivoActive

Unboxing Garmin VivoActive.
Go get yours at Garmin Indonesia!