singsingkan lengan baju, sumbangkan buku-bukumu! :)

By October 26, 2005 daily living
Diawali dengan obrolan-obrolan nggak penting dari tiga orang cewek kurang kerjaan (Okke, Danni, Muti), tercetuslah ide untuk ngadain kegiatan sosial mengumpulkan buku-buku bekas atau baru untuk disumbangin.

Ide ini muncul gara-gara Danni yang baru tau kalau ternyata hampir di seluruh kelurahan di Kota Bandung ada satu masalah yang sama. Masalahnya adalah kurang tersedianya buku-buku untuk anak-anak tak mampu dan juga untuk perpustakaan di sekolah-sekolah ataupun umum yang memadai.

Kenapa?

Soalnya memang di seluruh pelosok Bandung itu masih banyak anak terlantar dan keluarga miskin yang boro-boro bisa nyediain uang untuk beli buku, untuk makan aja musti nunggu jatah raskin yang paling cuma dapet tiga kg ataup jatah subsidi BBM yang cuma Rp.100.000,- sebulan (itupun kalo kedapetan semua atau nggak ada potongan lainnya heheh… :)). Dengan situasi seperti itu gimana bangsa kita mau pinter coba?

Ya sudahlah, ini omongan penting yang bakal jadi nggak penting juga karena nggak akan ada habisnya.

Pokoknya, akhirnya kita menarik kesimpulan mendingan bergerak mengumpulkan lalu memberikan apa yang mereka butuhkan daripada cuma ngomongin aja. Nah, makanya sekarang kita minta bantuan temen-temen yang juga peduli dan rela untuk memberikan sebagian hartanya (harta di sini means buku ya!) untuk anak-anak yang membutuhkan itu.

How?

Gampang!

Caranya cukup bawa buku-bukunya ke dropping points yang ada. Sejauh ini sih dropping point baru satu, di Potluck, Jl. Teuku Umar No.9, Bandung. Nanti akan ada satu box khusus dan daftar penyumbang yang kalau mau bisa diisi. Daftar ini nanti akan saya publish di bookbox.sepatumerah.net dan di-update tiap tiga hari sekali.

Udah! Gampang banget, kan?

Oh ya, batas waktu pengumpulan dari tanggal 24 Oktober – 23 November 2005.

Oh iya, buat temen-temen yang mau ikutan mensukseskan program ini dengan mempublikasikannya di situs atau blognya atau mailing listnya, we welcome you to join us!

Hubungi aja salah satu nama pelaksana yang ada di bawah.

Jadi… kita tunggu partisipasinya ya! Thanks ya!! Mudah-mudahan kegiatan ini bisa berjalan dengan lancar dan memberikan banyak manfaat buat semua yang berpartisipasi.

Pelaksana kegiatan : Danni Junus, Okke, Muti, Ninit Yunita
Distributor : Danni Junus
Didukung Oleh :
- Potluck Coffee Bar & Library, Jl. Teuku Umar No.9
- eituze.blogspot.com
- kamarcewek.com
- sepatumerah.net
- istribawel.com
- mailing list temantemanmuti
- dan mailing list-mailing list lainnya yang sekarang baru mau saya minta izin pencantuman namanya

Contact person :
Danni Junus
Potluck Coffee Bar & Library
Jl. Teuku Umar No.9, Bandung
Telp. 022-2501332
dharma_atari@yahoo.com

okke
okke77@yahoo.com

muti
muti_hudiyana@yahoo.com

oh where the heck did the romance go

By October 26, 2005 writing
New Series: The Hidayats.

“Sampe ketemu lagi ya Bu Hidayat…”

Gua mengangguk pada Ibu Bambang, tetangga sebelah. Sabtu pagi ini, seperti hari-hari lainnya, tukang sayur berkeliling kompleks. Gua sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak kembar, seperti dua juta ibu rumah tangga yang lain juga berlangganan pada tukang sayur ini. Dan juga seperti ibu-ibu lain, sesudah menikah dua setengah tahun yang lalu, nama gua berubah menjadi Ibu Hidayat setelah menikah dengan Aldi Hidayat. Mungkin tidak banyak tetangga yang mengetahui kalau nama gua adalah Ratna Marlina.

Seminggu setelah menikah dengan Aa, berdasarkan hasil test pack, gua dinyatakan hamil. Untuk memastikan, gua pergi ke rumah sakit terdekat untuk mengecek kebenaran hasil test pack tersebut. Hasilnya sama, gua positif hamil.

Wow!

Memang sih saat menikah dengan Aa, gua dalam keadaan subur. Jadi memang sangat wajar kalau gua langsung hamil.

Gua lalu menaruh hasil belanjaan ini di meja. Rencananya hari ini gua akan memasak makanan kesukaan Aa. Ayam Cah Jamur. Gemi dan Mini, masih tidur. Aa sendiri ada di ruang tengah sedang menikmati secangkir kopi hangat sambil membaca koran. Karena penggemar berat film Austin Powers, Aa bersikeras menamai anak perempuan kembar kami yang cantik dengan nama Sukmi Sukyu.

Argh!

Gemi dan Mini… someday you will thank me. Gua saat itu mati-matian menolak usul Aa.

Ah! Anyway… Gua lalu mengambil satu mug putih dan membuat satu cangkir kopi, menyusul Aa ke ruang tengah.

“Masak apa ‘Say?”

(Uhhh… sebentar, kayaknya font yang ini kurang cocok deh dengan Aa).


“Masak apa ‘Say?”

(Kalau yang ini bagaimana?

Hmmm… terlalu… girly, mungkin).

“Masak apa ‘Say?”

(Nah, sepertinya yang ini cukup pas untuk mewakili font Aa. Ya udah, gua pakai font ini aja deh).
“Masak Ayam Cah Jamur, A.”


“Ayam Cah Jamur LAGI?”

“Iyaaa… itu kan makanan kesukaan Aa.”

“…”

“Kenapa A?”

“Say, dalam 365 hari di tahun 2004… mungkin hanya dua kali kamu gak masak Ayam Cah Jamur.”

“Masa sih A?”

“Dua hari dimana kamu gak masak Ayam Cah Jamur itu hanya di hari Idul Fitri dan Idul Adha. Selebihnya… kamu selalu masak A-y-a-m C-a-h J-a-m-u-r.”

“Loh apa salahnya A? Jadi Aa pengennya saat Idul Fitri dan Idul Adha makan Ayam Cah Jamur juga?”

“Yah… kan bosen ‘Say… dari awal menikah sampai sekarang kamu selalu masak Ayam Cah Jamur terus.”

Gua kesal.

“Kan masih banyak mungkin menu lain yang bisa kamu buat selain itu…”

“Bhuuu Aa gimana sih… dulu waktu hari pertama saya masakin Ayam Cah Jamur buat makan malem kita, Aa pernah bilang kalau… Wah! Ayam Cah Jamur! aduuuh! ini kan makanan favorit banget! Apalagi Ayam Cah Jamur buatan kamu ini paling enak sedunia. I can have it for the rest of my life

Udah lupa ya A?”

Gua lalu menyingkirkan diri ke dapur. Huhuhu… Akhir-akhir ini memang gua akui, gua sangat sensitif. Gara-gara minggu lalu, gua bertemu Manda, teman kuliah di Institut Teknologi Ganesha, di Pusat Grosir Cililitan.

“Ih… lucu banget yah Rat kita ketemu di sini.”

“Iyaaa… apa kabar sih Man? Udah lama banget ngga ketemu!!! Kabar temen-temen se-geng kita gimana nih?”

“Gue kan abis lulus kuliah langsung dikirim ke Oklahoma Rat… keterima kerja di SLQ. Abis itu ditempatin di Dubai. Nah ini, gue lagi cuti.”

“Oh!”

“Kalo Inka sih lagi nerusin S2, dapet beasiswa di Jerman. Sulis sih bareng sama gue, cuma dia sekarang ditempatin di Aussie.”

“Oh…”

“Yah gitu deh Rat… temen-temen se-geng kita pada jauh… yah sukses juga sih. Duh! elu sih ya pake acara ngga ngeberesin kuliah demi nikah.”

“Ohhh…”

“Ih! Oh Oh terus deh dari tadi. Lu sendiri apa kabar? Ngapain siang-siang ke sini?”

“Belanja. Lo? belanja juga?”

“Ngga sih… setaun kemaren gue iseng ikut-ikutan Sambas beli kios di sini. Tuh yang di lantai I. Rame banget kan? Nah barusan dealing sama yang mau beli. Kiosnya gue jual lagi Rat, lumayan deh profit 100 juta gitu…”

“Oooohhh…”

“Eh lu masih inget kan Sambas yang naksir berat lu itu Rat! Sekarang dia di Brunei… bla… bla… bla…”

Gua semakin pusing mendengarkan cerita Manda. Oh God! Manda… Inka… Sulis… sahabat-sahabat gua saat kuliah semua sukses! Karir yang mapan… pendidikan yang bagus…

Huhuhu semua impian saat gua kuliah dulu. Sementara gua?

Hanya menjadi ibu rumah tangga.
Yup.

Ibu.
Rumah.
Tangga.

Padahal dulu impian gua adalah menjadi wanita karir atau at least harus ada titel S2 yang ada di belakang nama. Nah! ini… titel S1 aja nggak ada. Gua memilih untuk tidak menyelesaikan kuliah (padahal tinggal 1 semester lagi!) karena menikah dengan Aa dan tinggal di Papua. Aa yang sama-sama kuliah di ITG, diterima bekerja di sana. Lalu gua diminta untuk menikah dan ikut ke sana.

Why oh why?

It’s because of love.

Awalnya, gua bangga dengan status gua yang Ibu Rumah Tangga. Tidak seburuk yang gua bayangkan kok. Lagi pula, ternyata tidak mudah menjadi Ibu Rumah Tangga. Apalagi dengan mengurus dua mini-me yang sangat hiper aktif. Pfuuuhhh…

Terkadang, rasa bosan dan sensitif itu melanda. Seperti hari ini. Gua sedih banget dan tiba-tiba jadi kangen masa-masa kuliah dulu. Manda, Inka dan Sulis yang sukses… wah! padahal gua juga yakin bisa sesukses mereka seandainya kuliah gua selesai.

Kalau dulu sih Aa dengan romantisnya memuji masakan gua yang katanya terenak di dunia. Bahkan setiap hari Aa meminta gua untuk memasak Ayam Cah Jamur.

“I can have it for the rest of my life…” katanya dengan romantis.

Sekarang? SEKARANG?

Biar lebih jelas, ilustrasinya seperti ini.
DULU : I can have it for the rest of my life.
SEKARANG: Ayam Cah Jamur
LAGI?

Huhuhu… I can have it for the rest of my life. He said.

Oh, where the heck did the romance go?

annoying people – part 3

By October 22, 2005 daily living
Sejadul-jadulnya Cengkareng… gua ngerasa nyaman banget kalo nunggu buat boarding. Semua orang nunggu dengan tenang, reading books and having coffee. Masuk pesawat sesuai panggilan nomor tempat duduk.

Nggak tau kenapa, tiap kali pergi dari airport yang berasal & menuju Afrika (dan nggak peduli sebagus apapun airline-nya) everything is so chaotic!

Bawaannya tegang, emosional dan siap-siap menahan kemungkinan munculnya hipertensi.

Acara boarding serasa jadi acara rally mobil. Semua orang pengen cepet-cepet masuk pesawat. Haduhhh… mana bisa menang. Gua dan suamigila kan secara fisik kalah besar dan kuat sama kebanyakan orang Afrika.

Udah beberapa kali kejadian, kabin yang nomornya sesuai dengan seat gua dan suamigila, udah penuh terisi sama tas-koper-buntelan yang nggak tau kenapa tiba-tiba udah berjejalan di situ . Uhuhuhuh kesyel nggak sih. So, sadly… gua dan suamigila harus melakukan hal yang sama. Terpaksa masukin tas ransel ke kabin orang lain yang masih kosong (yang mana jadi efek domino… karena orang laen pasti sebel juga sama gua. Hehehe).

Gua pernah ada pengalaman nggak enak sama bapak Afrika, yang gua namain ‘Mr Bling bling’ deh. Soalnya emang ini bapak yang berbadan maksimalis ini pake kalung emas dan bandul yang gede banged! Belum lagi gelang plus cincin di jari-jari tangannya.

Bling! bling!

Nah, Mr Bling bling ini duduknya tepan di depan gua. Waktu itu, abis makan. Nggak tau kenapa tiba-tiba kok ada bau ngga sedap yah… huhuhu sumpaaah! mana tahan deh. Frekuensi kentutnya juga lumayan sering. Gua udah curiga berat Mr Bling-bling ini nih tersangka utama. Soalnya gua denger sedikit bunyi-bunyian gitu yang muncul malu-malu dari kursi depan. Huhuhu…

Belum lagi Mr Bling bling ini selalu melakukan gerakan tak terduga. Karena badannya yang maksimalis jadi tekanan ke belakang juga cukup kuat, yang mana gua sering naro gelas plastik berisi air… beberapa kali kesiram… uhuhuhuh…

Pas mau turun pesawat juga, Mr Bling-bling ini ngehalangin gua yang udah siap untuk keluar duluan. Dengan santainya, ngambil barang-barang di kabin… trus nyuruh gua mundur dikit karena dia mau ngambil barang-barang DIA yang ada di kabin GUA! aiiiigggghhh.

Semoga nggak ketemuan lagi deh sama Mr Bling-bling ini dan semoga nggak ada korban berikutnya… hehehe…

Have a nice weekend everyone!

Ps, terakhir gua mudik… nyampe di JKT, beberapa gembok pada bengkok tuh. Mungkin ada yang berusaha jail buka-buka koper yaaa… untung juga gemboknya agak susah dibuka.