Let’s Do Something Nice For Our Parents

By July 10, 2015 daily living
lets do something nice for our parents

Ramadhan tahun ini bisa dibilang Ramadhan terbaik dibandingkan Ramadhan sebelumnya. Alhamdulillah. Saya banyak menghabiskan waktu di rumah, ngga banyak kegiatan di luar. Tahun lalu saya ngga khatam Al-Qur’an di bulan Ramadhan *duh malu*, tahun ini harus khatam. So far so good, Alhamdulillah, bisa berjalan dengan lancar. Optimis in syaa Allah target terpenuhi. Bener banget sih kadang ada masa dimana kurang semangat untuk beribadah, manusiawi lah ya. Tapiii, lucky me… punya Mama yang jadi panutan. Somehow selalu ada cara Mama untuk memotivasi saya.

Bener banget sih, kalo ada apa-apa… larinya pasti ke Mama. Buat saya, Mama itu guru kehidupan banget. Mendidik dan mengajarkan saya banyak hal. Satu hal yang Mama dari kecil selalu bilang sama saya, “Jadi perempuan itu harus mandiri dan ngga gampang mengeluh.” Saya berusaha untuk melakukan apa yang Mama katakan. Sebagian orang mungkin menggeneralisasi kalau anak tunggal itu identik dengan anak manja. Tapi berkat didikan orangtua, saya justru jauh dari anak manja. Waktu SD, saya sudah punya tugas untuk menitipkan beberapa termos berisi es lilin buatan Mama ke warung-warung. SMP saya sudah “nge-kost” di rumah Nenek (karena sekolah saya jauh dari rumah). Ini Mama lakukan supaya saya tumbuh mandiri dan ngga gampang mengeluh.

Saya lihat Mama sebagai contohnya. Mama sering melakukan apa-apa sendiri karena ngga pengen bikin worry dan menyusahkan orang lain. Mama bener-bener walk the talk.

Satu hal lagi, Mama selalu ingin memberi yang terbaik buat saya sebagai anaknya. Orangtua saya bukan tipe keluarga yang menetapkan acara liburan setiap tahun. Honestly, bisa dihitung dengan jari. Tapi, satu hal yang paling ngga bisa saya lupa… orangtua saya mengajak saya menjalankan ibadah hajji.

Mama juga orangnya tabah banget. I love her even more. Sebagai anak, saya pastinya belum bisa membahagiakan Mama… tapi at least saya ngga mau bikin Mama susah.

Momen Ramadhan ini bener-bener jadi refleksi buat saya mengingat apa yang udah Mama lakukan untuk saya. Pengeeen banget bisa sedikit membalas kebaikan Mama, membahagiakan Mama. Inget kan cerita saya tentang Martabak Keju dan Cinta Dalam Sepotong Kue Keju? Dulu Mama mengajarkan saya untuk membuatnya. Idul Fitri tahun ini, saya ingin membuat hantaran spesial untuk orangtua dengan membuat Kue Keju dan Martabak Keju.

Saya mengajak kedua anak saya membantu saya membuatnya. Seru juga sih di dapur. Anak-anak pastinya lebih memilih untuk main lego daripada membantu saya di dapur. Tapi dengan trik membuat mereka serasa jadi Chef andal, mereka semangat juga membantu saya membuat hantaran spesial Idul Fitri untuk Mama tercinta.
Yup, setelah jadi… kue-nya memang far from perfect. Tidak sebagus yang Mama buat. Tapi saya yakin Mama pasti tahu kok kalau saya dan anak-anak membuatnya dengan cinta.

Ngga harus nunggu Hari Ibu kan untuk berterima kasih sama Mama? Idul Fitri ini bisa jadi momen kita untuk berterima kasih dan membahagiakan orangtua tersayang. Banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai rasa terima kasih kita terhadap orangtua. Mengobrol dengan orangtua tanpa terganggu update status di sosial media, misalnya. Hal-hal kecil apapun yang datang dengan ketulusan pasti akan diapresiasi oleh orangtua kita.

Semoga Indahnya Memberi Cinta di Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini menjadi kebahagiaan buat kita semua ya. Let’s do something nice for our parents.

TUM Breastfeeding Month 2015

By July 8, 2015 the urban mama
BFS_Instagram

Agustus artinya… World Breastfeeding Week! Dan ini artinya acara tahunan TUM juga datang lagi.
Tahun ini, The Urban Mama kembali mengadakan TUM Breastfeeding Month dalam rangka mendukung World Breastfeeding Week. Selama bulan Agustus, semua tentang breastfeeding akan menjadi tema besar di TUM. Nah! Penting nih buat mama-mama yang menyusui!

TUM Breastfeeding Month 2015 mendukung tema WBW 2015 yaitu Breastfeeding and Work, Let’s Make It Work!
Ada dua nara sumber yang akan hadir di TUM Breastfeeding Month yaitu #TUMExpert Anna Surti Ariani dan Fatimah Berliana Monika.

Anna Surti Ariani yang lebih akrab dipanggil Nina, adalah psikolog yang memiliki minat besar terhadap dunia keluarga. Meraih gelar Sarjana Psikologi dari Universitas Indonesia pada tahun 1999 dan lulus sebagai Psikolog melalui Program Pendidikan Profesi Psikolog UI tahun 2001 dan kembali menuntaskanProgram Magister Ilmu Psikologi Peminatan Psikologi Perkembangan di tahun 2011 di Universitas Indonesia.

Fatimah Berliana Monika adalah Konselor Laktasi & La Leche League (LLL) Leader of Rochester South NY, US. Lulusan S1 Fakultas Teknik Sipil&Perencanaan ITB & S2 Magister Manajemen Universitas Indonesia, yang merupakan penulis Buku Pintar ASI dan Menyusui adalah #TUMExpert yang rutin menulis artikel mengenai breastfeeding di TUM.

Mama Nina akan membahas ‘Sukses Menyusui Dengan Trik-trik Psikologis.’

Mama Monik akan memberikan ‘Tips dan Trik Sukses Memerah & Ruang Laktasi’.

Acara TUM Breastfeeding Month 2015 akan dilaksanakan pada:
Sabtu 8 Agustus 2015
Tempat: Landmark Tower No. 1, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, DKI Jakarta 12190, Indonesia.
Waktu: pkl 10.00 – selesai
HTM: Rp 100.000 (single)/ Rp 150.000 (couple – suami istri).

Nah, siap-siap deh untuk registrasi di event keren dengan dua nara sumber yang oke banget ini! Registasi segera di buka di http://theurbanmama.com/events!

Berubahlah Untuk Hemat

By July 6, 2015 daily living
berubahlah untuk hemat

Dulu sih waktu masih single mana kepikiran buat hemat. Well… ya hemat sih tapi ngga hemat-hemat banget *eh gimana sih!* :D Tapi semua berubah setelah nikah. Ingeeet banget waktu itu baru nikah dan masih tinggal di Abidjan, nonton Oprah dengan bintang tamu David Bach yang ngobrolin tentang Latte Factor.

Ada yang belum familiar dengan Latte Factor?

The Latte Factor® is based on the simple idea that all you need to do to finish rich is to look at the small things you spend your money on every day and see whether you could redirect that spending to yourself. Putting aside as little as a few dollars a day for your future rather than spending it on little purchases such as lattes, bottled water, fast food, cigarettes, magazines and so on, can really make a difference between accumulating wealth and living paycheck to paycheck.

Coba, sekarang liat deh pengeluaran yang sebenarnya bisa kita kurangi untuk menghemat dan pengeluaran itu bisa kita alokasikan buat masa depan kita nanti.

Kalo saya sekarang:
1. Kemana-mana selalu ada botol minum berisi air mineral di dalam tas. Jadi ngga perlu beli air mineral kalo pergi-pergi, kecuali memang kurang.
2. Kalau nganter anak les (kan sampe sore tuh), karena suka ngopi… saya juga bawa tumbler berisi latte, favorit saya. Dulu iya suka beli di kafe, harganya sekitar 30-40 ribu kan? Sekarang? Saya beli mokapot dan bikin latte-nya sendiri di rumah. Jadi bawa tumbler berisi kopi plus air mineral juga.
3. Pakai bus transjakarta untuk transportasi atau kalau mau ke mall yang dekat rumah, lebih milih jalan kaki.
4. Di rumah, kalau ngga pakai… kabel listrik ngga perlu terhubung dengan socket listrik. Jadi sebaiknya dicabut.

Kalau lihat pattern pengeluaran keluarga di bulan Ramadhan, biasanya pengeluaran malah lebih heboh. Ngaku deh! Iyaaa kaaan? Beli ini itu buat buka lebih dari pengeluaran di bulan Ramadhan. Belum lagi pengeluaran-pengeluaran lain di luar makanan. Tagihan-tagihan juga biasanya ikut naik. Yang kerasa paling hits sih tentunya tagihan listrik!

Nah, udah denger kan kalo pakai lampu Philips LED kita bisa menghemat energi hingga 85% dibandingkan bola lampu tradisional? Nah, bulan lalu… saya ganti semua lampu di rumah dengan lampu Philips LED. Pertama, yang paliiing saya suka dari lampu Philips LED ini adalah ngga perlu gonta ganti dalam waktu yang singkat seperti bola lampu tradisional karena Philips LED ini tahan hinggal 15 tahun. Plus, satu hal yang penting cahaya terang bernuansa putih alaminya nyaman untuk mata.

Dan tagihan listrik rumah bulan ini datang… Wow! Proven! Tagihan listrik berkurang, jauuuh lebih hemat dibanding bulan sebelumnya ketika rumah belum menggunakan lampu Philips LED. Nice! Happy banget deh! Apalagi ya itu tadi, pengeluaran di bulan Ramadhan biasanya lebih tinggi, eh! ketolong banget dengan turunnya tagihan listrik. Alhamdulillah. Satu Latte Factor bisa berkurang.

Jadi kesimpulannya sih berubahlah untuk hemat. Kalo ngga berubah, neraca keuangan keluarga bisa lebih berat ke arah pengeluaran. Mungkin bisa diterapkan salah satu dari hal-hal yang saya lakukan untuk mengurangi pengeluaran. Share juga yuk di twitter dengan hashtag ini #BerubahlahUntukHemat kalau ada beberapa ide untuk menghemat pengeluaran.

Nah yang seru ini niiih… di Facebook Philips Berbagi Terang ada kuisnya! Tinggal berbagi ide gimana kita menghemat tagihan listrik di rumah selama bulan Ramadhan pada kolom komentar dengan hashtag ‪#‎PhilipsLED‬. Ada paket 10 lampu Philips LED gratis untuk 5 orang yang beruntung setiap minggunya. Ikutan yuk! Masih keburu loh buat ikutan.

Yang pasti sih thanks to lampu Philips LED yang udah bikin tagihan listrik saya lebih hemat.

Martabak Keju

By July 3, 2015 daily living

Tahun ini, Ramadhan hadir bertepatan dengan libur sekolah anak. Meski bukan puasa pertama bagi anak-anak, tetap saja awal-awal saat melaksanakan puasa cukup jadi tantangan buat mereka. Oh ya, seperti yang saya ceritakan di post sebelumnya, tahun ini Arza mulai full puasa dan semangat menjadi imam sholat. Bagi saya, Ramadhan tahun ini alhamdulillah menyenangkan lebih dari biasanya karena aktivitas bersama anak-anak jadi lebih banyak di libur sekolah ini.

Senang sih kalau lihat sikap anak-anak terhadap Ramadhan. Kalau dibandingkan saya waktu kecil, mereka jauuuh lebih baik daripada saya. Rasanya saya tidak berpuasa full dari kelas 1 deh. Masih ada sedikit memori yang nempel kalau waktu saya kecil, haus sedikit… minta berbuka. Rasanya kelas 2 atau 3 saya mulai bisa puasa full. Anak-anak saya jauh lebih tangguh daripada saya kecil.

Nah dulu yaaa… waktu kecil kalau puasa tuntutannya banyak. Minta dibuatkan makanan kesukaan sama Mama, udah pasti. Pengen es campur lah, pengen pisang goreng pakai keju, pengen puding cokelat, mau banana split… segala macam deh disebut. Satu hal yang saya ingat, Mama ngga pernah nolak. Mama selalu mengabulkan permintaan saya. Padahal kalau dipikir-pikir, pasti ribet yaa bikin makanan based on request saya yang mendadak. Pernah lagi puasa specifically pengen banget martabak keju tapi harus mama yang buat, ngga boleh beli. Du-uh! Masih inget deh sore itu Mama langsung pergi jalan kaki untuk beli semua bahannya. Kalo inget itu, asli deh… nyusahin banget yaah sayaaa :'( Padahal kalo mau kan praktis tinggal beli aja. Mungkin karena saya suka momen pas bikin martabak keju itu sama Mama. Saya bantu menyerut keju Kraft untuk taburannya sementara Mama membuat martabaknya. Itu. Momen itu. Ngga ada gantinya.

Tapi namanya orangtua, beneran ya banyak berkorban buat anak-anaknya. Mungkin Mama capek tapi ngga pernah kedengeran bilang ngga. Yang paling saya inget, dapur wangiii banget sama martabak keju buatan Mama.

Yah kalo nyusahin, saya pasti banyak nyusahin Mama deh. Inget dulu waktu masih SMA, pulang telat beberapa kali ngga ngabarin ke rumah karena keasikan sama teman-teman. Kebayang kan waktu dulu belum ada handphone. Mama sering khawatir sama saya sebagai anak satu-satunya.

Dan seperti yang saya bilang di blog post yang ini, semua jadi beda ketika kita sendiri udah jadi orangtua. Sekarang saya lebih mengerti dan apa yang Mama lakukan buat saya itu sebenarnya seperti nasihat melalui perbuatan. Walk the talk. Ngga cuma teori aja tapi Mama melakukannya. Dan itu tertanam di benak saya sampai sekarang. Duh! Ingin sekali membalas semua kebaikan Mama.

Makanya sekarang, anak-anak berpuasa dan mereka ada request makanan tertentu untuk berbuka, sebisa mungkin saya membuatkannya, kan sudah Mama contohkan dengan jelas waktu saya kecil. Sebenarnya menyenangkan juga karena mereka suka maksa untuk “membantu” (oh yaa… dua anak cowok yaaa :D ngga usah ditanya deh tepung bertebaran di lantai). Hari ini anak-anak request minta dibuatkan Martabak Keju.

Martabak Keju
Bahan-bahan:

    250 gr tepung terigu serbaguna.
    400 ml susu cair.
    1 butir telur.
    30 gr gula castor.
    ½ sdt baking soda.
    ½ sdt garam.
    Gula pasir untuk taburan.

Cara membuatnya, bisa dilihat di sini ya. Kalau sudah matang, diangkat… oles margarin dan serutan keju. Yummm! Enak banget deh!

Saat anak-anak membantu memarut keju, Mama menelepon. Update keadaan kami masing-masing. Saya bilang kalau sedang membuat martabak keju persis seperti yang saya dan Mama lakukan dulu. Mama tertawa dan request minta saya buatkan juga kalau mudik lebaran ke Bandung. Ah! Pasti! Percakapan di telepon ditutup dengan saya mengucapkan terima kasih pada Mama atas segala yang sudah Mama lakukan pada saya. Ngga pernah ada kata terlambat kan untuk mengucapkan terima kasih pada Mama? :)

Semoga saya bisa membalas segala kebaikan Mama meski yakin apa yang saya lakukan ngga sebanding dengan pengorbanan Mama buat saya. Love you, Mama!

Cinta Dalam Sepotong Kue Keju

By June 29, 2015 daily living
Kue Keju 88

Pengakuan.
Saya tuh gampang banget terharu dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan orangtua. Nonton film tentang hubungan anak dan orangtua, nangis. Baca do’a orangtua juga udah pasti bikin mata basah. Setiap selesai sholat, do’a orangtua ini do’a wajib yang dibaca. Begitu juga buat anak-anak, selesai kami sholat berjama’ah, saya minta Alde dan Arza bergantian memimpin untuk membaca do’a untuk orangtua sekaligus artinya.

“Ya Allah, ampunilah dosaku… dan dosa ayah ibuku. Sayangilah kedua orangtuaku, seperti mereka menyayangiku di waktu kecilku.”

Yah, semuanya memang beda sih setelah status kita yang dulu jadi anak sekarang jadi orangtua. Kita jadi lebih merasakan gimana sepatu yang mereka pakai.

Di bulan Ramadhan ini, ngga usah ditanya deh gimana suasana hati kalau sedang memanjatkan do’a buat orangtua. Bawaannya kangen terus, inget semua jasa yang mereka lakukan untuk saya terutama Mama. Waktu kecil, Mama yang mengajari saya mengaji di rumah. Setiap maghrib, Mama sabaaar banget sama saya karena kayaknya saya ngga terlalu cepet bisa :D Tapi ya itu yaa, stok sabar Mama tuh emang ngga ada habisnya. Saya akhirnya bisa dan lancar mengaji. Peranan Mama ngga berhenti sampai di situ, Mama juga memasukkan saya ke madrasah yang ada di dekat rumah. Mama suka menemani saya ke madrasah untuk terus belajar mengaji.

Kebiasaan Mama pada saya waktu kecil ini saya lanjutkan juga pada anak-anak. Setiap habis magrib, pasti ada sholat berjama’ah di rumah. Kalau dulu, Alde yang menjadi imam, sekarang Arza malah meminta sendiri untuk jadi imam. Awalnya sih Arza ngomel-ngomel saat sholat Tarawih karena belum terbiasa sholat 11 rakaat, tapi lama-lama justru Arza lebih tenang mengikuti sholat berjama’ah. Setelah sholat biasanya kami mengaji bersama. Persis seperti yang Mama ajarkan pada saya dulu.

Karena posting tentang Indahnya Memberi Cinta jadi kepikiran buat bikin kue keju untuk Lebaran ini. Kayaknya wajib hukumnya ngga sih kalo Lebaran itu ada kue keju? :D Itu salah satu kue yang selalu saya cari juga. Bagi saya, Lebaran dan kue keju itu udah kembar identik deh!

Minggu ini adalah detik-detik terakhir menjelang libur panjang sekolah. Anak-anak ke sekolah dengan lebih banyak porsi kegiatan amaliah Ramadhan dan pulangnya pun lebih cepat. Pas banget lah yaaa ngajak mereka bikin kue keju. Saya juga pengen mereka punya memori yang sama dengan saya. Waktu kecil membantu Mama membuat kue keju. Anak laki-laki juga harus bisa dong turun ke dapur. Lucky me, Alde dan Arza memang suka membantu saya di dapur. Meski yaaa… heboh ya udah pasti kalau mereka “membantu”. :D

Bikin kue keju sama 2 anak laki-laki? Well… hebohnya udah pasti. Tapi harus dibikin fun dong yaaa. Jadi kesempatan lah buat saya sok jadi juri ala masterchef. Alde dan Arza semangat banget. Seneng. Ngga usah mikirin deh tepung yang nyasar di sana sini termasuk di muka mereka. Yang penting fun. We’re making memories.

Oh ya! Resep kue kejunya bisa ngintip di sini. Pake keju Kraft Cheddar, gampang kan nyarinya di supermarket.

Akhirnya kue keju selesaaai! Nyoba mengimitasi bentuk kue keju buatan Mama, angka 8. Kata Alde sih itu bukan kue keju 8 tapi kue keju infinity :) Aaah Aldeee :’)

Oh ya… Hampir setiap hari saya update tentang anak-anak pada Mama, termasuk kegiatan membuat kue keju ini. Saya juga cerita kalau Arza sekarang sudah bisa menjadi imam sholat. Mama ternyata senang mendengarnya. Saya juga cerita kalau anak-anak rutin mengaji setelah sholat Magrib, seperti yang Mama ajarkan pada saya dulu.
Mama bilang kalau libur Idul Fitri di Bandung nanti, Mama ingin Alde atau Arza yang menjadi imam sholat di rumah. Saya sangat berterima kasih karena semua ini bisa karena Mama. Mama memberikan teladan dan nasihat dengan perbuatan, saya melihatnya.

Adzan maghrib berkumandang… dan akhirnya kesempatan untuk mencoba kue keju itu datang. Ada dua tangan kecil yang berebut masuk toples meraih kue keju. Anak-anak duduk di samping saya sambil menikmati kue keju. “Enak Maaa!” Saya tersenyum sambil meraih kue keju dari toples. Kue keju ini selalu mengingatkan saya pada Mama. Bener ya yang orang bilang, kerasa kalau bikin sesuatu pakai cinta. Indahnya memberi cinta. Ah! Bener kaaan mata saya basah lagi karena kangen Mama.

Momen sama anak-anak ini indah banget rasanya. Sholat berjama’ah, mengaji, dan membuat kue. Semua ini karena Mama. Kalau dulu saya ngga diajarkan semua ini sama Mama, mungkin saya ngga bisa menikmati momen ini. Jadi inget rasanya meski hati berterima kasih tapi saya ngga terlalu sering mengucapkan itu pada Mama. Ramadhan ini mengingatkan saya, untuk lebih sering mengucap itu pada Mama. Sebagai orangtua saya juga, saya yakin hal-hal yang sederhana juga sudah bikin Mama bahagia. Lebaran ini, pulang ke Bandung, saya akan mengajak anak-anak untuk membuat kue keju untuk Mama. Sebagai ungkapan terima kasih saya untuk Mama yang sudah dengan indahnya memberi cinta.

Ramadhan di The Urban Mama

By June 28, 2015 the urban mama
ramadhan di the urban mama

Alhamdulillah tahun ini kita semua diberi kesempatan untuk bertemu lagi dengan bulan penuh rahmat dan ampunan, Ramadhan. Tentunya bagi urban Mama Papa yang beragama Islam, bulan ini sangat kita tunggu. Ngga tau kenapa yaa tapi bagi saya, there is something about Ramadhan. Rasanya beda banget. Agung.

Ramadhan tentunya jadi ajang anak-anak belajar untuk menjalankan ibadah puasa. Anak sulung saya, Alde, sudah full puasa sejak kelas 1 (tapi masih sering bilang kalau dia tidak tahan haus). Sekarang adiknya, Arza, yang akan masuk SD mencoba untuk berpuasa. Segala cara deh dilakukan agar puasa menjadi hal yang menyenangkan dan membuat mereka semangat. Tantangannya sih pastinya saat sahur. Rata-rata penuh perjuangan untuk membangunkan mereka. Oh! Kadang mata mereka masih terpejam saat sahur… dan karena anak saya dua-duanya laki-laki, yang sulung mendapat tugas untuk menjadi imam saat sholat berjama’ah di rumah.

Di bulan suci Ramadhan ini, TUM juga kembali dengan program Ramadhan yang sudah rutin kami lakukan yaitu #TUMBid2Share. Di Ramadhan ini, #TUMBid2Share mendapat dukungan penuh dari Mothercare Indonesia dan ELC (terima kasih banyaaak!) dimana hasil bidding-nya 100% akan didonasikan melalui Yayasan Tunas Cendekia.

Kegiatan rutin selain #TUMBid2Share yang kami lakukan di bulan Ramadhan adalah #TUMBukBer, buka bersama di Panti Asuhan, berbagi sedikit kebahagiaan dengan anak-anak yang ada di salah satu panti asuhan Bogor.

Nah, selain dua program Ramadhan TUM di atas, tahun ini ada program baru yang kami jalankan yaitu #mariLUAS #MamaRunnersRamadhan. TUM berkolaborasi dengan komunitas lari terbesar di Indonesia yaitu IndoRunners mengadakan Lari Untuk Amal Sosial. Kami berkomitmen untuk menyerahkan donasi Rp 20.000.000 untuk Rumah Bersalin Gratis (RBG) Rumah Zakat. Sebagai urban Mama, kami sadar dengan kenyataan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan di Indonesia masih sangat tinggi. Oleh karena itu, semoga dengan menyebarkan awareness ini melalui program #mariLUAS #MamaRunnersRamadhan, AKI bisa menurun dan kepedulian kita semakin meningkat. Selain itu, program #mariLUAS #MamaRunnersRamadhan ini juga penting untuk tetap mengajak urban Mama Papa berolahraga di bulan Ramadhan karena bulan Ramadhan bukan pantangan untuk tidak berolahraga tetapi kita harus menyesuaikan diri untuk memilih olahraga yang ideal dan waktu yang pas untuk melakukannya agar kita tetap aktif melakukan aktivitas fisik.

Marhaban ya Ramadhan. Semoga Ramadhan tahun ini lebih indah dari sebelumnya. Semoga limpahan rahmat dan ampunan dari Allah SWT tercurah bagi kita semua. Amin.

Titik Balik Musisi Hijrah

By June 24, 2015 thoughts

Hari Minggu lalu, saya menyalakan TV dan browsing sampai akhirnya berhenti di Metro TV. Acara Selayang Pandang, Fifi Aleyda Yahya. Temanya tentang musisi hijrah. Menarik banget! Pas saya lihat, sudah bagian pertengahan saat nara sumber Reza eks Noah sharing tentang hijrahnya. Berhenti jadi musisi dan lebih fokus untuk urusan agama.

Menyimak perjalanan spiritual seseorang itu buat saya selalu menarik. Apa yang menjadi titik baliknya.

Di Selayang Pandang, setelah Reza yang dulunya drummer band Noah, ada Muhammad Beery Al-Fatah, atau yang lebih dikenal dengan Beery Manoch/Berry Manoch atau Beery Saint Loco. Beery ini salah satu vokalisnya (rapper aka MC). Muallaf sejak 23 Februari 2015. Menarik banget menyimak titik baliknya. Sampai saya googling dan baru tahu kalau 18 Juni lalu, Beery pernah berbagi juga di acara Titik Balik Trans 7. Beery hadir di acara dengan tampilan “orang biasa” menggunakan kemeja.

Interesting menyimak perjalanan Beery karena somehow saya lihat, jujur, tulus, dan sederhana. Yang dicari cuma kebahagiaan dan kedamaian.

Segitu berartinya apa yang saya lihat, bagaimana Beery di acara tersebut bilang kalau dirinya merasa rendah ketika mendengar suara adzan dan menangis ketika berdzikir. Beery bilang, “Sebetulnya hal-hal yang basic sih tapi bener kok saya ngerasain sendiri.” Somehow, hal-hal yang basic itu terkadang terlupakan oleh saya yang sejak lahir muslim.

Anyway…
Mungkin bagi saya penting sampai saya post di blog sendiri tentang Beery Manoch ini. I know mungkin there’s no chance untuk dia baca ini but anyway… Terima kasih ya Mas Beery, sudah mengingatkan saya. Allah Maha Baik. Nikmat mana yang kita dustakan?

Bahagia dan damai. Itu saja yang kita cari.